Home Headline Tipu Aceh dan Kegagalan Belanda di Gle Yueng

Tipu Aceh dan Kegagalan Belanda di Gle Yueng

88
0

Perang di Gle Yueng itu disebut ole jurnalis perang yang mantan serdadu Belanda H C Zentgraaff sebagai salah satu kesadisan perang Aceh. “Adakah peristiwa pemotongan mayat-mayat yang lebih menyedihkan dengan yang terjadi setelah kegagalan penyerbuan mendadak terhadap Gle Yueng?” tanya Redaktur Java Bode itu dalam bukunya “Atjeh”.

Kuburan massa tentara Belanda di sana disebut sebagai Kerkhoff Indrapuri. Sementara jenazah dua perwiranya diangkut dan dikuburkan di Kerkhoff Peucut Banda Aceh. Kegagalan Belanda ini sudah diawali dari seorang perempuan pelayan di rumah perwira Belanda. Ia memasok informasi palsu tentang pejuang Aceh di Gle Yueng, dan Belanda pun masuk perangkap.

Kala itu untuk menumpas perlawanan pejuang Aceh, Belanda merancang sebuah serangan terencana dan mendadak ke Gle Yueng, tempat pasukan Teungku Chik Di Tiro berada. Pasukan Belanda menuju ke daerah perbukitan itu malam hari. Mereka bergerak setelah mengetahui lokasi itu dari seorang wanita pelayan di rumah Letnan Boon yang pernah berhubungan dengan seorang wanita bernama Sofia, kemenakan Panglima Polem.

Sofia telah bercerita tentang Gle Yueng kepada pelayan tersebut. Info dari pelayan itu pula yang kemudian dipakai Belanda sebagai langkah untuk melakukan penyerangan. Tapi serangan Belanda tersebut gagal total. Mereka disambut pejuang Aceh dengan kobaran api. Pejuang Aceh membakar benteng pertahannya, sehingga tak ada langkah untuk berlindung apalagi mundur, selain menyambut serangan Belanda dengan serangan yang lebih hebat pula.

Pasukan Belanda kalah total. Mayat berserakan, malah Kapten Scheuer, komandan Belanda yang memimpin serangan itu mengalami luka tembak di bagian perut. Pagi hari ia ditemukan tergeletak di rumput yang basah dengan darahnya sendiri.

Ketika seorang juru rawat hendak memperban lukanya, ia berkata. “Bagi saya tak perlu lagi, tolonglah orang yang tengah mengerang-ngerang di sana.” Ia pun kemudian tewas dengan lukanya. Sementara seorang perwira Belanda lainnya, Kapten Yacobs tewas dengan luka tembak di bagian kepala. Puluhan pasukan Belanda tewas. Sisanya luka parah.

Kegagalan Belanda itu disebabkan suara terompet dalam malam buta ketika perang berkecamuk. Isyarat suara terompet itu berisi perintah untuk berhenti menembak. Terompet itu ditiup oleh seorang fusilier bernama Pauwels, seorang tentara bayaran dari Belgia. Ternyata malam itu Pauwels menyebrang ke pasukan Aceh. Ia sengaja meniup terompet itu untuk mengelabui pasukan Belanda. Sehingga ketika Belanda berhenti menyerang pasukan Aceh dengan leluasa menyerang.

Pasukan Belanda benar-benar terpukul, karena sejak awal memperkirakan kalau penyerangan ke Gle Yueng mudah, sehingga tidak membawa banyak perbekalan. Mereka hanya membawa beberapa tandu saja, sementara korban yang tewas 28 orang, puluhan lainnya luka berat. Banyak korban tubuhnya sudah dicincang dengan sabetan pedang.

Karena itu pula, Zentgraaff menyebutkan peristiwa tersebut sebagai peristiwa pemotongan mayat yang sangat menyedihkan. “Haruskah dikirim kabar ke bivak Indrapuri, agar dikirimkan alat-alat pengangkut mayat dan korban yang luka-luka. Mereka mengirim segala apa yang ada: daun pintu, meja-meja, papan berkelipak-kelipak, dan semua itu ternyata belum cukup untuk mengangkut tentara yang tewas dan luka-luka,” tulis Zentgraaff.

