Kadis Kesehatan Aceh: Gizi Buruk Tanggungjawab Kita Semua

Kadis Kesehatan Aceh: Gizi Buruk Tanggungjawab Kita Semua

BANDA ACEH – Angka gizi buruk di Aceh mencapai 30 persen dan lebih tinggi dibandingkan kasus obesitas untuk bayi tiga tahun (Batita) atau bayi lima tahun (balita). Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr M Yani kepada portalsatu.com, Sabtu, 11 April 2015.

“Dengan angka yang cukup tinggi tersebut, soal gizi buruk bukan hanya saja dilihat pada bayinya, tetapi pada ibu hamil dan masa-masa sebelum hamil,” katanya.

Menurut M Yani, permasalahan asupan gizi di Aceh ini bukan dilihat pada sektor kesehatan saja. Namun setiap sektor terlibat dan masing-masing sektor memiliki peranannya. Ia mencontohkan seperti sektor pendidikan, sektor pertanian, dan sektor pemberdayaan masyarakat.

Yani mengatakan spanting atau gangguan gizi buruk ini akibat beberapa faktor. Salah satunya adalah kurangnya ketersediaan pangan dan pengetahuan tentang pentingnya program gizi.

“Nah ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Ada saling keterkaitan antara sektor di pemerintahan, karena bidang kesehatan tidak dapat berdiri sendiri melainkan keterkaitan antar sektor di Pemerintahan Aceh,” katanya.

Ia juga menambahkan pihak kesehatan hanya menangani saat masyarakat sudah sakit. Padahal jauh sebelumnya harus dipertimbangkan terkait pangan dan pendidikan bagi ibu hamil, masa-masa sebelum hamil, dan remaja putri khususnya. Gizi buruk bukan fokus pada bayi yang telah lahir melainkan pada proses sebelumnya.

“Hal ini jangan disepelekan, sebelum terjadi kita harus bertindak. Apabila sudah mengalami gizi buruk, iya pihak kesehatan hanya mengobatinya, dan kita harus mengkhawatirkan hal ini terjadi karena mereka adalah generasi penerus ke depan,” ujarnya.

Ia mengatakan masing-masing sektor memiliki keterkaitan untuk meminimalisir angka gizi buruk di Aceh. Dia menyebutkan seperti sektor pendidikan, mulai sejak dini harus diperkenalkan pentingnya pendidikan program gizi yang baik dengan menganjurkan makanan yang sehat serta asupan zat besi yang cukup.

“Harapannya, hal ini butuh perhatian besar dari pihak Pemerintahan Aceh, dengan melakukan penanggulangan gizi buruk serta pencegahan sejak dini mulai dari remaja putri, ibu hamil, serta anak-anak yang baru lahir,” katanya.[](bna)

Leave a Reply