Ini Bukan Gubernur Feodal

ALKISAH Amirulmukminin Umar bin Khatab berencana merombak kabinetnya. Khalifah Islam setelah Abubakar Siddiq ini ingin mengganti Gubernur Syam yang dijabat oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Pilihan Umar jatuh kepada Said bin Amir Al Jumahi.

Said pun mendapat panggilan. Ini jabatan empuk bung, yang jika di Aceh sekarang ini banyak orang memohon-mohon untuk mendapatkannya. Jika perlu memfitnah siapapun untuk menyingkirkan saingannya di posisi itu.

Jika sekedar mencium tangan sih nggak soal. Itu perkara gampang bukan? Berjejer orang mencium tangan si bos agar dapat jabatan atau jabatan bertahan. Persis saat era feodalisme masih berjaya.

Bagaimana dengan Said? Begitu ditawarkan jabatan, Said langsung menggelengkan kepalanya. “Wahai Amirulmukminin, jangan jerumuskan aku ke dalam fitnah, kalian kalungkan amanah ini di leherku dan kemudian kalian tinggalkan aku,” katanya.

Tak dinyana, Umar dan para sahabat berkeras mempercayakan Gubernur Syam ke Said. Akhirnya Said tak berkutik. Singkat cerita, Said pun menjadi gubernur.  

Setelah beberapa lama memerintah di Syam, sebuah delegasi tokoh masyarakat Syam mendatangi khalifah Umar di Madinah. Mereka melapor berbagai hal di negeri Syam. Tentu laporan yang mereka sampaikan bukan dengan bisik-bisik, tuding sana-sini. 

Si pembawa kabar itu paham karakter pemimpinnya yang tak suke mendengar cerita tanpa fakta, apalagi bergunjing untuk mencemooh orang.

Mereka juga paham, Umar adalah pemimpin yang sangat bijak mengambil keputusan. Ia memutuskan sesuatu bukan berdasarkan bisikan kerabat dekat dan kawan-kawannya. Sebab, Umar adalah pemegang amanah untuk kesejahteraan rakyatnya.

Bahkan Umar adalah pemimpin yang suka blusukan ke seluruh pelosok negerinya jauh sebelum di Indonesia ini terkenal dengan blusukan Presiden Jokowi sekarang ini. Bahkan Umar tahu jika rakyatnya ada yang lapar.

Umar blusukan tanpa pengawal bringas yang seperti sekarang kita lihat di Aceh, apalagi vorijders berserine yang membuat pengguna jalan terkejut-kejut dan langsung menyingkir dari jalanan.

Memang  di masa Umar belum ada vorijder, tapi jika mau tentu bisa bertitah, misalnya, membunyikan terompet ketika dia hendak lewat. Banyaklah sarananya yang bisa dilakukan. Tapi Umar bukan pemimpin narsis dan gila hormat, dia juga tak suka disanjung-sanjung. Karena itu, dia selalu datang dalam senyap.

Hingga suatu hari, ketika masuk ke sebuah kampung dia mendengar suara seorang wanita merintih kesakitan dan seorang pria yang sedang merepet. Ia pun mengetuk pintu rumah, memberi salam dan masuk untuk melihat ada apa gerangan.

Di dalam rumah ditemukannyalah sebuah keluarga yang sangat miskin. Si wanita merintih disebabkan hendak melahirkan, si pria merepet sebab kebingunan tak tahu minta tolong ke mana. “Ya Allah, kami miskin sekali kepada siapa kami minta tolong, Amirulmukminin tak pernah melihat kami,” katanya.

Umar terdiam. Ia tak memperkenalkan dirinya, tetapi balik kanan keluar dari rumah itu. Tetapi bukan hendak kabur melepas tanggungjawab, tidak juga sedang mencari alasan agar perkara kemiskinan ini ditutup-tutupi, atau merekayasa dan menyebut si miskin itu sedang bersandiwara. Umar keluar rumah, menjemput istrinya dan membawa makanan ke rumah itu.

