Home Histori Presiden Ikatan Pemuda Republik Patani Tertarik dengan Samudra Pasai

Presiden Ikatan Pemuda Republik Patani Tertarik dengan Samudra Pasai

105
0

 LHOKSEUMAWE – Presiden Ikatan Pemuda Republik Patani (IPRP), Abdul Rahim, tertarik dengan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai. Itu sebabnya, ia bersama dua mahasiswa Patani lainnya, Muslem dan Zulkifli mengunjungi situs-situs di bekas kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara itu, di Aceh Utara, Sabtu, 8 Agustus 2015, sore.

Dipandu tim Centre Informasi for Samudra Pasai Heritage (Cisah), Abdul Rahim, Muslem dan Zulkifli berkunjung ke makam Sultanah (Ratu) Nahrasyiyah (Nahrisyah) dan makam ‘Abdullah Bin Muhammad di Kuta Krueng, makam Teungku Batee Balee di Desa Meunasah Meucat, Blang Mee, dan makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera.

Abdul Rahim menyebut ia bersama Muslem dan Zulkifli tiba di Lhokseumawe, Jumat, 7 Agustus 2015. Ketiganya datang ke Lhokseumawe setelah mengikuti pertemuan perwakilan mahasiswa Patani yang kuliah di berbagai kampus di Indonesia, di Banda Aceh.

Mulanya, kata Abdul Rahim, pihaknya sekadar ingin silaturahmi dengan mahasiswa di Lhokseumawe. Namun, usai bertemu mahasiswa di kota ini yang ternyata juga relawan Cisah, mereka pun tetarik untuk mengunjungi situs-situs sejarah Samudera Pasai.

“Kami sedang berada di kompleks makam Sultanah (Nahrisyah), makamnya sangat indah,” kata Abdul Rahim saat dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Sabtu sore tadi.

Ditanya apakah ada kemiriman antara nisan-nisan makam dalam kompleks makam Sultanah Nahrisyah itu dengan nisan peninggaran era Kesultanan Patani Darussalam di Patani, Thailand, Abdul Rahim menyebut, “Yang kecil-kecil (nisan) ada yang sama, tapi yang seperti makam Sultanah (Nahrisyah) tidak ada di Patani”.

Sekretaris Cisah, Mawardi Ismail mengatakan, tiga mahasiswa Patani itu kemudian berkunjung ke makam ‘Abdullah Bin Muhammad yang merupakan keturunan dari Khalifah Al-Musthanshir Billah di Baghdad. Lokasi makamnya sekitar 1,5 km dari makam Nahrisyah.

Mereka kemudian mengunjungi kompleks pemakaman kesultanan Samudra Pasai yang sering disebut Jrat Teungku Batee Balee. Hasil penelitian tim
Cisah, di kompleks pemakaman itu dimakamkan sultan-sultan Samudra Pasai
periode ketiga. Di antaranya, Sultan Shalahuddin (wafat 866 H/1462 M),
Sultan Abu Zaid Ahmad (wafat 870 H/1466 M), Sultan Mu’izzuddunya waddin
Ahmad (wafat 870 H/1466 M), Sultan Mahmud (wafat 872 H/1468 M), Sultan
Muhammad Syah (wafat 900 H/1495 M).

Berikutnya, Sultan Al-Kamil bin Manshur (wafat 900 H/1495 M), Sultan
‘Adlullah bin Manshur (wafat 911 H/1506 M), Sultan Muhammad Syah III (wafat
912 H/1507 M), Sultan ‘Abdullah bin Mahmud (wafat 914 H/1509 M), Khoja
Sultan Ahmad (wafat 919 H/1514 M), Sultan Zainal ‘Abidin IV (wafat 923
H/1517 M).

Menurut tim Cisah, sultan-sultan tersebut mencetak mata uang (dirham) atas nama mereka masing-masing. Sebagian besar dirham itu sudah pernah ditemukan di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai.

Cisah lantas memandu mahasiswa Patani ke makam Sultan Malikussaleh, pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai. Setelah itu mereka pulang ke Lhokseumawe karena sudah menjelang Magrib. “Mereka mengagumi kehalusan kaligrafi dan monumen pada makam-makam itu. Mereka kagum dengan seni yang bernilai sangat tinggi,” ujar Mawardi.

Seusai mengunjungi situs-situs itu, Abul Rahim mengakui bahwa sejarah Samudra Pasai jauh lebih besar dan bukti sejarahnya lebih banyak daripada nisan-nisan warisan kesultanan di Patani. “Di Patani juga ada, tapi kecil dan tinggalan bukti-buktinya sedikit. Kita merasa takjub dan merasa luar biasa dengan Samudra Pasai ini,” kata Abdul Rahim kepada tim Cisah.[]

 Baca juga:

Ikatan Pemuda Republik Patani Dideklarasikan di Aceh

Foto: Mahasiswa Patani mengunjungi makam Sultanah Nahrisyah. @Ist