Temuan Terbaru: Pemakaman Keluarga Pelaut Samudra Pasai di Syamtalira Bayu

LHOKSEUMAWE –  Ketua Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah), Abdul Hamid, dan salah seorang ekskombatan, Muhammad Nasir atau Bang Syin, menemukan satu kompleks pemakaman kuno di Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Jumat pekan lalu.

Hasil penelitian sementara tim Cisah terungkap bahwa kompleks pemakaman tersebut milik keluarga pelaut/pelayar zaman Samudra Pasai. “Ini merupakan salah satu temuan terpenting, bahkan paling bernilai dalam jenisnya bagi sejarah Samudra Pasai, sebab merupakan kompleks pemakaman keluarga pelaut yang berada dalam wilayah Aceh Utara dan terdekat dengan kawasan bekas pusat pemerintahan Samudra Pasai (kawasan inti),” demikian keterangan Cisah melalui akun Facebook Musafir Zaman.

Disebutkan pula bahwa sebelumnya, sejak beberapa tahun silam, Cisah sudah berhasil menemukan sebaran pemukiman masyarakat pelaut (tinggalan era Samudra Pasai) dalam wilayah Lhokseumawe: Di antaranya, di Desa Blang Weu, Jileukat, Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kandang, Kecamatan Muara Dua, dan juga di Kecamatan Banda Sakti.

“Temuan kali ini adalah di luar Lhokseumawe, namun tetap memiliki akses langsung ke Teluk Samawi, dikarenakan letak pemakaman atau permukiman kuno di Syamtalira Bayu tersebut hanya berjarak sekitar 2 km dari bibir laut Teluk Samawi (Kuala Lancok), dan dihubungkan oleh sebuah aliran sungai yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi”.

Cisah menjelaskan, kompleks pemakaman itu diketahui milik keluarga pelaut, dari beberapa nama yang terpahat pada batu nisan. Meski epitaf makam tidak memuat penanggalan wafat, namun dari bentuk-bentuk batu nisannya diperkirakan pemakaman tersebut berasal dari abad ke-14 dan ke-15 M.

“Sesuatu yang unik pada beberapa batu nisan di pemakaman ini ialah pemahatan nama dalam kotak pada sisi kiri nisan sebelah utara (nisan kepala), sehingga terlihat seperti pelat nomor. Ini unik dan baru kali ini ditemukan yang demikian rupa, dan sengaja dibuat hanya untuk dapat dikenali pemilik masing-masing kubur”.

Peneliti Cisah yang menggunakan akun Facebook Musafir Zaman mengatakan, “Dari data-data sejarah tersebut, saya kira sangat penting untuk disimpulkan bahwa di kompleks makam yang terdapat di kawasan Syamtalira Bayu ini ternyata telah dikuburkan tokoh-tokoh dari sebuah keluarga yang bukan saja pelayar tapi juga ulama sekaligus pendakwah (khatib). Maka perlu untuk dinyatakan sekali lagi bahwa Samudra Pasai sesungguhnya memiliki segenap modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan Islam di Asia Tenggara.”

“Namun apa yang ditulis di sini jelas hanya berupa catatan singkat, dan dapat dianggap sebagai sebuah tawaran bagi yang berminat untuk menelitinya lebih lanjut. Banyak pertanyaan yang belum terjawab, antara lain tentang Barjan, Hadashtan, Thahud, dan banyak persoalan lainnya yang perlu kepada pengkajian khusus. Saya berharap ada yang akan bersedia untuk itu,” tulis pemilik akun Facebook Musafir Zaman lagi.

Ketua Cisah, Abdul Hamid yang dikonfirmasi portalsatu.com, Selasa, 25 Agustus 2015, membenarkan data yang dipublikasi lewat akun Facebook Musafir Zaman itu merupakan hasil penelitian sementara tim Cisah, setelah ia dan Bang Syin menemukan kompleks pemakaman tersebut pada Jumat lalu

Berikut nama-nama pemilik kubur dalam kompleks pemakaman itu sesuai inskripsi yang terdapat pada nisan, dan keterangan hasil penelitian tim Cisah yang dipublikasi lewat akun Facebook Musafir Zaman:

Barjan Al-Hadashtan (?) Khatib Husain. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Pemilik kubur bernama Khatib Husain. Gelar “khatib” pada awal nama tampaknya berkaitan dengan pekerjaan resminya sebagai khatib masjid.

