Jejak Novelis Lampuki di Meureudu

INILAH Dayah Cot Trieng Babussalam di Gampông Rhieng Blang, Meureudu, Pidie Jaya. Di sinilah Arafat Nur, Penulis Novel Lampuki, sempat menimba ilmu semasa SMP dan kemudian menjadi salah seorang pengajar  di sana.

Saat menjadi pengajar, Arafat Nur duduk di bangku SMA. Sampai beberapa tahun tamat SMA, Arafat masih menjadi staf pengajar di sana di samping tenaga honorer di perpustakaan SMAN 1 Meureudu.

”Dia dulu tinggal di sini,” ujar M. Yunus, 58, seraya menuju balai pengajian yang tepat di depan rumahnya.

Balai-balai itu kosong. Seperti biasa, saat Ramadan, pengajian diliburkan. ”Saya belikan dia satu kompor. Kalau bulan puasa begini, berbuka dan sahurnya di rumah ini,” kata Yunus lagi.

Yunus pun berkisah sekilas perihal orangtua Arafat. Kata Yunus, ayah Arafat asal Mugiet, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya dan ibunya orang Peureulak. “Dia (Arafat) anak pertama dari ibu kedua. Ayahnya, dari istri pertama yang berasal dari Padang punya seorang anak perempuan. Kabarnya sekarang sudah jadi guru, tapi saya tidak tahu di mana dia,” tutur Yunus.

Pertengahan tahun 1999, satu reo PPRM (Pasukan Penindak Rusuh Massa) di-GLM Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Rhieng Krueng. Akibat peristiwa tersebut, hampir semua laki-laki meninggalkan kampung halaman. Di antara mereka salah satunya ialah Arafat Nur.

Sebelas tahun kemudian, terhitung sejak kepergiannya dari Meureudu yakni tahun 1999 sampai 2010, Arafat Nur kemudian dikenal sampai level nasional dengan novel Lampuki-nya. Narator cerita tersebut Teungku Muhammad, guru mengaji.

Sosok Teungku Muhammad dalam novel Lampuki tak dapat disangkal memang wujud nyata di luar novel  Lampuki karya Arafat Nur. ”Semenjak dia SMA, dia tak pernah lagi kemari,” kata Dahliani, adik ayah Arafat Nur.

Perempuan ini dulunya disapa Bunda oleh Arafat Nur. ”Entah kenapa, saya tidak tahu,” ucapnya lagi. Matanya manatap jauh.

”Saya dulu yang membawanya kemari karena ayahnya sakit sebab dituduh terlibat PKI. Makanya dia (Arafat Nur) tercatat lahir di Lubuk Pakam. Dia lahir semasa ayahnya melarikan diri dari fitnah tersebut,” ujar Bu Dah, demikian ia biasa disapa.

Dahliani tahu bahwa sekarang Arafat Nur sudah tenar. Namanya sudah menonjok langit tidak hanya di Aceh, tapi juga di tingkat nasional. Dahliani mengaku senang anak abangnya disebut-sebut namanya oleh banyak orang dan muncul di sejumlah media.

”Sebagai Bundanya, saya berharap dia mau datang lagi ke rumah ini. Melupakan segala yang pahit-pahit di sini dulunya. Memaafkan kami jika kami memang bersalah kepadanya,” ucapnya perempuan dengan bola matanya semakin bening. Hitungan detik, bendungan air itu sepertinya akan pecah.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply