Kuta Di Anjong; Benteng Atau Masjid?

TULISAN ini merupakan tinjauan awal tentang struktur Kuta Di Anjong sebagai hasil observasi yang dilakukan pada Minggu 3 Mei 2015 yang lalu. Rekonstruksi bentuk dan fungsi struktur bangunannya akan dibandingkan dengan pembahasan sekilas perbentengan masa Kesultanan Aceh di kawasan yang sama, Ladong-Krueng Raya.

Langkah ini ditempuh dengan pertimbangan bahwa struktur diperkirakan berasal dari periode yang sama berdasarkan gaya bangunan dan teknologi. Sebagai tinjauan awal diharapkan ada tindak lanjut penelitian arkeologi lebih sistematis untuk mendapatkan bahan-bahan baru yang dapat menjelaskan bentuk dan fungsinya.

Penamaan struktur sebagai Kuta Di Anjong berasal dari penyebutan yang dikenal masyarakat setempat. Saat tulisan ini disusun, belum ditemukan sumber-sumber historis yang dapat dihubungkan dan dapat menjelaskan keberadaannya struktur yang disebut ‘kuta’ tersebut.

Lokasi Kuta Di Anjong berada di Desa (Kampung) Durong, Ladong Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. Secara terminologi Kuta Di Anjong berasal dari kata ‘kuta’ dan ‘di anjong‘. Kata Kuta berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti ‘benteng’ sebagai sistem pertahanan dan atau lahan dengan sistem perlindungan. Namun demikian istilah ini juga digunakan secara luas untuk suatu kawasan pemukiman.

Sementara ‘di anjong’ adalah kata Melayu yang menunjuk letak pada bagian dari bangunan tradisional, baik dalam dunia Melayu maupun Aceh, dari bahan kayu yang berbentuk anjungan. Anjungan merupakan panggung kayu (serupa anjungan pada kapal layar). Secara bebas ‘kuta di anjung’ berarti benteng dengan memiliki anjungan.

Struktur ini berdenah persegi empat dengan lingkungan yang dikelilingi parit, dengan pembagian halaman memusat bagian utama berada pada bagian tengah halaman berteras. Pembagian halaman memusat suatu bentuk arsitektural yang sangat menarik, karena bentuk seperti ini sudah dikenal tua dalam peradaban manusia.

Bentuk-bentuk ini sering diterapkan pada kuil-kuil atau candi Hindu-Buddha dari masa Mataram kuno Hindu (Medang) di Jawa Tengah dan Jawa Timur dari periode abad ke-7 Masehi hingga abad ke-9 Masehi. Gaya ini menirukan arsitektur Dravidian India (lihat denah pada gambar sketsa).

Namun bentuk halaman memusat dengan bangunan utama pada struktur ini lebih menyerupai kuil-kuil (candi) Hindu-Buddha di Sumatera, yang terbuat dari bahan batu bata dengan bagian atap yang disusun dari konstruksi kayu. Bangunan atau struktur itu seperti yang dapat ditemukan di kawasan Muaro Jambi, Muara Takus di Riau, atau bihara-bihara dari Padang Lawas di Tapanuli Tengah.

Halaman I dikelilingi parit, sementara halaman II berteras dengan dinding tanggul, dan bagian utama berada di tengah halaman II berteras. Struktur ini merupakan bangunan semi permanen yang sebagian bangunannya dibina dari batu dan perekat semen. Bagian ini yang masih dapat diamati, dan bangunan dari kayu yang tidak lagi dapat diamati.

Keadaan struktur Kuta Di Anjong sekarang dalam keadaan yang relatif baik, sehingga bentuk keseluruhan struktur masih dapat diamati dengan jelas dalam observasi. Beberapa kerusakan yang cukup parah ditemukan pada bagian parit keliling halaman I. Parit keliling ini seluruhnya dibangun dengan penampang dari batu dan semen kapur, sekarang hanya bagian kecil saja yang masih dapat dilihat. Kerusakan pada sumur pada halaman I terutama pada bagian bibir sumur yang cukup tebal, diperkirakan berdiameter 1 meter dengan tebal bibir cincin sumur 40 centimeter.

benteng atau masjid 1
Keterangan foto elemen arsitektural/struktur: (1) Parit keliling halaman I, (2) sumur batu halaman I, (3) tangga menuju teras/halaman II, (4) teras/halaman II dengan dinding tanggul, dan (5) bangunan utama dinding pagar dan pintu.

