Jokowi Datang, Asapun Berbilang

Jokowi Datang, Asapun Berbilang

Semalam Presiden Jokowi tiba di Banda Aceh. Ini Idul Fitri pertama beliau sejak dilantik sebagai presiden. Dan dia memilih Aceh sebagai tempat merayakannya.

Ini peristiwa yang mengharukan bagi kita warga Aceh. Beliau memilih Aceh tentu punya pertimbangan sendiri. Natal tahun lalu belaiu juga ke Papua. Beliau menjadi presiden pertama di negeri ini menabrak pakem yang umum. Tidak ada open house di istana. Tidak ada shalat Id di Istiqlal. Beliau memilih ke daerah saat hari besar agama.

Dalam konteks Aceh kedatangan presiden selalu ditanggapi dengan berbagai dinamika. Ini tidak lain karena sepanjang kemerdekaan hampir tidak pernah rakyat Aceh mesra dengan pemerintah pusat. Bahkan sejak perdamaian hubungan ini juga tidak pernah mulus.

Masyarakat Aceh selalu mendapat janji palsu. Setiap kedatangan selalu penuh janji. Tapi implemenasinya tidak pernah sesuai harapan. Apalagi dengan Jokowi sebagai Kader PDIP. Sepanjang sejarah mungkin masyarakat paling benci dengan partai ini. Diantara seluruh presiden RI, Soekarno dan Megawati paling dibenci. Bahkan melebihi Soeharto sekalipun. Kedua presiden yang juga ayah dan anak ini permah mem-PHP (pemberi harapan palsu) kepada masyarakat Aceh. Dan keduanya mudah berjanji, tapi jangankan memenuhi janji, Aceh malah mereka perangi dengan dahsyat.

Oleh karenanya kita berharap Jokowi tidak melanjutkan tradisi para pendahulunya. Jokowi harus lebih fokus membangun kepercayaan rakyat Aceh. Sepanjang dia berkuasa ada tiga turunan UUPA yang sudah ditandatangani. Walaupun belum memuaskan kita, tapi ini patut disyukuri.

Dibanding SBY selama 9 tahun, Aceh tidak jelas juntrungannya. Kecepatan dan kemauan Jokowi untuk segera menuntaskan persoalan Aceh patut kita apresiaai. Namun keadaan Aceh hari ini belumlah membaik.

Dulu kita berpikir bahwa lima tahun pasca damai Aceh bisa bangkit dari keterpurukan. Nyatanya kita masih terseok-seok. Di samping rakyat yang masih berkutat dengan kemiskinan, mantan GAM juga mulai bertingkah. Mulai banyak yang melanggar hukum. Ini bukti pemerintah gagal. Memang tidak semata-mata kesalahan pemerintah pusat.

Pemerintah Aceh punya andil terbesar dalam hal ini. Maka momentum Idul Fitri ini, Jokowi harus banyak mendengar pihak lain. Pihak lain yamg bukan punya hirarkhis di pemerintah. Di Aceh banyak komponen sipil. Saat ini mereka rata-rata kecewa dengan keadaan ini. Sehingga amat mungkin mereka memberi masukan berbeda dibanding laporan Gubernur yang menjadi wakil pemerintah pusat di daerah.

Sehingga amat layak presiden bertukar informasi dengan pihak lain. Agar dalam memutuskan persoalan Aceh lebih berimbang. Sebagian besar masyarakat kecewa dengan cara gubernur memimpin. Praktik KKN diduga amat menggila. Pembangunan yang amburadul. Pembinaan aparatur yang sesuka hatinya. Ini mengakibatkan birokrasi Aceh bak kisah dongeng kancil pilek.

Presiden harus memahami Aceh secara konstektual. Jangan hanya menerima informasi dari bawahannya. Kedatangan beliau kali ini amatlah bermakna. Oleh karenanya kita berharap sesampainya di Jakarta, beliau segera memutuskan yang baik bagi kedua pihak.

Kita ingin damai ini langgeng sampai kiamat. Maka Jokowi harus mengobati luka Aceh. Luka yang ditinggal pendahulunya. Bila tidak maka Aceh akan terus melihat Jakarta sebagai penjajah. Menganggap pusat tidak bisa dipercaya. Jokowi harus mengembalikan romantisme masa di awal-awal kemerdekaan. Ketika Aceh berada di garda terdepan mempertahankan kemerdekaan. Mempertaruhkan negerinya, hartanya dan nyawa demi tegaknya republik ini. Walaupun kemudian dianaktirikan, dibenci bahkan dibunuh tanpa proses hukum.

Sebagai pemimpin Jokowi harus mampu menyembuhkan luka ini. Apalagi saat ini ketika rakyat sudah kehilangan pemimpinnya. Karena setelah mereka pilih, ternyata juga mengkhianati. Jokowi harus mencubit bawahannya karena gagal menjaga amanah. Kalau tidak maka Jokowi akan dikenang seperti pendahulunya yang “diberi susu dibalas tuba”[]

Leave a Reply