Saat Gonsenson Murka Terhadap Teuku Nyak Arief

SJAMAUN Gaharu merupakan salah satu tokoh pendidikan, militer dan tokoh sosial Aceh yang ikut terlibat aktif dalam perang melawan Belanda di era kemerdekaan Indonesia. Sjamaun telah mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pembangunan keamanan nasional di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menekuni karier militernya, dia adalah seorang guru Taman Siswa di Kutaraja dan aktif dalam pembinaan pendidikan dasar di Daerah Istimewa Aceh.

Dia juga berperan penting dalam pembangunan Kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Jamiah Ar-Raniry. Sebagai seorang tokoh sosial, Sjamaun Gaharu aktif dalam menjembatani berbagai konflik sosial yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh, baik dalam revolusi sosial pada masa perjuangan kemerdekaan maupun dalam berbagai gejolak yang terjadi setelah Indonesia merdeka.

Sebagai pelaku sejarah, Sjamaun Gaharu berhasil merekam jejak bagaimana peralihan kekuasaan terjadi di Aceh pada masa Perang Dunia II. Hal tersebut kemudian diceritakannya kepada Ramadhan KH yang lantas menyusunnya dalam buku autobiografi “Sjamaun Gaharu; Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal.”

Berikut kesaksian Sjamaun Gaharu mengenai kondisi Aceh di masa Perang Dunia II:

“Perang Dunia II pecah. Saya tengah sibuk mengajar putera-putera bangsa yang akan jadi generasi masa depan, ketika dunia bergejolak dan masuk ke dalam suatu konfrontasi bersenjata. Ideologi yang saling bertentangan mencapai puncak pertikaiannya. Jerman dengan fasisnya bersepakat dengan Italia dan Jepang. Mereka bergerak hampir bersamaan dan memporak-porandakan banyak negeri.

Di daratan Eropa, 10 Mei 1940, Hitler memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda, Belgia dan Perancis. Ketiga negeri tersebut takluk dan dapat direbut Jerman dalam waktu yang singkat. Malah Belanda jatuh pada hari pertama penyerangan itu. Ratu Belanda terpaksa mengungsi ke Inggris hari itu juga, pada pukul 02.30 GMT. Negerinya menjadi negara terjajah. Kejadian itu dapat saya ketahui melalui radio dan sedikit dari berita surat kabar. Seluruh orang Belanda yang berada di Aceh menjadi loyo, semangat mereka terbang entah ke mana.

Sekarang mereka merasakan bagaimana derita menjadi jajahan! Tanah air mereka berada dalam cengkeraman Jerman yang terkenal kejam.

Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II. Dengan mendadak mereka membombardir pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii), Minggu, 7 Desember 1941. Pemboman tersebut bagaikan aba-aba. Ia jadi pemicu bagi rencana besar militer Jepang. Bala tentara Jepang bergerak sangat cepat ke Asia Selatan (Nan Yo), dan tidak ada yang dapat menghalanginya.

Menjelang Februari 1942, tentara ke XXV Jepang telah bermarkas di Singapura (Syonanto). Wilayah peperangang bertambah luas. Jepang bergerak. Merambah dataran Asia dan terus ke selatan. Pada 8 Desember 1941, pukul 02.30 GMT, pemerintah Belanda dalam pengasingan di Inggris mengumumkan pernyataan perang kepada Jepang, melalui duta besarnya di Tokyo.

Pernyataan ini berarti tidak saja mencakup pemerintah Belanda di negerinya, tapi juga melibatkan pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda (Indonesia). Babak baru yang dinamakan Perang Asia Timur Raya telah dibuka. Saya tidak mengetahui secara tepat pernyataan perang itu pada saatnya, baru kemudian saya membacanya di surat kabar. Yang saya lihat dan ketahui adalah kesibukan pasukan Belanda meningkat tinggi.