Yang mendapat giliran pertama untuk diangkut adalah prajurit yang luka-luka. Mereka diangkut dengan menggunakan daun pintu dan papan-papan sebagai tandu. Zentgraaff menilai hal tersebut akan memberikan penderitaan bagi para korban melebihi penderitaan akibat luka yang dialami saat perang.

Sedangkan serdadu yang tewas, kaki dan tanganya diikat pada kayu pikulan, kemudian digotong oleh para pekerja paksa (beer) asal Jawa. Para pekerja paksa itu merupakan orang-orang hukuman yang dibawa Belanda dari Jawa ke Aceh. “Dengan mengangkut orang yang mati dan luka-luka, pasukan masih harus melalui Krueng Meunapat. Betul-betul suatu perjalanan yang berat,” lanjut Zentgraaff.

Barisan pasukan pengangkut mayat dan korban luka-luka itu dinilai Zentgraaff sebagai arak-arakan yang mengerikan. Ia menulis, “Orang-orang yang mati bergelantungan pada pikulan, melengkung di tengahnya, dan kepala-kepala yang berlumuran darah terbuai-buai di sampingnya. Beberapa diantara yang mati itu berlumuran darah dan lumpur, bagai binatang-binatang yang dibawa keluar dari rumah potong hewan dan harus diangkut terseok-seok selama setengah hari.”

Peristiwa itu merupakan kekalahan telak bagi Belanda. Sepanjang perjalanan mengangkut mayat dan korban luka-luka ke Indrapuri tersebut, masyarakat Aceh melihat arak-arakan itu dengan nada mengejek kekalahan tersebut. Karena itu pula, mental para serdadu Belanda menjadi menurun.

“Peristiwa itu tidak dapat dilupakan untuk selama-lamanya. Pemandangannya begitu menyedihkan. Mereka yang berjiwa jantan sekali pun dan bersemangat baja berkat pertempuran-pertempuran, kini berjalan mengiringi mayat-mayat itu diliputi rasa haru yang sangat dalam, sehingga hilang lenyap kemampuan mengendalikan diri serta perasaannya. Begitulah arak-arakan itu tiba di Indrapuri, dan semalam suntuk pasukan zeni bekerja keras membuat peti-peti mati. Sebuah lobang yang besar seakan-akan mulut raksasa kelaparan menganga menghadap ke atas, akan menelan seluruh 28 jenazah serdadu kita. Jenazah kedua orang kapten yang gugur dikirimkan ke Peucut Kerkhof (kuburan Belanda di Banda Aceh)” lanjut Zentrgaaff.

Van Heutsz, komandan bala tentara Belanda ikut hadir pada upacara penguburan tersebut. Tatkala peti mati itu diturunkan ke dalam lobang, dia pun tak kuasa membentung perasaannya lagi, dan menetes air mata di pipinya. Dengan susah payah ia mengeluarkan beberapa patah kata, “Prajurit-prajurit gagah perkasa, gugur di medan kehormatan,” katanya, setelah berhenti sejenak menahan haru, ia melanjutkan “Makam ini akan diabadikan.”

Kuburan massa itu kemudian disebut sebagai Kerkhof kecil di Indrapuri. Zentgraaff pernah berkunjung ke kuburan itu, akan tetapi ia tidak menemukan apa pun, karena sudah dipenuhi semak. Hanya tersisa beberapa batu nisan lama di kuburan perorangan, dan beberapa keping pagar kayu, yang menandakan bahwa di dalamnya ada mayat yang dikuburkan.

“Di tengah-tengah pekuburan ada sebatang pohon yang agak menyolok dari keadaan sekelilingnya, dan saya berfikir dalam hati bahwa di dalam tanah di mana pohon itu tumbuh, tersedia makan yang lebih banyak bagi akar-akar pohon itu dari pada disekitarnya,” jelas Zentgraaff dalam catatannya.[]