Home Histori Penghormatan Belanda untuk Panglima Aceh

Penghormatan Belanda untuk Panglima Aceh

142
0

“Comes ils tombent bien…en is er één volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren nien met diepe vereering zou schrijven in het boek zijner historie?”

“Dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tinggi di dalam buku sejarahnya?”

Pertanyaan itu diungkapkan H C Zentgraaff, mantan serdadu Belanda yang pernah berperang di Aceh, yang ketika pensiun beralih menjadi wartawan perang dengan jabatan sebgai redaktur untuk koran Java Bode terbitan Batavia (kini Jakarta-red).

Zentgraaff mengungkapkan hal itu ketika menulis tentang potret heroisme seorang pejuang Aceh, Teungku di Barat. Sejak 1903 ulama besar Aceh ini muncul secara menonjol dalam peperangan menentang Belanda. Karena itu pula Belanda memburu untuk menangkapnya hidup atau mati.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya 22 Februari 1912 ajal pula yang menjemputnya. Pasukan marsose di bawah pimpinan Letnan Behrens berhasil mengepungnya, kontak senjata pun terjadi. Lengan kanan Teungku di Barat tertembus peluru. Dengan serta merta karaben yang tak lagi mungkin dipegangnya, diserahkan kepada istrinya, sementara tangan kirinya mencabut rencong.

Setelah menerima karaben itu, istrinya berdiri di depan untuk melindungi Teungku di Barat yang luka akibat tembakan. Dalam pertempuran sengit itu, peluru marsose kemudian menerpa dada istri Teungku di Barat, keduanya pun tewas. “Beginilah berakhirnya hidup Teungku di Barat dan ulama terkemuka lainnya di Aceh yang lebih suka memilih syahid dari pada mèl (menyerah-red) kepada Belanda,” tulis Zentgraaff.

Pujian Zentgraaff terhadap para pejuang Aceh itu sangatlah beralasan, sejak menginjakkan kakinya di daratan Aceh pada 26 Maret 1873, sampai mengangkat kakinya dari Aceh karena kedatangan Jepang, ribuan penyerangan dilakukan pasukan Aceh terhadap Belanda.

Bahkan sampai tahun 1903, ketika perang dinyatakan telah diakhiri dengan suatu perdamaian resmi, puluhan bahkan ratusan serangan masih dilakukan rakyat Aceh terhadap Belanda. Menurut catatan Belanda dalam buku Gedenboek der Marechausses jumlah serangan terhadap Belanda setelah tahun 1903 tidak dapat dihitung, saking banyaknya serangan itu, baik yang dilakukan per kelompok maupun perorangan.

Menariknya, jumlah serangan perorangan terhadap Belanda menurut catatan dalam buku itu, sejak tahun 1910 sampai 1937 tercatat 161 kali. Serangan perorangan itu sangat ditakuti oleh Belanda, karena itu pula keluarga Belanda tidak pernah merasa nyaman tinggal di Aceh. Di sisi lain, selain serangan-serangan perseorangan, kelompok-kelompok pejuang Aceh juga terus melakukan gerilya.

Beberapa pimpinan gerilyawan itu antara lain: Teuku Raja Tampo. Ia bersama kelompoknya selama puluhan tahun terus melakukan serangan-serangan terhadap Belanda di Meulaboh, Seunagan, Tripa, Seunaan, Kuala Batee dan Blang Pidie, yang berlangsung sejak 1907 sampai 1940.

Di tempat lain ada Teungku Chik Mayet dan Teungku di Buket putra dari ulama terkenal Teungku Chik Saman di Tiro dan cucu Teungku Chik Maat. Pada 5 September 1910 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Alue Semie, Teungki Chik Mayet di Tiro gugur. Sementara Teungku di Buket tewas dalam perang di Gunung Meureuseu, Tangse pada 2 Desember 1911.

Habib Jureng, pimpinan gerilyawan lainnya, gugur pada Juli 1909 dalam sebuah pertempuran melawan Belanda. Sementara Pang Nanggroe, suami Cut Meutia yang sudah lama diincar Belanda tewas pada 26 September 1910 dekat Lhoksukon.

Ali Rojo pimpinan gerilya Bukit gugur pada 26 November 1909 di Gayo Lues. Cut Nyak Dhien ditangkap pada 4 November 1905 di Meulaboh dan dibuang ke Sumedang. Pocut Baren seorang wanita pemimpin gerilya ditangkap Belanda pada 1910 setelah kakinya ditembusi peluru dan tak sadarkan diri.

Teungku Angkasah di Tapaktuan yang mengakibatkan kerugain banyak di pihak Belanda, gugur dalam pertempuran di Ujong Padang, Tapaktuan pada tahun 1925. masih di Tapaktuan, Cut Ali bersama pengikutnya Teuku Nago dan Imum Sabi, yang sering menyerang bivak-bivak tentara Belanda, tewas di Alue Beurang, Tapaktuan pada 25 Mei 1927.

Sultan Tuanku Muhammad Dawod yang menyerah pada tahun 1903, karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya setelah menyerah, kembali melakukan aksi untuk menyerang Belanda di Kutaraja. Pada tahun 1907, aksi yang diorganisirnya itu melakukan penembakan-penembakan terhadap bivak-bivak belanda di Lhokseudu.

Dalam masa itu Sultan Dawod juga menghubungi Konsul Jenderal Jepang di Singapura meminta bantuan untuk melakukan aksi bersama melawan Belanda. Karena itu pula, Sultan Dawod kemudian ditangkap Belanda dan dibuang ke Ambon. Pada tahun 1917, Sultan Dawod diizinkan meninggalkan Ambon dan memilih tinggal di Meester Corneelis (sekarang Jatinegara) dan meninggal dunia di sana pada tahun 1939.

Belanda kemudian mengangkat tabik, kagum terhadap kepahlawanan para pejuang Aceh tersebut dalam buku “Gedenboek van het korp Marechausse van Aceh en Onderhoorighheden.” Dalam salah satu bagian buku itu Belanda menulis. ’’De heldhaftigheid van den Atjeher, welke hij gedurende den Atjehoorlog aan den om legde bij den strijd om zijn land te verdedigen, heeft de eebied van de Merechausse’s afgedwongen en tevens hun bewondering voor zijn moed, doodsverachting, zelfopoffering en uithoudingsvermogen.’’

Artinya : Kepahlawanan orang Aceh yang diperlihatkannya masa perang Aceh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan tanah airnya, telah menimbulkan rasa hormat dan kagum terhadap keberaniannya, sikap tak gentar menghadapi maut, pengorbanan diri dan daya tahannya.’’[]