Indahnya Desa Giethoorn Bak di Negeri Dongeng

Jika Anda merindukan ketenangan, kedamaian dan tempat yang benar-benar bersih untuk berlibur, desa Giethoorn di Belanda ini bisa menjadi pilihan. Terletak di Provinsi Overijseel, desa ini menjadi desa paling bebas polusi.

Pasalnya, tidak ada kendaraan bermesin apa pun apakah itu mobil atau sepeda motor yang beroperasi di desa ini. Sarana transportasi yang tersedia di sini hanyalah sepeda dan perahu motor kecil dengan suara pelan yang dikenal dengan sebutan ‘kapal berbisik’. Kendaraan yang datang ke desa ini mau tidak mau harus memarkirkan kendaraannya di luar desa.

Di Giethoorn, Anda tidak akan menemukan jalan karena satu-satunya akses yang bisa dilalui adalah kanal-kanal kecil dengan air yang sangat bersih. Di atas kanal terdapat jembatan kayu yang melengkung untuk menyeberang.

Di sepanjang sisi kanal yang dalamnya hanya satu meter, Anda akan melihat rumah-rumah pertanian pada abad ke-18 dengan atap jerami yang khas. Rumah-rumah itu tampak sangat terawat dan eksotis. Halamannya dipenuhi rumput yang menghijau dan bunga-bunga perdu aneka warna. Pohon-pohon rindang meneduhi desa dan  tak ada sampah berserakan.

Air yang memenuhi kanal-kanal kecil di desa ini berawal dari banjir besar yang terjadi pada abad ke-10 yang menggenangi rawa-rawa. Pada 1230, desa ini dibangun dan ditata oleh buronan yang kabur dari Mediterania. Para buronan tersebut awalnya menemukan banyak tanduk kambing liar yang diduga tewas ketika banjir, maka nama Geytenhorn yang berarti ‘tanduk kambing’ ditabalkan menjadi nama desa ini. Bertahun-tahun kemudian pengucapannya berubah menjadi Giethoorn yang dikenal seperti sekarang ini. Tapi jangan harap bisa menemukan tanduk kambing lagi di Geothoor saat ini.

Tadinya keberadaan desa ini tak ada yang tahu. Namun sejak komedian Belanda Bert Haanstra membuat komedi terkenal Fanfare pada 1958 di desa sejuk ini, Giethoorn menjadi terkenal dan dikunjungi banyak wisatawan.

Melongok penjelasan di situs giethoorntourism.com, Giethoorn merupakan desa yang sangat tenang. Suara yang paling keras yang bisa didengar hanyalah lengkingan suara bebek atau suara burung. Selama bertahun-tahun berperahu telah menjadi atraksi wisata paling populer di desa itu. Ada sekitar 90 kilometer kanal yang bisa disusuri dengan perahu motor. 

Wisatawan juga bisa mengelilingi desa dengan bersepeda sambil menyusuri rute khusus di sepanjang kanal. Dengan kondisi tersebut tak heran jika desa ini dijuluki Venisia dari Belanda.

Jika Anda tak mahir mengemudikan perahu, Anda bisa menyewa perahu listrik yang tidak diperlukan keterampilan khusus untuk mengemudikannya. Perahu ini bisa ditumpangi dua atau tiga orang. Wisatawan yang datang ke desa ini lazimnya menghabiskan sore dengan bersantai di kafe-kafe yang ada di tepi kanal.

Desa ini terletak sekitar 114 kilometer dari Amsterdam, atau sekitar 1,5 jam perjalanan. Jumlah penghuni desa ini hanya sekitar dua ribu orang.

Berkunjung ke sana mungkin akan membuat Anda merasakan nuansa ‘negeri dongeng’. Mengelilingi desa dengan perahu kecil, merasakan hawa sejuk dan pemandangan yang asri. Saat malam hari pemandangan menjadi sangat romantis karena air dari kanal akan memantulkan kerlip-kerlip cahaya dari lampu di rumah penduduk.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply