Ini Kronologis Pembakaran PT Bosowa Megalopolis

 

CALANG – Konflik antara PT Bosowa Megalopolis dengan masyarakat Aceh Jaya telah berlangsung cukup lama. Perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut dituding menyerobot hutan adat masyarakat di lima desa yaitu Alue Thoe, Curek, Panggong, Bunta dan Ranto Panyang yang berada di Kecamatan Krueng Sabee.

Berlarut-larutnya konflik terebut berakhir dengan aksi pembakaran barak perusahaan tersebut oleh masyarakat, Selasa, 26 Juni 2012. Berikut ini kronologis pembakaran versi Kepala Desa Curek:

Sebelum aksi pembakaran PT Bosowa Megalopolis dilakukan masyarakat tiga desa yaitu Alue Tho, Curek dan Bunta, kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, Selasa, 26 Juni 2012,  Geuchik Desa Curek, Syafari, mengatakan sempat ada perjanjian antara masyarakat dengan perusahaan PT Bosowa Megapolis yang bertempat di Mapolres Aceh Jaya, pada tanggal 30 Maret 2012.

Kegiatan itu di fasilitasi langsung oleh Kapolres Aceh Jaya. Dalam pertemuan itu warga berkali- kali memperingatkan perusahaan untuk membahas daerah yang boleh dan tidak boleh digarap.

Tapi PT Bosowa Megapolis melanggarar perjanjian tersebut ingga akhirnya Dandim Aceh Jaya, Letkol Inf Yugo Widirgo kembali mencoba  memediasikan, pada l 4 April 2012 untuk mempertegas isi dari poin- poin perjanjian dalam perjanjian antara masyarakat dengan pihak Perusahaan PT Bosowa. “Namun perusahaan tak menghiraukan,” kata Safari, Minggu 1 Juli 2012.

Pada 16 Juni 2012, masyarakat Desa Curek, Bunta dan Alue Thoe melakukan musyawarah terkait dengan masih beroperasinya perusahaan tersebut. Dalam musyawarah tersebut lahirlah pernyataan sikap dari warga desa dimana meminta agar pihak PT Bosowa Megapolis menghentikan operasi di lahan yang masih bermasalah. Serta segera merehap kawasan yang sudah dirusak oleh aktifitas perusahaan tersebut.

Pernyataan sikap tersebut diserahkan ke Pemerintah Aceh Jaya dan Dewan Perwakilan Rakyat Kebupaten Aceh Jaya dengan harapan masyarakat agar DPRK dan Pemerintah Aceh Jaya segera memanggil PT  Bosowa dan menegur perusahaan tersebut. “Namun setelah satu minggu tidak ada tindaklanjut sehingga masyarakat tiga desa menjadi geram, dan timbulah aksi pembakaran perusahaan oleh masyarakat,” katanya.

Saat terjadi aksi yang dilakukan masyarakat di perusahaan tersebut, geuchik mengatakan dia tidak terlibat dalam aksi tersebut, karena sedang berada di Calang.

Menurut Syafari,  warga berangkat ke sana dengan berjalan kaki, karena jumlah warga mencapai 500 orang, geuchik tidak mampu membendungnya.

Aksi tersebut sempat mendapat pengamanan dari Polsek dan Koramil Krueng Sabee dan empat anggota Brimob yang sedang memberikan pengamanan di perusahaan tersebut. Namun masyarakat meminta anggota polsek dan koramil pulang dan mengancamnya dengan melempari batu.

Karena tidak ingin terjadi amuk massa, petugas Polsek dan Koramil setempat memilih pulang dan tinggallah empat anggota Brimob.

Saat itu juga sempat ada tembakan peringatan yang dilakukan anggota Brimob yang menjaga keamanan di tempat tersebut sebanyak empat kali. Namun massa yang sedang mengamuk tidak menghiraukan dan mengarahkan batu pada anggota Brimob tersebut sehingga membuat keempat personel tersebut terkpaksa menyelamatkan diri. “Massa akhirnya membakar barak karyawan yang ada di perusahaan tersebut dengan cara disiram bensin,” cerita  Syafari. []

  • Uncategorized

Leave a Reply