Ie Bu Peudah, Kuliner Khas Ramadan Penghalau Penyakit

MULAI Jumat pekan depan seluruh umat muslim di dunia akan menjalankan ibadah puasa. Berbeda dengan ibadah lainnya, puasa sering disambut dengan penuh suka cita dengan berbagai tradisi berbeda dari setiap wilayah. Itu karena ibadah ini dilakukan secara serentak di seluruh dunia, sehingga terkesan lebih ramai dan meriah.

Apalagi, saat puasa biasanya aneka kuliner khas daerah lebih mudah dijumpai, selain banyak dijual di pasar tradisional, makanan khas ini biasanya juga banyak dijual di tempat-tempat umum oleh pedagang dadakan.

Di Aceh misalnya, berbagai kuliner lokal seperti kanji rumbi, kanji beras, atau ie bu peudah sangat mudah ditemui. Ketiga makanan yang menyerupai bubur ini banyak dijual di warung-warung penjual makanan, atau di gerai-gerai di pinggir jalan yang muncul setiap kali musim Ramadan tiba.

Makanan ini sering menjadi menu wajib untuk berbuka, selain karena rasanya yang enak, makanan ini juga dipercaya bisa menyehatkan badan karena terbuat dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat dan rempah-rempah.

Seperti ie bu peudah, dari sekian banyak kuliner khas Ramadan lainnya, makanan yang satu ini seolah menjadi “raja”. Dari bahannya saja, ia sudah unggul dengan 44 jenis dedaunan, rempah-rempah dan biji-bijian yang diracik menjadi satu.

“Bahan-bahan itu sebagiannya ada yang berasal dari gunung, sehingga untuk mengambilnya membutuhkan waktu,” ujar Dra Hj. Nuraini, mantan penggerak tim PKK Aceh ini kepada The Atjeh Post.

Bahan-bahan yang dimaksud seperti daun saga, memang tidak tumbuh di sembarang tempat, ia hanya ada di daerah-daerah hutan. Selain daun saga, untuk membuat ie bu peudah juga diperlukan beras, kacang hijau, jagung, merica, kunyit, dan aneka bahan lainnya hingga lengkap menjadi 44 macam.

Karena itu, kata Ibu Nuraini, menyantap ie bu peudah saat puasa bisa meningkatkan stamina dan lebih sehat. Karena bahan-bahannya banyak mengandung karbohidrat, serat, dan nutrisi penting lainnya seperti dari kacang hijau, dan senyawa dari kunyit yang terkenal sebagai herbal.

Ke 44 bahan tadi tidak langsung dikonsumsi begitu saja, melainkan diolah dulu dengan cara dikeringkan, kemudian disangrai dan ditumbuk kasar. Hasil tumbukan inilah yang menjadi penguat rasa dan bahan utama untuk membuat ie bu peudah.

Untuk mengolahnya, masih diperlukan bahan-bahan lain seperti kelapa setengah tua, jagung muda, ketela, daun pepaya, serai, dan daun jeruk. Setelah dirajang dan dipotong kecil-kecil semua bahan ini direbus, baru setelah itu diberi campuran hasil racikan 44 jenis bahan tadi.

“Rasanya agak pedas, dan menjadi kental karena racikan tadi mengembang setelah direbus, kalau mau lebih enak bisa ditambahkan kerang, tiram atau udang,” ujarnya lagi.

Khasiatnya? Kata beliau bisa menghalau berbagai penyakit seperti maag dan masuk angin, dan yang jelas akan meningkatkan daya tahan tubuh. Tak heran, jika orang-orang terdahulu meskipun dengan aktivitas yang padat tubuhnya tetap segar dan sehat saat puasa.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply