Ini Keluhan Warga Nisam Antara kepada DPRA

Ini Keluhan Warga Nisam Antara kepada DPRA

LHOKSUKON – Imum Mukim, Keuchik dan tokoh masyarakat Nisam Antara, Aceh Utara menyampaikan berbagai keluhan kepada anggota DPRA yang berkunjung ke kecamatan itu, Senin, 6 April 2015. Mereka meminta Pemerintah Aceh memberi perhatian serius di bidang pendidikan dan kesehatan.

Hal itu terungkap dalam pertemuan anggota DPRA Azhari alias Cage dan Tarmizi alias Panyang dengan keuchik dan perwakilan tokoh masyarakat dari enam desa se-Kecamatan Nisam Antara, di meunasah Alue Dua. Keuchik Desa Seumirah Hasanuddin mengatakan Kecamatan Nisam Antara membutuhkan bus untuk siswa SMP dan SMA.

“Jangkauan (jarak) tempat tinggal siswa di desa-desa dekat perbatasan dengan rumah sekolah sangat jauh, selama ini menyulitkan anak-anak sekolah, terutama SMP dan SMA, karena tidak ada bus sekolah,” ujarnya.

Sementara Imum Mukim M. Daud berharap pemerintah memberi perhatian yang seimbang antara rumah ibadah, balai pengajian atau lembaga pendidikan Islam dengan sekolah/pendidikan umum.

“Selama ini terjadi ketimpangan, bantuan sarana dan prasarana untuk sekolah cukup memadai, sedangkan balai pengajian dan dayah hanya mendapatkan seadanya saja, ini tidak adil,” kata Daud.

Tokoh masyarakat Nisam Antara Teungku Anwar minta pemerintah membangun sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kecamatan ini. Ia juga mendesak agar difungsikan rawat inap puskesmas setempat sehingga masyarakat/pasien dapat menerima perawatan lebih maksimal.

“Kami juga berharap jalan diaspal supaya memudahkan masyarakat mengangkut hasil perkebunan,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Nisam Antara Halimah akran disapa Umi mengatakan di puskesmas sudah ada bangunan rawat inap tapi belum ada mobiler.

“Saat ini dalam proses registrasi, sebab selama ini status puskesmas rawat jalan,” ujarnya.

Umi menambahkan, pihaknya lebih menitik beratkan pencegahan penyakit dengan memaksimalkan posyandu.

“Di Nisam Antara ada enam desa, tapi banyak dusun dengan jarak yang sangat berjauhan dan tidak ada transportasi umum. Maka kami mengaktifkan 14 posyandu agar masyarakat mudah mendapat pelayanan. Kendalanya honor kader posyandu masih lillahi ta’ala, kami mohon perhatian pengambil kebijakan untuk kader posyandu sebagai perpanjangan tangan puskesmas,” kata Umi.

Menurut Umi, pihaknya kini juga harus melayani 144 KK warga  Dusun Jabal Antara, di perbatasan Nisam Antara, Aceh Utara dan Bener Meriah.

“Kadang kala kita jemput warga dengan cara menumpang mobil camat, masalahnya di kawasan Gunung Salak jika hujan medan jalan sulit dilintasi,” ujarnya.

Ada pula keluhan dari panitia pembangunan meunasah Desa Alue Dua yang menyebut sampai saat ini tidak ada bantuan dari pemerintah.

“Meunasah Alue Dua yang teungoh ta peugot hana dibantu meu seuribe rupiah,” kata seorang warga yang mengaku panitia pembangunan meunasah itu.

Ia kemudian minta dua anggota DPRA yang berkunjung ke desa itu membantu secara pribadi sesuai kemampuan.

“Kami tidak ajukan lagi proposal, karena proposal mungkin sudah satu tong dikirim ke Banda Aceh, tapi sampai sekarang tidak ada respon, sehingga tangga meunasah saja sudah dua bulan dibangun belum tuntas,” ujarnya.

Merespon berbagai keluhan itu, Cage mengatakan pihaknya akan memperjuangkan agar jalan dari perbatasan Kecamatan Banda Baro ke Seumirah, Kecamatan Nisam Antara diaspal.

“Untuk tahun ini yang berhasil kita perjuangkan anggaran untuk Waduk Bate Pila 2,5 miliar. Selain itu pembangunan belasan rumah kaum dhuafa, dan infrastruktur publik lainnya,” kata anggota DPRA dari PA itu.

Sementara Panyang yang merupakan anggota Komisi F (bidang kesehatan) DPRA mengatakan akan berupaya memperjuangkan honor untuk kader posyandu di Nisam Antara. Panyang dan Cage juga akan menyampaikan kepada Pemerintah Aceh agar membantu bus sekolah untuk transportasi siswa SMP dan SMA di kecamatan itu.

Menurut Panyang, sebagian besar bantuan untuk masjid dan meunasah yang telah pihaknya perjuangkan, kini dicoret oleh pemerintah sehingga tidak tertampung dalam APBA 2015.[]

Leave a Reply