Dikarenakan sebelum nama Khatib Husain terdapat nama lain, yaitu Barjan Al-Hadashtan, maka timbul keyakinan bahwa Barjan Al-Hadashtan ini adalah gelar atau sebutan untuk Khatib Husain. Dengan demikian, Khatib Husain adalah kepala keluarga dari orang-orang yang dikuburkan dalam kompleks ini.

 Isma’il (bi..?) Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Salah seorang putra Barjan.

Bab ibnu Paduka; Mu’allim Khoja; Ibnu Malik Thahud bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-15 M. Bab adalah putra dari Paduka Mu’allim Khoj atau Khoja. Dari gelar “paduka” tampak jelas orang yang dipanggil dengan Mu’allim Khoj ini salah seorang pejabat kerajaan. Mu’allim adalah gelar terkenal untuk seorang pelayar atau nakhoda, sementara Khoja selain dapat berarti syaikh (guru) dalam bahasa Persia, kata ini juga berarti pedagang.

Khoj di sini tampaknya bermakna pedagang. Dari sini tampaknya dapat dibuat kesimpulan sementara bahwa ayah Bab adalah seorang pelayar dan pedagang yang memiliki kedudukan penting dalam Kerajaan Samudra Pasai. Namun ayah Bab tidak ditemukan kuburnya dalam kompleks makam ini. Sekalipun demikian, dan andai kata pun kuburnya sama sekali tidak ditemukan dalam kawasan Syamtalira Bayu, maka ini adalah suatu hal yang dapat dimaklumi sebab dari namanya Paduka Mu’allim Khoj dapat dimengerti dialah orang yang telah ditugaskan untuk berkelana ke berbagai pelosok dunia.

Kakek Bab adalah seorang berstatus Malik atau Raja dan bernama Thahud bin Barjan. Kuburnya berada di sebelah kiri (timur) kubur Bab (cucu dan kakek berdampingan).

Malik Thahud bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Di kompleks ini, Thahud adalah satu-satunya putra Barjan yang bergelar “malik” atau raja. Ia dengan demikian merupakan seorang pembesar kerajaan yang memerintah suatu wilayah geografis atau mengurusi sebuah bidang penting dalam kerajaan. Mengingat beberapa saudaranya adalah mu’allim (pelayar), kiranya, boleh pula diduga bahwa jabatannya sebagai Malik erat kaitan dengan kelautan dan pelayaran.

Mu’allim Husain Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Husain adalah putra Barjan yang bergelar Mu’allim atau pelayar, dan jika benar sebagaimana diyakini bahwa Barjan itu adalah Khatib Husain, maka dengan demikian Barjan telah menamakan putranya dengan nama Husain pula (Husain Anak).

Khatib Zainuddin; Ahmad bin Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-15 M. Dalam kompleks makam ini, Zainuddin adalah satu-satunya pewaris profesi kakeknya Barjan sebagai khatib. Ayahnya, Ahmad bin Barjan, seorang pengasuh dan pengajar para raja dan pangeran dalam istana Samudra Pasai. Ahmad bin Barjan adalah orang kedua yang ditemukan namanya, namun tidak ditemukan kubur yang menyebutkan namanya dalam kompleks ini sebagaimana halnya Paduka Mu’allim Khoj. Khatib Zainuddin mengingatkan kita seorang tokoh ulama lainnya yang memiliki nama yang sama di Lamreh, Aceh Besar, yaitu Syaikh Zainuddin.

Nasifah (?) Barjan. Nisan makam bercorak nisan abad ke-14 M. Ini satu-satunya nama wanita yang ditemukan dalam kompleks ini, putri dari Barjan. Namanya masih agak sulit untuk dipastikan, tapi saya mengunggulkan Nasifah.[]

Foto: Kompleks makam keluarga ulama sekaligus pelayar tampak dari sisi barat, di kawasan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Foto: Facebook Musafir Zaman

Leave a Reply