 

Kerusakan juga ditemukan pada empat sisi dinding tanggul teras/halaman II, dan tangga yang landai dengan 9 anak tangga yang masih tersisa. Kerusakan yang cukup parah ditemukan pada dinding pagar keliling bangunan utama. Kerusakan kecil hanya ditemukan pada bagian dinding pagar keliling sisi timur dengan pintu kecil, sementara empat bagian sudut, dinding pagar keliling sisi selatan, barat, dan utara hanya tersisa sebagian kecil saja.

 

Tekhnologi batu (bongkahan) dengan perekat semen dari kapur/koral (terumbu karang) dicampur pasir, tanah merah, terumbu karang yang ditumbuk kasar, dan kulit kerang.
Tekhnologi batu (bongkahan) dengan perekat semen dari kapur/koral (terumbu karang) dicampur pasir, tanah merah, terumbu karang yang ditumbuk kasar, dan kulit kerang.

Kuta Di Anjong sebagai Bangunan Masjid

Bangunan Kuta Di Anjong diduga adalah masjid, dengan dasar elemen arsitektural yang tidak mendukung fungsi struktur besar ini sebagai ‘kuta’ atau benteng. ‘Kuta‘ yang berasal dari bahasa sanskrit untuk benteng dipinjam dalam bahasa Aceh untuk pengertian yang sama, baik yang dibina dari tanah atau dengan struktur beton. Namun dalam observasi dan hasil survey permukaan di tempat ini, bentuk struktur tidak mendukung sebagai sistem pertahanan. Benteng-benteng kuno di Aceh, terutama berada di kawasan Ladong-Krueng Raya, dibangun dan dapat dipastikan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dalam kurun waktu pertengahan akhir abad ke-16 Masehi hingga awal abad ke-17 Masehi.

Tujuan pembangunan benteng-benteng (kuta) tersebut berdasarkan keterangan naskah kuno Aceh, seperti Hikayat Aceh (T. Iskandar), untuk ‘mengawal Kuala Aceh’ selain untuk pertahanan atau untuk pengintaian laut atau perairan dalam lintasan Selat Malaka. Benteng-benteng umumnya dilengkapi dengan kelengkapan senjata berat seperti meriam-meriam berdiameter besar. Hikayat Malem Dagang (T. Imran Amdullah) menjelaskan arti perbentengan di kawasan Ladong-Kroeng Raya yang dikenal sebagai ‘Kuta seribu kawal (pengawal)’. Sementara dalam Hikayat Meukuta Alam (T. Imran Abdullah) menjelaskan rancangan benteng-benteng yang dibangun oeleg Mahkota Alam (Sultan Iskandar Muda) dan tahap-tahap-tahap pembuatannya, meliputi mulai dari pengumpulan bahan baku bangunan, mempersiapkan bahan baku semen/perekan batu bongkahan dan tehnik (cara) pemasangan, hingga penyelesaian akhir bangunan dengan lapisan turap berwarna putih kapur.

Tahap-tahap pembuatan struktur ini dapat menjelaskan tidak hanya untuk bangunan perbentengan, tetapi juga untuk bangunan lain seperti pemakaman keluarga Sultan Aceh (kandang), Taman kesultanan Aceh, dan mesjid. Perlu untuk diketahui pula, bahwa perbentengan Aceh merupakan tempat tertutup bahkan dirahasiakan letaknya, hanya untuk para prajurit yang ditugaskan dan pejabat militer istana terkait atau tahanan negara. Fungsinya tidak memunkinkan terbuka untuk kalayak ramai atau rakyat kebanyakan.

Sebagai bahan perbandingan untuk menjelaskan fungsi struktur Kuta Di Anjong akan dibandingkan dengan sistem perbentengan kuno Aceh. Sistem perbentengan kuno di Aceh memiliki prinsip yang sama bila dilihat dari elemen struktur/bangunannya. Ada empat benteng di kawasan Ladong-Kroeng Raya yang perlu dijelaskan di sini, yaitu (1) Benteng (Kuta) Inderapatra Ladong, (2) Benteng (Kuta) Iskandar Muda Kroeng Raya, (3) Benteng (Kuta) Inong Balee Lamreh Kroeng Raya, dan (4) Benteng (Kuta) Lubok Lamreh Kroeng Raya. Masing-masing benteng dibangun dalam jarak tertentu untuk memudahkan diawasi.

Keberadaan perbentengan di kawasan Ladong dan Krueng Raya memiliki arti yang penting dan strategis, karena kawasan ini menjadi pintu masuk jalur pelayaran dunia dari barat-Eropa ke timur-Cina. Ketika itu situasi di kawasan Selat Malaka telah mengalami banyak perubahan setelah kedatangan orang-orang Portugis lalu merebut kota Kesultanan Malaka tahun 1511 M. Dari sini Portugis meluaskan rencananya untuk menundukkan Samudera Pasai, Pedir, Aceh, hingga Daya.

Benteng (Kuta) Inderapatra Ladong

Perbentengan ini cukup menarik berdasarkan rancangannya, karena salah satu dari benteng-benteng kuno Aceh yang tersisa menggunakan teknik pertahanan dengan menggunakan sistem kanal. Perbentengan ini cukup besar dengan elemen-elemen yang sangat rumit untuk dipahami, yaitu (1) sistem kanal atau parit keliling lingkungan perbentengan sebagai pelindung dinding benteng, (2) dua bangunan benteng pengawal yang dikelilingi parit tanpa pintu masuk dilengkapi pintu atau jendela meriam (di setiap empat sisi dinding benteng ada tiga pintu atau jendela meriam) dan dua bangunan pelindung meriam besar serta satu bangunan tertutup yang mungkin untuk menyimpan mesiu meriam atau senjata. (3) Bangunan benteng utama dibangun dengan ukuran besar dan masif dilengkapi pintu dan tangga untuk keluar dan masuk di sisi utara (menghadap laut), meliputi elemen teras keliling dinding benteng untuk patroli, bangunan berteras di tengah halaman benteng utama dengan kamar-kamar di tengah benteng belum dapat diketahui kegunaannya dilengkapi tangga masuk di sisi utara dan timur, dua bangunan sumur beratap kubah (doom) dan teras-teras kecil yang belum diketahui fungsinya. Di belakang benteng utama terdapat (4) lapangan yang terhubung dengan (5) bangunan dengan bentuk denah bersudut banyak, seperti kolam dengan jalan keliling dan tangga masuk di sisi barat kemudian teras kecil dengan tangga untuk naik.

Denah bangunan-bangunan ini selalu mengikuti bentuk persegi empat, kecuali bangunan terakhir. Benteng dibangun di pantai terbuka di hadapan Selat Malaka, tepatnya di kawasan estuaria dengan rawa belakang ditutupi hutan bangka. Rupanya perbentengan ini sangat istimewa karena elemen yang bangunan banyak dan rumit. Pemilihan lokasi yang tidak mudah untuk didekati walau berada di tempat terbuka dan ini salah satu sarat yang utama dari lokasi kubu pertahanan.

Benteng (Kuta) Iskandar Muda Kroeng Raya

Letak benteng ini berada di kuala sungai (Krueng) Krueng Raya, mungkin dibangun untuk mengawal kuala dekat Teluk ‘Krueng Raya’. Benteng Iskandar muda juga menggunakan sistem kanal dikeliling parit yang terhubung dengan sungai, benteng tanpa pintu masuk namun ada tangga turun dan naik diisi timur untuk menuju teras keliling. Pada empat sisi dinding benteng dilengkapi empat pintu atau jendela meriam. Bangunan berteras berukuran besar dengan kamar-kamar di tengah benteng dilengkapi tangga masuk di sisi timur belum dapat diketahui kegunaannya dan dua bangunan sumur.

Sedikit banyak elemen bangunan benteng ini banyak kesamaan dengan benteng-benteng dalam perbentengan Inderapatra Ladong. Berdasarkan elemen yang sama tersebut munkin sekali dapat dijadi petunjuk awal untuk menentukan periodesasi pembangunan kedua perbentengan itu, yaitu dari masa yang sama. Lokasi Benteng (Kuta) Iskandar Muda relatif berdekatan dengan Benteng (Kuta) Inderapatra di baratnya, terutama bila dicapai melalui laut.

Benteng (Kuta) Inong Balee Lamreh Kroeng Raya

Benteng ini tidak begitu istimewa berdasarkan strukturnya, hanya satu sisi dinding menghadap laut (utara) dilengkapi dengan enam pintu atau jendela untuk meriam berdiameter besar. Berada pada sisi barat tanjung Ujung Batee Kapal.

Namun berdasarkan letak dan pemilihan lokasi, benteng ini sangat istimewa karena berada di atas bukit dengan tebing terjal didepatnya di semenanjung bukit Lamreh. Sebenarnya benteng ini tidak sesederhana yang pernah dibayangkan, benteng beton masif tersebut dihubungkan dengan sistem pertahanan yang rumit dan berukuran besar, hanya saja dinding-dinding pertahanannya hanya dibentuk dari tumpukan batu-batu bongkah besar yang diisi dengan batu-batu kecil dicampur dengan tanah dan pecahan batu kapur atau kulit kerang.

Sejalan dengan perjalanan waktu bahan batuan kapur yang digunakan untuk bahan baku struktur larut sehingga beberapa batu kapur tersebut saling merekat. Dalam observasi diketahui benteng ini dibangun secara bertahap dan berkembang mengikuti kontur punggung bukit dengan denah yang sangat rumit.

Perbentengan berlokasi di kawasan perbukitan terjal membentuk tanjung suatu yang sangat istimewa dalam sistem pertahanan dan sangat strategis. Walau bahannya tidak seluruhnya dari tembok beton masif namun letaknya tidaklah mudah untuk didekati oleh musuh. Benteng ini memiliki rancangan bentuk yang sangat berlainan dengan kedua benteng sebelumnya, namun belum dapat dipastikan periodesasi pembangunannya dari masa yang sama.

Benteng (Kuta) Lubok Lamreh Kroeng Raya

Lokasi dan bentuk benteng ini sangat istimewa. Benteng didirikan di dekat kuala, Kuala Bui, pada suatu teluk sempit di sisi timur bukit Lamreh sehingga menjadi pengawal kuala dan teluknya. Benteng ini berdekatan dengan Benteng (Kuta) Inong Balee di baratnya atau tepatnya pada sisi timur tanjung Ujung Batee Kapal.

Benteng ini memiliki bentuk yang sangat berbeda dari bentuk benteng dunia Melayu berdenah persegi empat. Benteng dilengkapi elemen dua bastion, bangunan bulat, yang ditempatkan pada bagian sudut bangunan untuk menempatkan meriam berdiameter besar pada pintu atau jendela meriam. Fungsinya dapat dibandingkan dengan dua benteng pengawal pada perbentengan Indrapatra.

Bastion lebih dikenal pada benteng-benteng (kastil) di Eropa, lalu pengaruhnya menyebar ke Timur Tengah melalui penaklukkan pembebasan Semenanjung Iberia, Spanyol, oleh pasukan Muslim masa Khalifah Umaiyyah dengan gaya benteng Iberia, Perang Salib dengan gaya benteng Perancis dan penaklukan Turki Saljuk lalu Turki Utsmani dengan gaya benteng Romawi Timur Bizantium. Gaya benteng dengan menggunakan elemen bastion hadir di Aceh mungkin sekali ketika kedatangan bantuan Turki Ustmani untuk Sultan Aceh pada masa Sultan ‘Ala ad Din Ria’yah Syah Marhum Kahar.

