Investor? Kisah Preh Boh Ara Hanyet

Investor? Kisah Preh Boh Ara Hanyet

MENARIK sekali apa yang disampaikan Wahyudi Albra,Dekan Fakultas Ekonomi Unimal. Bahwa salah satu faktor terpuruknya ekonomi Aceh karena ketiadaan investasi swasta. Merujuk hal itu, Pemerintah Aceh melalui Badan Investasi dan Promosi (Bainprom) menganggarkan belasan miliar pertahun. Belum lagi anggaran perjalanan dinas gubernur dan pejabat di bawah dalam rangka mencari investasi, dan anggaran anggaran lain yang berkait dengan hal itu.

Sejak pemerintah Aceh periode lalu cerita investor amat menarik dan mengisi ruang publik. Seiring perdamaian maka investasi menjadi salah satu tujuan mensejahterakan rakyat.

Investasi juga menjadi sebuah seremoni para pimpinan daerah. Setiap saat kita membaca di media. Mirisnya para pimpinan daerah dan para pengambil kebijakan mendefinisikan investasi adalah pengusaha atau lembaga ekonomi yang datang dari luar Aceh. Sehingga mereka kemudian rajin mengadakan perjalanan. Bahkan hampir keliling dunia. Hasilnya? Lage ta preh boh ara hanyet. Tidak ada kepastian apa lagi harapan. Yang pasti semua anggaran untuk itu setiap tahun ludes.

Sebenarnya investasi, bukanlah seperti anggapan umumnya pejabat pemerintah kita. Yang namanya investasi semua penanaman modal atau uang untuk bisnis. Artinya tidak melulu harus dari pebisnis. Pemerintah bisa saja berinvestasi. Seperti dikatakan Wahyudi Albra, seharusnya pemerintah Aceh sendiri yang melakukan investasi.

Menggunakan APBA untuk sektor produktif. Membangun pabrik untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku yang ada di Aceh. Intinya manfaatkan saja anggaran untuk menggaet investor untuk berinvestasi. Sebut saja setahun pemerintah Aceh menghabiskan 20 miliar untuk biaya mencari investasi. Bayangkan bila anggaran ini kemudian digunakan untuk berinvestasi. Membangun pabrik kelapa sawit, pabrik minyak goreng, pabrik padi moderen atau pabrik pengolahan coklat dan pabrik pengolahan ikan. Pemerintah diizinkan bermitra dengan swasta. Disinilah investasi akan datang. Ajak swasta bermitra dan sama-sama menurunkan modal. Jelas pola ini akan menarik investasi dan lapangan kerja tercipta dengan segala multiplayer efek.

Ini hanya wacana saja. Pikiran sesederhana itupun tidak bisa di terjemahkan pemerintah kita. Mereka berperilaku “abnormal” serta tidak peduli dengan hal di luar yang ada dipikirannya. Jangankan bermitra membangun investasi yang belum berwujud. “Atra kana lam capah” tidak termenej. Lihat saja soal turbin listrik Arun. Saham di bekas PT Arun. Saham di sumur gas Trianggle Pase. Sampai sekarang tak jelas juntrungannya. Pola pikir “tueng manfaat” mengalahkan pikiran rasional pemimpin. Urusan yang bisa mendatang duit seperti ini langsung dilihat sebagai azas manfaat bagi diri, keluarga dan kroni.

Tak peduli rakyat rugi. Tak peduli siapapun. Bahkan lebih baik gagal daripada kehilangan akses bagi dirinya, keluarga dan kroni-kroni.

Hancurnya unit usaha pemerintah dimanapun di negeri ini tidak lain dan tidak bukan karena tidak profesionalnya manajemen. Badan usaha menjadi alat akomodatif. Pengelolanya bukan karena acuan profesional tapi KKN. Di Aceh sepertinya kasusnya lebih kronis. Bayangkan di tengah bangkitnya BUMN dan BUMD di luar, Aceh kita malah makin hancur.

Hanya Bank Aceh satu satunya unit usaha pemerintah Aceh yang menguntungkan. Lainnya semua menjadi parasit. Penyakit KKN malah makin menggila. Bahkan setelah mati suri karena KKN. Tidak ada upaya penyembuhan. Seperti borok bernanah. Tidak ada upaya mengobati. Yang terjadi si pemborok terus saja makan makanan yang dipantangkan. Kritikan bahkan hujatan tidak membuat para pengambil keputusan berubah. Mereka tetap membangun benteng logika agar terus bisa menguras uang rakyat. Investasi hanya akan terus membenarkan, “meukat eh lam ujuen.”

Leave a Reply