Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

SULTHAN Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem menghentikan perlawanan terhadap Belanda setelah keluarganya ditawan pada pertengahan tahun 1903. Hal itu juga dilakukan oleh Teuku Chik Di Tunong dan Cut Nyak Meutia. Mereka turun dari tempat gerilya dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda pada 5 Oktober 1503.

Menurut catatan sejarawan Belanda, HC Zentgraaff, dalam masa tahun 1903 sampai 1905, Teuku Chik Di Tunong melakukan konsolidasi terhadap para pengikutnya Dia tetap merencanakan perlawanan kepada Belanda. Di awal tahun 1905, terjadi lagi suatu penyerangan yang amat dahsyat dan memilukan bagi Belanda. Pada 26 Januari 1905, sebuah pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh.

Vollaers sudah sangat berpengalaman dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah (surau) Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas, sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak. Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku.

Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak. Pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah pedagang makanan hilir mudik di meunasah tersebut dan menawarkan dagangannya kepada pasukan Belanda. Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong.

Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis: “Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.

Belanda kemudian menyelidiki kasus ini. Hasilnya diketahui bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong. Belanda kemudian menangkap Teuku Chik Di Tunong ketika menuju ke Lhokseumawe pada 5 Maret 1905. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan dijebloskan ke dalam penjara.

Hasil penyelidikan Belanda terhadap keterlibatan Teuku Chik Di Tunong dalam penyerangan tersebut kemudian terbukti. Pemerintah Belanda kemudian menjatuhkan hukuman gantung kepada Teuku Chik Di Tunong. Tapi karena sepanjang pemerintahan Belanda di Aceh belum pernah memberlakukan hukuman gantung, Gubernur Militer Van Daalen yang menggantikan Van Heutsz mengubahnya menjadi hukuman tembak mati. Perubahan hukuman ini sebagai penghargaan terhadap Teuku Chik Di Tunong selaku pejuang yang berhak mati secara terhormat.

Selain Zentgraaff, peristiwa itu juga ditulis H M Zainuddin dalam buku “Srikandi Aceh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, 1966. Dalam buku itu dia mengungkapkan, sebelum menjalani hukuman tersebut, Teuku Chik Di Tunong meminta kepada Belanda agar dapat bertemu untuk terakhir kalinya dengan istrinya, Cut Meutia, serta Teuku Raja Sabi, anaknya yang masih berusia lima tahun. Selain untuk melepas rindu dan salam perpisahan pada istri dan anaknya, pertemuan itu digunakan Teuku Chik Di Tunong untuk memberikan wasiat pada  Cut Meutia.

Ada tiga permintaan yang disampaikan Teuku Chik Di Tunong pada Cut  Meutia waktu itu, yaitu meminta Cut Meutia untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda, mendidik anaknya menjadi seorang pejuang yang akan meneruskan perjuangannya melawan Belanda, serta meminta Cut Meutia untuk bersedia menikah dengan Pang Nanggroe, panglima perang yang selama ini mendampinginya dalam berbagai peperangan melawan Belanda.[] (bna) 

Iskandar Norman adalah peminat sejarah dan jurnalis lokal di Aceh.

Leave a Reply