Di bawah komandan mereka, Kolonel Gosenson, yang mukanya berparut bekas tetakan pedang putera Aceh, mereka mengangkut peralatan dan logistik perang mereka ke Takengon atau ke Rimba Gayo.

Bukan saya saja yang melihat, tetapi hampir semua rakyat Aceh. Putera Aceh hanya melihat dan diam sementara. Dalam diam, mereka diam-diam mengasah parangnya. Sekolah Pertanian tetap berjalan, dan saya tetap berdiri di depan kelas. Tapi mata saya tetap liar melihat kesibukan pasukan Belanda di tanah Aceh.

Seluruh perbekalan militer Belanda ditempatkan di perkebunan Teh Redelong, yang berada dalam wilayah Aceh Tengah, tidak berapa jauh dari Takengon. Saya dapat melihat seluruh kesibukan mereka karena bertempat tinggal di Bireuen. Untuk mencapai Takengon mereka harus melalui tempat saya, dengan sendirinya saya dapat memperhatikan lebih saksama.

Pasukan Belanda terus mondar mandir antara Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dengan Takengon. Kesibukan bidang pemerintahan yang dipimpin Residen Pauw juga meningkat. Kesibukan itu terjadi di awal tahun sampai awal Maret 1942. Perhatian seluruh rakyat Aceh tertuju ke mari.

Dahulu Belanda datang dari Laut, sekarang lari ke dalam rimba. Dalam pikiran, saya berharap agar di rimba Aceh pasukan Belanda akan dihancurkan pasukan musuh mereka. Bagaimana dengan rakyat Aceh? Apakah mereka berdiam diri dan hanya melihat saja musuh bebuyutan melenggang di bumi pusaka? Belanda memang menghadapi dua bahaya besar. Di samping takut terhadap Jepang yang tengah bersiap untuk menerkam Aceh, Belanda menghadapi api dalam sekam. Setiap saat putera-putera Aceh bisa bangkit melawan mereka.

Hal itu memang terjadi. Awal bulan Maret pecahlah perlawanan terhadap Belanda. Di Aceh Besar yang berpusat di Lam Nyong, Teuku Nyak Arif mengangkat senjata. Inilah perang yang berlangsung 9-10-11 Maret 1942. Teuku Nyak Arif menepati ucapannya, ketika beliau menganjurkan saya untuk mengajar di Taman Siswa. Sayang, saya sendiri tidak berperan, karena saya sibuk dengan mendidik bangsa di bidang pertanian. Rasa hormat dan segan saya terhadap Teuku Nyak Arif pun bertambah. Pejuang memang harus memegang kata-katanya!

Sebelum tentara ke XXV Jepang mendaratkan pasukan-pasukannya di Pantai Aceh (Ujung Batee, Aceh Besar, dan Kuala Bugak, Peureulak), Teuku Nyak Arif sebagai pemimpin Aceh menyampaikan ultimatum kepada penguasa Belanda di Aceh. Ia meminta agar pemerintah Hindia Belanda menyerahkan kekuasaan dan senjatanya kepada rakyat Aceh dengan jaminan keselamatan untuk mereka.

Belanda mengabaikan ultimatum itu. Mereka malah menteror rakyat Aceh dengan bermacam-macam provokasi. Pimpinan tentara Belanda mengeluarkan surat perintah penangkapan Teuku Nyak Arif dan tokoh-tokoh lain, hidup atau mati. Keadaan demikian membangkitkan amarah rakyat Aceh untuk melawan tentara kolonial Belanda. Militer Belanda waktu itu sedang panik dan ketakutan menghadapi bahaya Jepang, mereka akhirnya tergesa lari terbirit-birit. Ketika kemudian bala tentara Jepang mendarat di Aceh, Aceh telah bersih dari pengaruh kekuasaan Belanda.