Elemen benteng yang utama dan paling mencolok secara fisik adalah dinding-dinding keliling yang masif berukuran cukup tebal dan cukup tinggi membentuk suatu lahan yang tertutup. Dinding keliling biasanya dilengkapi jendela-jendela atau pintu-pintu meriam berbentuk setengah lingkaran dan pintu masuk, di Aceh pintu ‘kuta’ atau benteng kadang tidak dibuat secara khusus.

Dari penjelasan di atas sekarang kita dapat membandingkannya dengan struktur Kuta Di Anjong. Dalam perbentengan Kuta Inderapatra, bangunan utama diapit oleh dua bangunan tanpa pintu dan dikelilingi parit. Salah satu diantaranya benteng timur telah direnovasi, dengan empat sisinya dilengkapi pintu-pintu meriam masing-masing tiga pintu.

Khusus untuk dinding sisi utara, pintu-pintu itu berhubungan dengan dua bangunan khusus berbentuk setengah silinder yang nampaknya sengaja dibuat untuk melindungi meriam berukuran cukup besar. Kedua benteng pengawal ini dibangun layaknya sebagai menara tembak seperti dua bastion yang dibangun pada sudut-sudut tembok keliling pada Kuta Lubok. Benteng dibangun untuk mengawasi (pengintai) perairan laut di Selat Malaka sebagai jalur pelayaran dunia, seperti di sepanjang perairan laut Ladong hingga Krueng Raya.

Coba bandingkan dengan letak lokasi perbentengan Kuta Indrapatra di Ladong, Benteng Iskandar Muda, Kuta Inong Balee, dan Kuta Lubok di Krueng Raya. Elemen benteng yang lain yaitu parit keliling yang lebar atau sistem kanal, seperti pada Benteng (kuta) Indrapatra Ladong memiliki parit keliling dengan ukuran cukup lebar maksimal tiga meter dan cukup dalam lebih dari 1 meter dengan dasar lumpur.

Ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk menghambat gerakan pengepungan musuh memasuki lingkungan perbentengan. Contoh lain yang dibuat dengan perhitungan baik yaitu Benteng (Kuta) Iskandar Muda dengan parit keliling yang terhubung dengan sungai dan dekat dengan kuala sungai seakan menjadi pengawal kuala. Bahkan satu-satunya pintu masuk hanya dapat dilakukan melewati sungai yang berada di sisi timur, benteng ini tidak memiliki pintu khusus (bandingkan dengan benteng pengawal pada perbentengan Indrapatra).

Dinding-dinding benteng dibangun cenderung lebih tebal dan lebih tinggi dengan dua bagian tembok batu yang diisi tanah, yang dipadatkan dan dilengkapi selasar keliling tembok untuk penjaga berkeliling benteng saat meronda mengamati keadaan di luar.

Letak ‘Kuta Di Anjong’ berada agak jauh dari perairan laut, Selat Malaka, berjarak lebih kurang 1 mil dari garis pantai (pantai Ujung Batee sekarang). Elemen arsitektural/struktur Kuta Di Anjong tidak memiliki elemen seperti ‘kuta’ atau benteng pada umumnya. Bangunan dibangun di tepian kuala dari daerah pasang surut air laut.

Arah bangunan yaitu arah barat atau kiblat di Mekkah dan ini konsisten dengan letak tangga masuk ke teras/halaman II di sisi timur halaman I dekat sumur batu dan searah dengan letak pintu masuk di sisi dinding pagar keliling timur bangunan utama. Bangunan masjid tradisional Aceh tidak dilengkapi mihrab, bagian bagunan yang membentuk relung tempat imam memimpin shalat berjamaah.