Istri Umar membantu persalinan, sedangkan dia memasak. Setelah perempuan itu melahirkan, istri Umar berkata: “ ya amirulmukminin bayi ini laki-laki.” Umar tersenyum. Sedangkan lelaki yang merepet tadi tentu saja terkejut bukan kepalang. Ternyata yang membantunya itu adalah Amirulmukminin, pemimpinnnya.

Nah, tak perlulah berpanjang lebar tentang reputasi Umar. Para tokoh masyarakat Syam sudah tahu soal itu, jadi mereka melaporkan fakta-fakta saja. Termasuk melaporkan data kemiskinan penduduk Syam ke Umar. Ini juga bukan laporan fiktif untuk korupsi, tapi data yang benar.

Bahkan Umar pun sangat terkejut membaca laporan kemiskinan itu, sebab ternyata salah seorang penduduk miskin di negeri Syam tiada lain ya si Said yang jabatanannya adalah Gubernur Syam.

Hm, langka. Biasanya kita lihat, seorang gubernur itu akan kaya raya. Bila sebelum gubernur dia seorang yang papa, setelah menjabat akan hidup bergelimang kemawahan. Bahkan kerabatnya, iparnya, dan juga saudara jauh, kawan sekampung, ada juga yang mengaku saudara saja bisa kaya.

Tentu saja si pembisik bisa menggertak pejabat, dan meminta telepon seluler seperti blackberry sesuka hatinya dengan membebankan pada uang negara. Itu misalnya ya,  bukan mau menuduh. Maaf bagi yang merasa melakukannya, soalnya nggak sengaja.

Kadang-kadang, si gubernur berpura-pura miskin mengusung konsep pemerintah bersih dan antikorupsi, padahal dia diam-diam membangun rumah di luar negeri. Tetapi tidak demikian dengan Said, ia benar-benar gubernur miskin.

Umar bertanya pada tokoh masyarakat pembawa laporan itu, "benarkah laporan ini?". Mereka menganggguuk membenarkan. Lalu, bergegas Umar mengambil uang 1000 dinar dan meminta mereka menyerahkan ke Said. Mereka pulang dengan membawa bantuan fakir miskin dan hadiah Umar untuk Said.

Tapi Said membagi uang itu kepada orang miskin lain. Sehingga istrinya pun protes. "Sesungguhnya semua pemberian ini atas nama jabatanku adalah milik rakyat, maka nerakalah bagiku kalau memanfatkan untuk diriku dan keluargaku" begitu penjelasan tegas Said. Ia memang menerima amanah dengan hati yang luhur, dan keikhlasan untuk mengabdi pada rakyat.

Hampir seluruh sumberdayanya dihabiskan untuk melayani rakyat. Sampai dia kekurangan makan. Setiap pagi dia bersama istri mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan rumah tangganya. Dia tidak punya pembantu.

Beda dengan pejabat kita yang banyak sekali pembantunya. Mulai dari tukang semir sepatu, sopir, memasak, mencuci, ada juga pembantu yang bertugas cuma bertepuk tangandan mengangguk-angguk saat si gubernur bicara, bahkan ketika si gubernur tertawa sedikit ada pembantu yang bertugas tertawa terbahak-bahak seolah-olah gubernur sedang berbicara sesuatu yang sangat lucu, padahal dia paham pun tidak. Pokoknya semua biaya dibebankan pada negara.

Posisi rakyat dianggap seperti lamiet, yang wajib tahu apa kemauannya. Dan jika dia sedang berjalan, para pejabat pembantunya berjejer berbaris memberi jalan, dan pengamanan menjaga kiri kanan jangan sampai ada rakyat mendekat. Jika ada yang mendekat langsung ditolaknya. Jika dilihat ada rakyat yang tidak disenanginya berada di situ langsung di usirnya.

Waduh, kok jadi saya yang merepet ya. Sudahlah nanti lain waktu kita sambung lagi tulisannya… []

  • Uncategorized

Leave a Reply