Salah satu contoh dari teror Belanda di masa akhir keberadaannya di Bumi Rencong adalah kisah ini. Pemberontakan meletus setelah Belanda mengabaikan ultimatum Teuku Nyak Arif. Tetapi Residen Belanda sempat juga mengundang beberapa Uleebalang untuk mengadakan rapat kilat di Kutaraja. Teuku Nyak Arif sudah berpesan agar rapat itu jangan dihadiri. Namun pesan itu tidak semuanya sampai ke alamat.

Waktu rapat sedang berlangsung, tiba-tiba muncul Kolonel Gosenson, sang komandan tentara Belanda yang terkenal kejam di Aceh, diiringi Mayor Palmer van den Broek. Sambil mengacung-acungkan sebutir peluru di tangannya, ia mengatakan kepada yang hadir bahwa peluru itu pasti berasal dari Teuku Nyak Arif yang sudah berani mengangkat senjata melawan Belanda.

Kalau Nyak Arif bisa saya tangkap, kata Kolonel Gosenson, saya akan hisap darahnya, seraya memperagakan bagaimana caranya menghisap darah. Kemudian dengan lantang Gosenson menambahkan, “Teuku-Teuku yang hadir di sini semua saya tangkap dan Teuku Nyak Arif akan saya tangkap, hidup atau mati”.

Gosenson segera memerintahkan pasukan Marsose/KNIL untuk menyerang rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong yang lebih kurang 6 kilometer jaraknya dari Kutaraja. Ketika terjadi penyerangan itu kebetulan Teuku Nyak Arif tidak berada di rumah, karena sedang memimpin rapat perlawanan terhadap Belanda di Lubok.

Mendengar rumahnya diserbu dan ditembak secara membabi-buta, Teuku Nyak Arif nekad berangkat pulang karena menyangka keluarganya sudah ditembak atau ditangkap Belanda. Beberapa orang pengikutnya mencoba menahan Teuku Nyak Arif karena khawatir Belanda akan menyergapnya. Tetapi Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya bukan laki-laki kalau saya tidak pulang sekarang ini juga”.

Setiba di Lam Nyong ternyata tentara Belanda yang menyerbu dan mengobrak-abrik rumah Teuku Nyak Arif baru saja beberapa menit kembali ke Kutaraja. dengan membawa beberapa orang yang dapat mereka tawan, di antaranya Teuku Hanafiah Tungkop (kemenakan Teuku Nyak Arif), Ismail Penghulu Akub, M. Daud dan lain-lain. Keluarga Teuku Nyak Arif ternyata dapat menyelamatkan
diri karena kebetulan sedang berada agak jauh di belakang rumah, lagi mempersiapkan dapur umum.

Hanya beberapa jam setelah peristiwa itu sudah berduyun-duyun rakyat berkumpul di Lam Nyong, dengan rencana akan melakukan penyerangan ke Kutaraja selepas Isya. Pada waktu barisan rakyat mulai bergerak dan baru sekitar limaratus meter jaraknya dari rumah Teuku Nyak Arif, mereka melihat di seberang jembatan Lam Nyong ada beberapa kendaraan lapis baja milik Belanda. Beberapa orang serdadu Belanda tampak sedang sibuk berusaha menyingkirkan batang-batang kayu yang sudah ditumbangkan rakyat di tengah jalan.

Barisan rakyat yang dipimpin Waki Harun itu langsung menghadang dan menghujani Belanda dengan tembakan-tembakan gencar. Maka pertempuran seru segera berkecamuk di sana. Pasukan Belanda tidak dapat menembus barisan rakyat, sehingga mereka terpaksa mundur ke pangkalannya di Kutaraja. Dalam pertempuran ini telah jatuh korban di kedua belah pihak. Akhirnya ribuan rakyat dari segenap penjuru menyerbu ke Kutaraja, sehingga pasukan Belanda pun lari terbirit-birit ke Aceh Tengah.”[]

Foto: Ilustrasi perang dunia ke II. @dok

Leave a Reply