Kak Ama, pendekar pemilu dari Blangpidie

NAMA lengkapnya Rahmah Rusli. S.Ag, biasa dipanggil Kak Ama. Menerawang jauh ke masa dua puluh lima tahun yang lalu ketika Kak Ama masih bersekolah di tingkatan menengah pertama. Tepat ketika mata pelajaran olahraga, Kak Ama dan kawan-kawan melakukan praktek olah raga bola voli. Dis amping belajar teknik bermain bola voli, mereka juga mengukur berat dan tinggi badan. Ketika tiba giliran Kak Ama, sang guru berkata :

“Ngapain kamu ukur-ukuran begitu Rahma! Paling juga kamu sekolah cuma sampai tamat SMP dan selanjutnya kamu tidak bisa melakukan apa-apa lagi,”

Kak Ama sangat terpukul dengan perkataan gurunya tersebut. Guru yang dia harapkan mendorong dan memupuk rasa percaya dirinya justru membanting rasa percaya dirinya dan menghilangkan semangat. Ama kecil yang memang memiliki keunikan pada tubuhnya harus melewati hari sulit tanpa semangat.

Tidak membutuhkan waktu yang sangat lama sampai Kak Ama tersadar bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan guru olahraganya itu adalah tidak benar. Kak Ama berjanji bahwa dia akan menjadi orang berguna dan akan sekolah tinggi hingga mendapatkan gelar sarjana.

“Menjadi orang yang aktif di masyarakat adalah panggilan jiwa Kak Ama, titik balik masa SMP terus berkembang hingga SMA. Awal tahun 90-an Kak Ama sangat aktif di OSIS dan kegiatan lain di sekolah,” ujarnya kepada ATJEHPOSTcom.

Panggilan jiwa itu semakin kencang melawan kondisi diri sendiri yang sungkan dan takut tidak diterima. Memasuki masa kuliah, keberanian dan percaya dirinya terus bertambah. Kak Ama bersyukur merasakan gemblengan melalui training HMI.

Dari sana dia semakin aktif berkecimpung di organisasi-organisasi kemahasiswaan. Dukungan kawan-kawan juga membuat Kak Ama yakin atas kemampuannya.  Serangkaian pelatihan telah diikuti baik di Aceh maupun di luar Aceh, di antaranya; Latihan Kepemimpinan semenjak tahun 1995 sampai 1998. Pelatihan Relawan Perempuan untuk kemanusiaan di Banda Aceh pada tahun 1999, Training TOT Gender, Training analisis gender,Training advokasi gender pada 2007 dan Seminar KDRT dan perlindungan anak pada 2010.

Perempuan yang lahir di Meudang Ara, 17 Oktober 1973 ini sekarang telah menikah dengan seorang laki-laki tampan dan baik budi bernama Syukri bin Usman. Beberapa pengalaman bekerja menjadi bukti kepercayaan masyarakat, pemerintah dan internasional atas kredibilitasnya;  menjadi koodinator pemantau pilkadasung di Aceh dengan Forum LSM Aceh pada 2006, menjadi salah seorang anggota tim kajian teknis bidang pendidikan P2DTKKabupaten Abdya pada 2008 , menjadi anggota Working Grup (TWG) UNDP/BAPPEDA Abdya.

Yang terakhir Kak Ama dipercaya menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (PANWASLU) kabupaten Aceh Barat Daya, dan baru saja berakhir masa tugasnya pada bulan November 2012 lalu.

“Panwaslu kabupaten bisa merekrut anggota panwaslu untuk tingkat kecamatan, peluang ini kakak manfaatkan dengan sebesar mungkin mengajak perempuan mengikuti tahapan seleksi. Bagaimanapun ada proses seleksi yang harus dilalui dan perempuan harus siap, jangan sampai gagal karena dokumen yang tidak lengkap. Selanjutnya kakak juga mendorong Perempuan anggota Panwaslu di Kecamatan untuk merekrut perempuan sebanyaknya menjadi petugas lapangan,”

Menjadi anggota panwaslu tidaklah mudah, karena berhadapan dengan masyarakat dan para pihak yang bersaing di dalam pemilu. Namun demikian, Kak Ama nenegaskan bahwa tantangan paling berat justru dihadapi oleh para petugas lapangan.

“Petugas Lapangan adalah orang hebat, maka perempuan yang menjadi petugas lapangan adalah orang yang sangat hebat,”

Kak Ama menceritakan bagaimana para anggota Panwaslu terutama petugas lapangan kerap mendapatkan ancaman, apakah itu ancaman dari tim sukses, para calon sendiri bahkan dari masyarakat. Kak Ama selalu menyemangati rekan-rekannya agar berani apalagi kalau berdiri ditempat yang benar.

Dengan senang hati Kak Ama mau berbagi mengenai pengalaman hidupnya, dengan harapan menjadi inspirasi bagi orang lain. Kak Ama mengundang bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi kerumahnya di  Jalan Blangpidie-Guhang, Simpang Desa Seunaloh No. 07, Blangpidie. Bisa juga menghubungi melalui telepon genggam pada nomor  08126922990 .

“Doakan saya, mudah-mudahan lolos menjadi anggota KIP Abdya ya,” Demikian sepotong harapan dari perempuan tanggung yang bangga dengan mottonya :

”Yakin usaha sampai dan kalau orang lain bisa kenapa tidak? Saya harus lebih bisa dari orang lain!”

Kak Ama menutup percakapan dengan kalimat bijak;

”Untuk pembaca , terutama perempuan, bagaimanapun kondisi yang dihadapi jangan kecil hati, harus percaya diri. Misalnya perempuan dikucilkan jangan patah. Harus yakin tiap orang diberikan kelebihan oleh allha jangan lihatkan kekurangan.”

Terimakasih Kak Ama, selamat berjuang dan tetaplah menjadi penyemangat kami.[] (ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply