Impian dewan untuk Malahayati

PULUHAN goni berisi gula pasir berpindah dari lambung sebuah kapal ke truk di atas dermaga, Jumat dua pekan lalu.

Dua derek berlengan panjang di atas kapal pelan-pelan mengangkut goni ke atas badan truk. Setelah kait derek dilepas, beberapa buruh merapikan letak karung gula yang bertumpuk dalam truk.

Gula itu didatangkan dengan Kapal Karana Sembilan dari Bandar Lampung ke Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar. Jumlahnya 600 ton. Seorang petugas pelabuhan mengatakan, kapal tiba Jumat siang. Namun aktivitas bongkar muat baru dilakukan menjelang sore.

Pemandangan seperti itu tak terjadi setiap hari di Malahayati. Sehari sebelumnya, saat ATJEHPOSTcom mendatangi pelabuhan, di dermaga hanya bersandar kapal TB Krueng Raya. Kapal ini bukan pengangkut komoditas.

Pelabuhan Malahayati yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Banda Aceh ini digadang-gadang bakal menjadi pelabuhan ekspor impor dengan peti kemas.

Menyangkut hal ini, Sekretaris Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Adly Tjalok Bin Ibrahim mengatakan dirinya sangat bersyukur. "Karena memang telah lama kita perjuangkan untuk meningkatkan perekonomian Aceh," ujar Adly Tjalok Bin Ibrahim.

Menurutnya, keberadaan pelabuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. "Kita sangat yakin, perekonomian Aceh akan meningkat dengan hadirnya kran peti kemas tersebut dan ini merupakan harapan masyarakat," ujar Adly Tjalok.

Dia juga mengatakan seiring dengan itu, ekspor dan impor Aceh terbuka lebar. "Itulah yang membuat perekonomian bakal meningkat," katanya.

Sedangkan anggota Komisi D  DPR Aceh, Tanwier Mahdi, mengatakan ada beberapa keuntungan jika dibukanya pelabuhan peti kemas di Aceh. Tanwier mengatakan pelabuhan peti kemas akan meraup keuntungan bagi perekonomian Aceh.

"Dari dulu transportasi laut adalah transportasi termurah, maka kalau memanfaatkan jalur laut, Aceh akan mendapatkan keuntungan," ujar Tanwier Mahdi, Rabu 22 Mei 2013.

Selain itu, kata Tanwier, keberadaan pelabuhan peti kemas juga akan menghemat anggaran perbaikan jalan. "Efeknya jika kita masih lewat jalur darat, jalan akan hancur dan butuh biaya untuk perbaikan nantinya. Namun tidak dengan laut," ujarnya.

Keuntungan lain seperti membuka lapangan kerja bagi masyarakat. "Ini juga menjadi alasan kita untuk pelabuhan peti kemas," ujarnya.

Tanwier mengatakan pelabuhan peti kemas akan melibatkan Dinas Perhubungan untuk kembali mengaktifkan pos timbang batas barang di kendaraan.

"Misalnya, lewat jalan darat ada barang diangkut dengan truk, itu nanti ditimbang. Tidak boleh barang yang dibawa lewat dari 10 ton, maka harus menggunakan jalur laut," ujar Tanwier.

***

SELASA pekan lalu, DPR Aceh membahas percepatan perintisan Pelabuhan Peti Kemas Malahayati. Hadir dalam pertemuan tersebut, Dinas Perhubungan Aceh, PT Pelindo Malahayati, dan beberapa perwakilan perusahaan.

"Perusahaan di Aceh yaitu Lafarge Semen Lhoknga, PT Abadi Jaya, dan perusahaan pupuk di Indrapuri. Perusahaan-perusahaan tersebut akan menggunakan jasa Pelabuhan Malahayati untuk penjualan barang,” ujar Ketua Komisi D DPR Aceh, Teungku Anwar Ramli, Rabu pekan lalu.

"Kapal pertama untuk mengangkut peti kemas di Pelabuhan Malahayati dengan ukuran peti kemas 20 ton akan segera datang," ujar Anwar Ramli.

Kapal akan datang antara tanggal 25 atau 28 Mei 2013. “DPR sangat mendukung usaha tersebut, karena akan meningkatkan perekonomian di Aceh dan akan menambah Pendapatan Asli Aceh,” ujar Anwar.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply