Ini kata Wakil Ketua MPR RI soal delapan tahun perdamaian Aceh

WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ahmad Farhan Hamid, mengatakan urat akar perdamaian Aceh sudah kuat. Namun demikian, ia meminta seluruh elemen yang ada di Aceh untuk tidak lalai. Damai harus dijaga dari dasar hingga ke atas.

"Urat akar atau basis untuk perdamaian di Aceh sudah kuat tapi kita tidak boleh lalai. Karena sebenarnya, maaf ini saya bilang, ternyata mungkin kalau kita gunakan bahasa tanda kutip, Aceh mudah berdamai dengan Jakarta tetapi tidak mudah berdamai dengan Aceh sendiri. Ini yang paling penting saya pikir, bukan hanya untuk Pemerintah Aceh dan DPR Aceh, namun untuk semua elemen masyarakat," ujar Farhan Hamid yang juga Wakil Ketua Forum Bersama (Forbes) Aceh ketika dihubungi ATJEHPOSTcom, Selasa lalu, 13 Agustus 2013.

Tehadap hal itu, dicontohkan dia mengenai masalah tumbuhnya benih-benih ketidaksinkronan cara berifikir antara elemen masyarakat daerah tengah, barat dan selatan sehingga terjadi gejolak kecil dan lain sebagainya.

"Yang kedua, ini tanda kutip, diantara mantan sesama pejuang itu juga timbul pertentangan satu dengan yang lain.  Ini yang perlu menjadi perhatian serius bagi kita semua adalah kita bukan hanya berdamai dengan elemen yang jauh dengan kita tapi juga orang Aceh harus pandai berdamai dengan elemen yang dekat dengan dirinya sendiri. Ini prinsip saya pikir,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia lagi, untuk mengisi perdamaian itu haruslah mendahulukan kepentingan masyarakat umum, terutama di dalam peningkatan kesejahteraan. Kalau tidak ini akan timbul cemohan dan dendam kesumat untuk elemen-elemen yang mengabaikan masyarakat.

Kemudian perlu juga dipikirkan ruang yang kondusif untuk apa yang disebut sebagai rekonsiliasi dengan seluruh unsur-unsur yang pernah terlibat di dalam konflik.

"Ini waktunya kita berfikir tenang, tidak dengan emosi. Ini mungkin menjadi bahan pikiran kita semua untuk memasuki tahun ke sembilan perdamaian," katanya.

Menurut Farhan, dunia luar saat ini melihat secara makro bahwa perdamaian di Aceh adalah salah satu bentuk penyelesaian konflik yang paling berhasil.

"Itu secara politik tetapi kalau secara sosial ekonomi, ini masih perlu dibuktikan. Apakah ada dampak signifikan dari keberhasilan secara politik terhadap kemampuan sebuah kawasan memperbaiki sistem ekonomi sosial di kawasan itu," ujarnya.[](mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply