Kala Dinas Membidik Travel Writer

SEJAK pukul delapan pagi, satu persatu peserta mulai memasuki meeting room Darul Imarah di The Pade Hotel, Jumat pekan lalu. Mereka berjumlah tiga puluh orang dan semuanya pemuda-pemudi yang masih berusia di bawah 30 tahun. Wajah mereka terlihat ceria dan sumringah, juga penampilan yang serba rapi.

Mereka adalah sekelompok anak muda di Banda Aceh yang selama tiga hari berturut-turut menjadi peserta workshop jurnalistik berbasis budaya dan wisata. Kegiatan ini dibuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh. Selain dari kalangan individu, anak-anak muda itu juga berasal dari beberapa komunitas yang ada di Banda Aceh.

Become a Travel Writer”, itulah tema yang diangkat dalam event jurnalistik yang dibuat untuk pertama kalinya oleh Disbudpar Banda Aceh itu. Ini merupakan terobosan baru untuk meningkatkan stimulasi warga Banda Aceh, khususnya anak-anak muda dalam meningkatkan promosi wisata dan budaya yang ada di ibu kota Provinsi Aceh ini lewat media literasi.

Pemerintah kota lewat dinas terkait tampaknya menyadari benar, sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh tentunya menjadi salah satu daerah tujuan terbesar di Aceh. Karena itu, promosi lewat mulut ke mulut saja tentunya tak akan cukup untuk menceritakan berbagai keunikan dan potensi kota ini.

“Workshop ini merupakan usaha pemberdayaan bagi kaum muda untuk meningkatkan budaya menulis khususnya di bidang wisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh. T. Samsuar, dalam sambutannya. Kegiatan ini kata Samsuar, direncanakan akan dibuat berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

Sejumlah pembicara berkompeten di bidang masing-masing sengaja dihadirkan untuk mentransformasikan ilmunya kepada para peserta. Dari ranah jurnalistik misalnya, ada nama mantan Redaktur Pelaksana VIVA.co.id, sekaligus anggota Dewan Pers Indonesia Nezar Patria; Pemimpin Redaksi atjehpost.com Yuswardi A. Suud dan Direktur The Atjeh Times Nurlis E. Meuko.

Selain itu juga ada fotografer majalah The Atjeh dan Associated Press Heri Juanda, serta pengelola website media warga Kompasiana Iskandar Zulkarnaen, untuk topik khusus terkait perkembangan sosial media.

Di luar kalangan jurnalis, ada Sales Manager The Pade Hotel, Guslina; Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Disbudpar Aceh Irmayani dan Kepala Disbudpar Banda Aceh, T. Samsuar. Tiga pemateri terakhir ini lebih banyak mengupas mengenai pentingnya promosi wisata dan pentingnya infrastruktur untuk menopang sebuah kawasan destinasi wisata.

+++

IBU kota Provinsi Aceh ini memiliki lima puluh lebih objek wisata yang tersebar di sembilan kecamatan di Banda Aceh. Di antaranya adalah objek wisata sejarah, budaya, religi, kuliner, tsunami dan kawasan pantai. Bahkan untuk objek wisata tsunami, Banda Aceh menjadi satu-satunya kota di Indonesia bahkan dunia yang memilikinya. Namun belum semua dari objek wisata tersebut terpublikasikan secara maksimal.

“Karenanya dengan pelatihan ini diharapkan para peserta bisa menuliskan Banda Aceh dengan tulisan yang indah, foto yang artistik, dan rekaman video yang futuristik sehingga orang-orang terutama dari luar Banda Aceh tertarik berkunjung ke sini,” ujar Asisten Bidang Keistimewaan dan Ekonomi Pemko Banda Aceh, Ir. Bahagia, dalam sambutannya mewakili Plh Wali Kota Banda Aceh.

Ia juga menyinggung mengenai pesatnya perkembangan teknologi informasi, yang ditandai dengan banyaknya pengguna jejaring sosial. Bahkan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir katanya, masyarakat mulai akrab dengan citizen journalism atau jurnalisme warga.

Apa yang dipaparkan oleh Bahagia, secara spesifik dijelaskan oleh Iskandar Zulkarnaen lewat topik “memaksimalkan promosi wisata lewat sosial media”. Saat ini katanya lebih dari 3,5 miliar penduduk bumi terhubung dengan sosial media. Di Indonesia sendiri, dari 10 website paling populer, sembilan di antaranya adalah sosial media.

Fenomena boomingnya media sosial kata mantan wartawan Kompas.com itu, telah dimanfaatkan oleh penggunanya untuk menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Tak terkecuali informasi-informasi mengenai perkembangan potensi wisata di suatu daerah. Dengan adanya media sosial menjadikan media mainstream kini bukan lagi satu-satunya sumber pemberi informasi kepada masyarakat.

“Media sosial memiliki jangkauan yang sangat luas, dunia menjadi datar karenanya,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, diprediksi tahun 2021 nanti citizen journalism akan menguasai sekitar 50 persen berita. Itu artinya kesempatan masyarakat untuk menulis berbagai peristiwa, catatan perjalanan atau pengalaman lainnya semakin terbuka.

Belum lagi jumlah pengguna smartphone di Indonesia yang tiga kali lebih tinggi dibandingkan Amerika. Waktu rata-rata yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses internet sekitar tiga jam. Sembilan puluh persen di antaranya hanya untuk mengobrol (chatting).

Sebelumnya di ajang pemilihan Agam Inong Banda Aceh 2014 di akhir Maret lalu, selama masa karantina para finalis terpilih juga diberikan materi tentang blogging. Para duta wisata diharapkan bisa memaksimalkan promosi wisata lewat berbagai berbagai jejaring sosial dan media sosial. Dewasa ini promosi lewat mulut ke mulut dirasa sudah tak cukup efektif. Mau tidak mau para pelaku wisata, atau mereka yang peduli pada bidang ini harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Kepala Bidang Promosi Disbudpar Banda Aceh, Hasnanda Putra, selaku penanggungjawab kegiatan ini mengatakan, kini menulis perjalanan wisata memang sedang populer. Berbagai informasi tentang wisata lebih mudah ditemui di berbagai media non mainstream dalam berbagai bentuk. Karena itu menurutnya kegiatan ini menjadi penting, karena dengan banyaknya anak muda Banda Aceh yang bisa menulis maka kemungkinan untuk meningkatkan promosi wisata Banda Aceh lewat tulisan bisa semakin gencar.

Lalu, bagaimana anak muda mengoptimalkan perannya di ranah ini? Salah seorang peserta workshop, Ade Oktiviyari mengatakan jika anak muda memiliki energi dan semangat lebih untuk mengeksplorasi tempat-tempat wisata baru. Hal ini berbeda dengan para orang tua yang cenderung lebih menyukai destinasi-destinasi yang sifatnya lebih comfort.

Karenanya menurut dokter yang aktif menulis di sosial media ini, inisiatif pemerintah kota Banda Aceh melalui dinas terkait dengan merangkul anak muda merupakan langkah positif. Hal serupa juga disampaikan oleh peserta lainnya Iqbal Perdana, menurutnya kegiatan seperti ini bisa menjadi semacam batu loncatan bagi para traveler dalam mempromosikan Banda Aceh.

“Pihak penyelenggara dalam hal ini telah memberikan kami ‘alat’ karena sudah menghadirkan narasumber yang keren,” ujar mahasiswa Unsyiah ini. Blogger Aceh yang bernaung di komunitas Gam Inong Blogger ini berharap inisiatif serupa juga dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota lainnya. Dengan cara itu promosi wisata Aceh bisa menyebar secara massif.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply