Kapan pemuda Aceh mandiri?

PERTANYAAN ini muncul dari sebuah percakapan warung kopi di salah satu sudut Kota Banda Aceh, beberapa Minggu lalu. Pertanyaan itu jugalah yang akhirnya melahirkan tulisan ini.

Bermula dari sebuah warung kopi, percakapan ringan yang awalnya hanya bertujuan untuk mengisi malam yang kelam, berubah jadi perdebatan sengit dan adu argumen yang belum ada titik temu.

Paling tidak bagi kami malam itu. Pertanyaannya gampang. Kapan pemuda Aceh mandiri? Atau sudah mandirikah pemuda Aceh?

Penguatan masalah dari pertanyaan ini adalah banyaknya pemuda usia produktif di Aceh yang masih jadi pengangguran.

Mengutip pemberitaan dari salah satu media online nasional dan atjehpost.com, bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mencatat jumlah pengangguran di Aceh tahun ini meningkat 13 ribu orang.

Ini akibat minimnya lapangan kerja, sementara angkatan kerja terus bertambah. Tamatan SMA mendominasi angka pengangguran.

"Pengangguran pada Februari 2013 mengalami peningkatan sekitar 13 ribu orang dibandingkan keadaan Februari 2013 sebesar 165 ribu orang," kata Kepala BPS Aceh, Hermanto di Banda Aceh, Selasa 7  Mai 2013 lalu, seperti dikutip oleh dua media online terbesar tersebut.

Menurut berita itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPK) di Aceh per Februari lalu mencapai 8,38 persen dari 5 juta jiwa penduduknya. Angka ini naik 0,50 persen dari TPT Februari 2012.

Nah,pertanyaannya mengapa hal ini terjadi?  Itu persoalan yang pertama.

Sedangkan persoalan yang kedua adalah meningkatnya angka kriminalitas di Aceh. Pelakunya juga rata-rata berusia muda. Apakah ada hubungannya antara pengangguran dengan tingginya angka kriminalitas?

Jika kita menjawab iya, berarti akal persoalan di Aceh saat ini adalah lapangan kerja.

Bagi sebahagian besar orang, ketika persoalan ini dipaparkan, termasuk kami yang membahas persoalan ini pada waktu itu, maka ujung-ujung pembahasan adalah menyalahkan sikap pemerintah yang tidak kunjung mendatangkan investor ke Aceh untuk membuka lapangan kerja.

Jujur, hal inilah yang selalu muncul dari tiap diskusi. Maka muncul lagi pertanyaannya lain. Benarkah demikian? Maka hal inilah yang coba saya luruskan di sini.

Coba kita kilas balik dengan apa yang dimiliki oleh Aceh saat ini. Perlu diketahui, bahwa Provinsi Aceh saat ini adalah daerah yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) terkomplit yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Area persawahan yang ada di Aceh sangat luas. Demikian juga dengan perkebunan, hutan dan laut yang luas. Tanah Aceh juga sangat subur juga mampu menumbuhkan semua jenis tanaman produksi.

Sayangnya, faktor pendukung ini ternyata tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bukannya  salah pemuda ataupun Pemerintah Aceh, namun hanya faktor berfikir kita saja yang masih salah.

Harus diakui, baik masyarakat kota dan desa saat ini memiliki kesalahan persepsi yang sangat besar dalam mendeskipsikan apa itu pekerjaan. Mayoritas masyarakat masih berpikir bahwa pekerjaan itu ‘hanya’ saat seseorang menjadi PNS, TNI, Polri serta honor di lembaga pemerintahan.

Sedangkan pemuda yang berkerja di sawah, berkebun di hutan serta melaut dianggap sampingan.

Akibat persepsi ini yang berkembang, minat pemuda yang ingin berdirikari menjadi kurang. Keberadaan sawah, hutan serta laut Aceh jadi terlantar dan dimanfaatkan oleh pendatang atau perusahaan asing.

Pemuda Aceh akhirnya beramai-ramai keluar daerah untuk menjadi buruh atau kuli bangunan dengan gaji di bawah rata-rata. Akhirnya saat pendataan BPS tiap tahunnya angka pengangguran menjadi tinggi.

Solusinya menurut saya, mari sama-sama kita ubah pola pikir yang seperti ini. Selain itu juga menjadi wiraswasta sebagai trending baru di kalangan masyarakat. Anggapan profesi tani dan melaut sebagai pekerjaan kelas bawah juga harus dihilangkan sehingga antusias masyarakat untuk memanfaatkan lahan di Aceh kembali tumbuh.

Masyarakat perlu di didik untuk berwiraswasta. Pemahaman bisa diubah melalui pendidikan. Konsep sekolah umum dan tingginya jenjang pendidikan perlu ditinjau ulang. Sedangkan sekolah kejuruan dan pendidikan keterampilan perlu dikembangkan lebih serius lagi.

Pemerintah Aceh harus lebih tegas dalam konsep pembangunan, terutama SDM. Jadi pemuda, jak tajak u blang serta memanfaatkan tiap jengkal tanah kita yang subur ini.

Penulis adalah warga Lueng Putu, Pidie Jaya serta mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pemuda Pidie Jaya (IMPIJA).

  • Uncategorized

Leave a Reply