Ka Paloe, Buket Lam Reh Jineuk Publoe


APA KAOY: Dolah ! Kupi dua boh, cepat bawa ke mari. Jangan lupa juga ruti cane buatan Cut Kak Insyah, ya ? Mmm……, Teungku Agam. Apa kabar seulawet ini ? Lama sudah kita tak jumpa, apa kesibukan seukarang ?

AGAM AL USMANI: Saya sedih sekali hai Apa Kaoy metuah. Belakangan ini muncul suatu masalah kita bersama, yang bahwa di kawasan bukit Lam Reh Aceh Besar itu mau dibangun lapang golf oleh suatu perusahaan Cina.

APA KAOY: Baguslah itu. Berarti suatu kemajuan bagi Nanggroe kita, apalagi yang membangun itu pengusaha asing. Artinya Nanggroe kita sudah aman, sehingga orang asing berani buka usaha di Aceh. O…, jadi Teungku Agam sekarang sedang sibuk mengurus proyek itu ? Seulamat. Cok ilee sigo.

POLEM: Assalamualaikum……, (Setelah dijawab salam) Apa kaoy. Ka paloe, buket Lam Reh jineuk publoe. Apa Kaoy lalee baca beurita pulitek sabe, teuntang seujarah hana neu pakoe. Oman…, na jamee lagoe. Mumat jaroe ilee.

APA KAOY: Makanya, Polem.  Ban troh neu duek ilee, neu peusan kupi-kupi ilee. Jangan tergopoh-gopoh begitu mengabarkan sesuatu. Maat, Teungku Agam. Inilah Polem, nyang sering saya cerita kemarin sewaktu kita ngobrol deungon talipon. Polem ini memang begitu seulalu tingkahnya.

POLEM: Macam mana saya tak tergopoh-gopoh, ini kabar penting. Apakah Apa kaoy tidak tau nyang bahwa dikawasan bukit Lam Reh itulah tempatnya cikal-bakal kerajaan Aceh dahulu ? Kalau itupun dijual, mana ada lagi salah satu bukti nyang tersisa dari sejarah bangsa kita.

APA KAOY: Pue beutoi lagee nyan, Teungku Agam ? Apakah benar seperti kata Polem bahwa Lam Reh itu merupakan tempat awal mula pusat kerajaan Aceh ?

AGAM AL USMANI:  Betoi, Apa kaoy. Justru karena itulah saya,  salah seorang diantara rakyat  Aceh, merasa sangat bersedih. Itulah salah satu kesibukan saya dan ramai teman-teman lain yang tergabung dalam komunitas Masyarakat Peduli Sejarah Aceh atau disingkat dengan MAPESA, sedang berusaha memperjuangkan agar rencana pembangungunan lapangan golf di kawasan bukit Lam Reh dibatalkan. Jadi Apa Kaoy benar tidak tau sejarah Lam Reh ?

APA KAOY: Nyang tidak tau banyak tentang sejarah Aceh itu mungkin bukan hanya saya, tapi mungkin hampir sebagian besar orang Aceh itu sebenarnya tidak tau sejarah bangsanya. Salah satu bukti seperti kasus ini, tidak mungkin orang Aceh nyang di Lam Reh dan sekitarnya itu mau menjual tanah untuk dibangun lapangan golf oleh orang asing kalau mareka tau sejarah tentang tanah itu.

POLEM: Beutoi itu. Saya aja baru tau karena ada ditulis di surat haba dan media online sejak beberapa hari lalu. Kalau Apa kaoy membaca surat haba hanya tertarik berita-beurita peulitek Pilkada dan teuntang beurita-beurita artis cantek, hahaha……

APA KAOY: Polem. Itu tidak penting dibicarakan seukarang. Nyang perlu kita berpikir dan bertindak seukarang adalah kasus Lam Reh itu jangan sampai terjadi dan begitu juga terhadap bukti-bukti sejarah lainnya. Nyang ka, ka keuh. Teungku Agam, apa tindakan nyang akan dilakukan oleh MAPESA?

AGAM AL USMANI: Salah satunya kita sudah adakan pendekatan dengan Pemintah, dalam hal ini adalah pemerintah Aceh Besar, agar diupayakan pembangun lapangan golf dilokasi itu dibatalkan dan tanah dilokasi itu supaya diperjelas dan diselesaikan status kepemilikannya.Tanah di lokasi bukti sejarah itu harus dibebaskan, dibeli dari masyarakat oleh Pemerintah daerah untuk diselamatkan.

POLEM:  Teungku Agam. Orang-orang MAPESA itu siapa saja, apa saya boleh ikut ?

AGAM AL USMANI: Siapa saja masyarakat yang mau peduli dengan sejarah Aceh itulah MAPESA, ya tentu siapa saja boleh.

POLEM: Kalau Pomeurintah tidak mau selesaikan, kita bikin demo besar-besaran dan  kita usir ramai-ramai orang nyang bangun lapangan golop di tempat itu nanti.

APA KAOY: Hai Polem bak meutuah. Ka geutanyoe bangai, bek ta anggap ureung la’en pih sama bangai lagee geutanyoe. Nyang perlu Polem ketahui, kebanyakan orang Aceh itu sebenarnya tidak suka cara-cara nyang brutal. Teungku Agam, sebagai masyarakat Aceh, marilah sama-sama kita bertindak untuk usaha menyelamatkan situs sejarah Lam Reh itu dan lain-lain seluruh Aceh deungon cara kepala dingin, deungon cara cerdas dan berwibawa. Jangan sampai kita terpengaruh deungon cara brutal seperti seperti nyang ada dalam pikiran Polem tadi.

POLEM: Apa kaoy. Itu karena tadi saya sedang emosi hai Apa Kaoy, banyak sekali sudah bukti sejarah Aceh hilang. Nyang terbaru saja seperti Hotel Atjeh bisa tak tersisa.

APA KAOY: Sudahlah. Banyak sekali bicara nanti kita tak sempat kerja, hari makin siang.

POLEM: Hiemnya jangan lupa, Apa kaoy.

APA KAOY: Beutoi. Nyoe hiem untuk uroe nyoe:

Sak tulak teugon
Sidroe ureung sak
Sidroe ureung kalon
Geutanyong le ureung sak ka roh atawa goh lom

Nah, apakah jawabannya ?

Hiem edisi yang lalu :
Udep lam gle peuneujeut Tuhan
Raya badan geulunyueng hana
Mata ubit kulet jih teubai
Pue binatang lagee nyan rupa

Jawabannya adalah: Badeuk

Baca juga tentang ini di Tabloit The Atjeh Time edisi 4, Kamis 28 Juni 2012.
 

  • Uncategorized

Leave a Reply