Bangunan atau struktur berukuran besar ini dibina dari susunan bongkahan batu jenis andesitik yang direkat dengan semen berbahan kapur dari koral laut/terumbu karang yang dicampur pasir, tanah, dan pecahan kecil terumbu karang atau kulit kerang. Untuk pekerjaan akhir seluruh permukaan dinding batu, baik untuk bangunan utama maupun pada dinding tanggul teras/halaman II, dilapis dengan ‘turap’ atau lapusan semen halus dari kapur dan pasir berwarna putih (tekhnik yang sama juga digunakan untuk benteng-benteng). Bahan yang sama digunakan untuk membentuk profil pada bagian puncak dan bagian kaki dinding tanggul teras. Sehingga permukaan struktur ini seluruhnya berwarna putih.

Ukuran bangunan utama belum diukur dengan teliti tapi dapat diperkirakan berukuran 10 X 10 m² dengan dinding pagar keliling berukuran tinggi maksimal 60 cm dan tebal 40 cm, serta lebar pintu masung 60-70 cm. Ukuran teras/halaman II 40 X 40 m² dengan tinggi dinding tanggul maksimal 1 meter dan tebal 40 centimeter.

Ukuran bangunan utama ini cukup luas dan dapat menampung banyak orang, sehingga fungsi struktur sebagai bangunan untuk masjid sangat memungkinkan dan menjadi satu alasan untuk itu. Jamaah yang dapat ditampung dalam bangunan utama ini lebih kurang 100 orang dalam tujuh barisan ‘shaf ’, sementara teras/halaman II dapat menampung lebih kurang 200 orang jamaah.

Tangga yang landai di sisi timur dinding tanggul teras/halaman II panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter dengan 9 anak tangga yang masih tersisa. Mungkin ada beberapa anak tangga yang telah hilang tapi jumlah biasanya ganjil. Halaman I memiliki luas 80 X 80 m² dengan elemen sumur berdiameter maksimal 1 meter dan ketebalan cincin bibir sumur maksimal 40 cm.

Sumur batu ini mungkin sekali memiliki bibir cincin tebal yang pendek dengan tinggi maksimal 30-40 cm. Halaman I dikelilingi parit dengan lebar maksimal kurang dari 1 meter dan kedalaman maksimal 40 cm tidak untuk maksud tujuan pertahanan. Bila dibandingkan dengan parit keliling atau sistem kanal pada perbentengan Indrapatra Ladong ukuran dan kedalamannya tidak dapat diandalkan untuk tujuan pertahan. Seperti sumur batu, parit ini mungkin sekali untuk air bersih yang dapat digunakan untuk bersuci sebelum melakukan shalat.

Ini tidak mengherankan. Salah satu elemen masjid tradisional di Nusantara dan juga Aceh dilengkapi parit keliling atau kolam, terutama di depan pintu atau dekat tangga. Lagipula tidak ada tanda-tanda adanya bak penampungan air untuk bersuci atau kulah pada halaman pertama.

Rekonstruksi bentuk struktur Kuta Di Anjong sebagai Mesjid dan Kronologis

Bangunan berdenah persegi empat merupakan bentuk dasar yang telah banyak digunakan dalam arsitektur dan bangunan kuno di dunia. Bangunan masjid dan terutama benteng-benteng kuno warisan Kesultanan Aceh Darussalam telah dikenal, di sepanjang perairan laut dari Ladong hingga Krueng Raya, menggunakan denah persegi empat. Begitu pula dengan gaya bangunan dan penerapan teknologi bangunan permanen dengan batu yang direkat semen kapur dari terumbu karang atau kulit kerang.

Bangunan masjid tradisional Aceh masih belum banyak dikaji dengan lebih seksama. Bangunan terbuka tanpa jendela berupa tembak pagar keliling dengan pintu yang sempit di sisi timur merupakan bentuk umum masjid tradisional Aceh.

Bentuk ini sangat berbeda dengan kebanyakan bentuk mesjid tradisional di Nusantara yang cederung tertutup dan banyak jendela. Sebagai contoh masjid tradisional Aceh yang masih dapat dilihat hingga kini yaitu Masjid Indrapuri Aceh Besar yang dibangun untuk masjid agung dalam federasi Sago XXII Mukim dan Masjid Tuha Ulee Kareng yang dibangun untuk kawasan Mukim XIII Ulee Kareng.

Bentuk bangunan terbuka pada masjid tradisional Aceh dengan bentuk atap piramid yang lebar memberi kesan tertutup. Orang yang berada di dalam ruangan masjid dapat dengan leluasa mengamati keadaan di sekitar, sementara orang yang berada di luar masjid tidak dapat melihat keadaan di dalam masjid.

Denah struktur Kuta Di Anjong memiliki kesamaan dengan Masjid Indrapuri, yaitu denah dengan pembagian halaman memusat dan bangunan utama. Bangunan utama sebagai masjid berada di tengah halaman II berteras. Hanya saja ukuran masjid Indrapuri jauh lebih besar dengan jumlah tiang penyokong atap yang lebar dan besar.

Atap masjid dengan konstruksi dari kayu pada bangunan masjid tradisional Aceh yang khas di Kuta Di Anjong tidak dapat dilihat lagi sisa-sisanya. Namun dari perbandingan dengan bangunan Masjid Indrapuri dapat digambarkan masjid ini dibina dari konstruksi kayu serupa. Yaitu atap-atap berbentuk piramid bersusun tiga tingkat yang disangga oleh empat tiang utama dan 14 tiang penyangga lainnya.

Bangunan masjid dengan 16 tiang dapat dilihat pada Masjid Tuha Ulee Kareng. Tiang penyangga di Masjid Indrapuri berjumlah 20 tiang, selain empat tiang utama penyangga konstruksi kayu atap, jarak antara tiang dengan tiang adalah 2,5 meter.

Tidak ada perbedaan khusus antara tiang utama dengan tiang penyangga. Ukuran dan bentuk tiang (umumnya tiang kayu silinder) sama, namun empat tiang utama berukuran lebih panjang karena menjadi penyangga konstruksi atap paling atas.

Tekhnologi bangunan permanen dengan batu yang direkat semen kapur dari terumbu karang atau kulit kerang, lalu dengan penyelesaian akhir lapisan turap putih dapat dipastikan telah dikembangkan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam terutama setelah Aceh. Ini dimungkinkan setelah mendapat bantuan tenaga tekhnik yang didatangkan oleh Khalifah Utsmani Selim tahun 1566-1567 atas permintaan Sultan ‘Ala ad Din Ri’ayah Syah Marhum Kahar.

Denah masjid dengan elemen bangunan yang unik dan istimewa ini mungkin sekali menjadi petunjuk, bahwa gaya masjid seperti ini dibangun atas perintah Sultan Aceh sendiri. Sementara untuk pelaksanaannya dipercayakan atau dibebankan kepada orang-orang besar istananya, seperti wazir (perdana menteri) atau para ‘orang kaya’ raja.

Belum dapat dipastikan waktu pembagunan struktur besar Kuta Di Anjong. Namun dari gaya bangunan dan tekhnologi binaan mengingatkan pada bangunan-bangunan benteng yang dibangun bersamaan dengan kedatangan ahli tekhnik bangunan Turki Utsmani tersebut.

Secara umum bangunan-bangunan ini memiliki kesamaan gaya yaitu dinding atau pagar tembok dengan bagian puncak dan bagian kakinya dihias profil sederhana berbentuk sisi genta/lonceng (ojief). Profil serupa juga ditemukan pada dinding-dinding Benteng (Kuta) Indrapatra Ladong dan Iskandar Muda Krueng Raya, yang letaknya berada beberapa kilometer di timur lokasi Kuta Di Anjong.

Bentuk profil seperti ini sudah sangat dikenal dalam seni bangunan miniatur sebagai contoh yang sangat melimpah yaitu pada bagian kaki batu nisan Aceh. Dinding atau pagar keliling tersebut memiliki sisi-sisi yang sama lebar sehingga menghasilkan denah persegi empat. Gaya bangunan seperti ini tidak dikenal di Turki masa Utsmani dan ini menjadi ciri bangunan-bangunan permanen di Kesultanan Aceh kemudian.

