Jerat narkoba kian gawat

Sepanjang pekan lalu, isu narkoba menjadi topik bahasan hangat seluruh media di Indonesia.  Penyebabnya, artis dan presenter muda Raffi Ahmad ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) saat pesta narkoba di rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di rumahnya, BNN menemukan ganja dan 14 butir pil serupa ekstasi.

Ancaman narkoba tak hanya melanda Jakarta. Di Aceh, negeri yang menjalankan hukum syariat Islam ini, cengkraman narkoba tak kalah mengkhawatirkan. Pekan lalu, Polda Aceh menangkap seorang hakim dan seorang dokter dengan tuduhan mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.

Dua orang yang ditangkap itu hanya noktah kecil dalam lautan jerat narkoba di Aceh. Simaklah pernyataan Kepala BNN Aceh, Saidan Nafi. Kata Saidan, hampir 80 persen lembaga di Aceh punya pekerja pemakai narkoba. Penggunanya mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja swasta, pegawai perbankan, aparatur pemerintah, hingga penegak hukum.

Saidan tentu tak sembarang bicara. Lembaganya melakukan tes urine di sejumlah lembaga. Yang bikin miris, kata Saidan, dari 10 mahasiswa yang dites, 8 diantaranya menggunakan narkoba.

Data lainnya, mari menjenguk penghuni penjara di Aceh. Saat ini ada 2.520 narapidana kasus narkoba mendekam di sejumlah penjara di seluruh Aceh. BNN pusat mencatat, pada tahun 2012 Aceh menduduki peringkat ke-4 dalam penyalahgunaan narkoba dari 33 provinsi di Indonesia. BNN juga mencatat, sepanjang 2007 hingga 2011, ada 4.361 orang menjadi tersangka kasus narkoba, dari bandar hingga pemakai. Dari jumlah itu, 1.570 di antara kasus ganja, dan 2.791 orang lain terjerat kasus perdagangan dan pemakai ganja.

Itu baru kasus yang berhasil diungkap. Bagaimana dengan para penjual dan pemakai yang masih bebas berkeliaran? Bisa dipastikan jumlahnya jauh lebih besar.

Maraknya pengguna narkoba di Aceh sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2008, warning tentang ancaman narkoba telah berdengung. Namun, bukannya berkurang, kasusnya kian meningkat, khususnya kasus sabu-sabu. Jika pada 2007 tersangka yang ditangkap hanya 207 orang, pada 2012 jumlahnya menjadi 607 kasus.

Di pelosok-pelosok kampung, sabu-sabu bukan lagi barang aneh. Macam sebutan pun muncul. Mulai dari “eh” (es), hingga lampu aladin. Istilah terakhir ini muncul  karena bong yang digunakan untuk nyabu miripnya bentuk lampu aladin.

Selain narboka impor, Aceh juga dikenal sebagai gudangnya narkoba alami: ganja. Meski upaya-upaya pemberantasan terus dilakukan, namun para mafia ganja tak kunjung lenyap. Berton-ton ganja Aceh dipasok ke daerah lain di Indonesia. Sebagian tertangkap di jalan, tetapi yang lolos diyakini lebih banyak. Tak hanya dikirim ke daerah lain di Indonesia, BNN Aceh mencatat bakong ijo asal Aceh itu mendarat hingga ke India. Transaksinya terjadi di tengah laut. Bayarannya? Mereka memilih sistem barter: ganja ditukar sabu-sabu.

Apa sesungguhnya yang terjadi di Aceh? Mengapa Nanggroe yang masyarakatnya dikenal religius ini kian terjerumus dalam cengkraman narkoba?

Pemerintah harus mengambil langkah-langkah strategis jika tidak ingin generasi muda Aceh terpuruk dalam cengkraman narkoba. Aparatur hukum jangan lagi mau “dibeli” oleh para bandar narkoba. BNN jangan hanya menjadi “juru pengobat” saat seseorang sudah kecanduan. Para penegak hukum harus duduk bersama mencari jalan keluar untuk melepaskan Aceh dari jerat narkoba. Jika perlu, beri hukuman seberat-beratnya bagi penjual dan pemakai narkoba. Tegaskan bahwa narkoba adalah kejahatan kemanusiaan.

Jika tidak, bukan tak mungkin suatu ketika Aceh akan dipimpin generasi teler yang hana eh malam gara-gara fly oleh pengaruh narkoba. Mau dibawa ke mana marwah Aceh sebagai nanggroe syariat?[]

  • Uncategorized

Leave a Reply