Kapolda Aceh Bicara Blak-blakan di Acara Aceh Sepakat

BANDA ACEH – Kepala Polda Aceh Inspektur Jenderal Iskanda Hasan menyampaikan secara blak-blakan tentang keberpihakannya kepada keamanan dan penegakan hukum di Aceh. Semua dijelaskan secara terus terang.

Penjelasan Kapolda yang blak-blakan ini terjadi karena ada peserta seminar yang bertanya tentang kemampuan dan keberpihakan Polda Aceh dalam memberi keamanan bagi rakyat khususnya di masa Pilkada. Kapolda juga ditanya soal penanganan kasus korupsi di Aceh, yang menurut peserta Aceh urutan kedua dalam hal korupsi.

Menurut Kapolda, terkait penangganan korupsi yang jauh lebih penting adalah adanya tekat dari pemerintah daerah untuk bersama-sama Muspida guna duduk bersama membicarakan masalah pemberantasan korupsi di Aceh. Sayangnya, kata Kapolda, pemerintah Aceh yang lalu tidak pernah melakukan ini. "Sejak saya menjabat saya tidak pernah diundang untuk duduk bersama dengan pemeringah daerah. Baru sekarang saya melihat ada upaya untuk itu," kata Kapolda Aceh.

Kapolda Aceh juga menyatakan sangat konsern dengan pemberantasan korupsi di Aceh. "Penanganan korupsi di Aceh Utara adalah contoh kasus dari seriusnya penangganan korupsi di Aceh. Kami juga perhatian dengan kasus CT-Scan. "Masalahnya kami masih menunggu limpahan dari Polri saja," katanya.

Menurut Iskandar Hasan, sebagai Kapolda ia sudah berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik. "Berbeda dengan cara-cara polisi dulu di zaman konflik yang mengedepankan curiga. Sekarang polisi sudah berubah. Kami menggunakan pendekatan persuasif untuk mencapai hasil," kata Kapolda saat menerangkan soal penangganan senjata ilegal yang kerap turun ke kampung-kampung.

Mantan Kapolres di Aceh Utara itu juga menerangkan tidak perlu menggunakan mobil berbunyi "weng-weng" untuk ke rakyat di desa-desa. Kapolda Aceh itu mengatakan bahwa yang ingin dicapainya bukanlah ketenaran melainkan Aceh aman dan damai. "Saya yakin, jika saya datang dengan persuasif atas nama saudara maka saya akan mendapat hasilnya, seperti penyerahan senjata yang masih ada di masyarakat," katanya.

Terkait susahnya penanganan senjata ilegal, menurut Kapolda, itu karena pada zaman konflik tidak jelas data soal berapa banyaknya sebenarnya senjata yang ada. Jadi bisa dimaklumi manakala mengalami kesulitan dalam penanganannya.

"Itulah kenapa saya senantiasa mendekatkan diri ke semua pihak agar saya bisa mengetahui polanya, sejarahnya, sehingga saya juga bisa melakukan apa yang sebaiknya," kata Kapolda Aceh yang sangat yakin jika rakyat Aceh sejahtera pasti senjata yang mungkin masih ada akan diserahkan dengan sendirinya.

Memang apa yang dilakukan oleh Kapolda Aceh itu tidak selalu bisa menyenangkan semua orang. "Ya, jika ada yang curiga ke saya ya mau bagaimana. Fokus saya tetap pada keamanan dan perdamaian Aceh," kata Kapolda Aceh.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply