Home Histori Teungku Chik di Tiro; Sang Pemimpin Perang Semesta

Teungku Chik di Tiro; Sang Pemimpin Perang Semesta

95
0

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman menawarkan diri menjadi pemimpin Angkatan Perang Sabil melawan Belanda saat Aceh kehilangan sosok panutan.

“Aceh Besar seluruhnya sudah sepi dari suasana perang. Patroli Belanda sampai ke kampung-kampung tepi bukit. Orang perjuangan telah menjadi orang buruan kompeni. Pemerintah Belanda merasa lega dan pemerintah sipil telah dapat dijalankan dengan lancar.”

Demikian Ismail Jakub menggambarkan suasana Aceh dalam bukunya Teungku Tjhik Di Tiro (Muhammad Saman); Pahlawan Besar Dalam Perang Aceh (1881-1891). Kondisi yang dituliskan Ismail Jakub ini terjadi setelah Belanda berhasil menguasai Darud Dunia dan sebagian besar wilayah Aceh Besar, atau setelah serangan militer kedua Belanda ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Ismail menuliskan Belanda saat itu dipimpin oleh si tangan besi, Jenderal Karel van der Hejden. Beberapa ulee balang di Aceh juga sudah bekerjasama dengan Belanda melalui kesepakatan korte verklaring. Salah satunya adalah Teuku Nek Meuraksa.

Para ulee balang yang bersekutu dengan Belanda mendapat perlindungan penuh dari Jenderal Karel. Mereka akan segera mendapatkan bantuan Belanda jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari rakyat.

Banyak para tokoh pejuang Aceh di Aceh Besar yang melancarkan perang gerilya dari pedalaman, baik dari belantara Seulawah maupun di lembah Krueng Aceh. Sementara di Pidie, pasukan Aceh bertahan di Garot, Tiro, kawasan hutan Kemala, Tangse dan Gempang. Di Aceh Utara, para pejuang Aceh bertahan di perbukitan Batee Iliek, lembah Krueng Peusangan hingga perbatasan Gayo. Saat itu, perlawanan Aceh terhadap Belanda sama sekali tidak terstruktur sehingga sulit memperoleh kemenangan besar.

“Demikianlah keadaan perjuangan menentang Belanda di Aceh pada penghujung tahun 1880,” tulis Ismail Jakub.

Kondisi tidak adanya sosok pemimpin yang bisa membangkitkan semangat rakyat untuk kembali menggelorakan perang semesta membuat Sultan Aceh dan para ulee balang yang masih setia dengan Kerajaaan Aceh Darussalam menjadi gundah. Apalagi Teungku Chik Tanoh Abee menolak perang melawan Belanda sebelum para ulee balang menyerahkan harta rakyat yang dirampasnya.

“Sebelum kita memerangi musuh lahir, perangilah dahulu musuh batin yaitu hawa nafsu. Harta rakyat yang ada pada masing-masing kita, yang telah diambil karena menurut hawa nafsu, serahkanlah kembali dengan segera…(Baca selengkapnya di Majalah ATRA Edisi Perdana April 2015)