Jejak dan gaya bangunan Turki Utsmani ini dapat kita saksikan sekarang di Benteng (Kuta) Indrapatra Ladong, terutama pada bangunan-bangunan sumur yang cincinnya dibina dari susunan batu bongkahan yang direkat dengan semen. Cincin bagian bibir sumurnya tebal dan pendek.

Gaya yang sangat unik dapat dilihat dalam lingkungan benteng utama di Benteng (Kuta) Indrapatra ini, yaitu sumur besar dengan bangunan batu memiliki empat pintu dengan lengkung-lengkung setengah lingkaran dan bentuk atap kubah (doom) dengan konstruksi batu dan perekat semen.

Bagian puncak kubah dibentuk mahkota dari elemen geometrik bulat yang sederhana, namun secara tekhnis cukup rumit. Bentuk kubah (doom) gaya Romawi Timur (Byzantin) yang kemudian banyak digunakan untuk gaya masjid-masjid Turki Utsmani, yaitu bentuk kubah rendah dengan tepian yang lebar dan datar. Namun kubah bangunan sumur ini bulat dan tidak bersudut banyak (poligonal) seperti yang umumnya ditemukan di Byzantium.

Bentuk bangunan dengan gaya arsitektural dan tekhnologi dapat dipastikan bangunan atau struktur ini dibangun oleh orang yang sama, dengan bangunan benteng-benteng di sepanjang pantai Ladong hingga Krueng Raya. Sultan Aceh merupakan orang yang memerintahkan pembangunan struktur-struktur berukuran besar di seluruh wilayah kekuasaannya, begitu dokumen-dokumen Aceh sendiri memberitakan.

Pertengahan akhir abad ke-16 Masehi dapat dipercaya mulainya pembangunan struktur-struktur besar dengan tekhnologi batu dan semen kapur seperti itu. Untuk periode awal, Aceh Darussalam digunakan untuk membangun perbentengan umumnya lalu masjid dan terakhir makam keluarga istana yang dikenal sebagai kandang dibangun dengan tekhnologi batu dan semen kapur. Dan penguasaan atas tekhnologi ini hanya menjadi hak istimewa Sultan Aceh kemudian hari (lihat Denys Lombard dan Anthony Reid). Ini menjadi satu bukti jarangnya jenis temuan arkeologi yang bersifat arsitektural dan monumental dari warisan Kesultanan Aceh.

Walaupun demikian, di tempat ini perlu dilakukan pekerjaan-pekerjaan arkeologi dengan ekskavasi untuk mengetahui bukti-bukti lain yang dapat memberikan gambaran lebih rinci tentang penggunaan struktur ini di masa lampau.

Penemuan jenis keramik Cina atau koin emas (dirham) atau jenis benda lainnya diharapkan dapat ditemukan dalam kerja arkeologi di tempat ini untuk membantu menentukan pertanggalan (kronologi) pembuatan dan masa penggunaan struktur ini di masa lampau. Dari hasil observasi dan survey permukaan di sekitar lokasi struktur belum ditemukan adanya jenis temuan-temuan tersebut.

Masjid pastilah dibangun berdekatan dengan lokasi pemukiman. Dalam susunan kawasan tradisional Aceh masa Kesultanan Aceh, masjid dibangun dalam suatu mukim untuk beberapa kampung yang saling berdekatan dan dalam suatu negeri tempat sultan menempatkan wakilnya atau raja bawahan. Dalam negeri Islam, masjid menjadi pusat pemukiman Muslim dan menjadi pusat kegiatan masyarakat di sekitarnya.

Hikayat Aceh menjelaskan bahwa salah satu tanggung jawab dan kewajiban pemimpin pemerintahan yang dinobatkan Sultan Aceh untuk kawasan tertentu adalah membangun masjid dan memberikan jaminan untuk pemeliharaan serta memakmurkannya (T. Iskandar).

Sultan Aceh sendiri membangun masjid besar kerajaan di dekat istananya seperti Masjid Baiturrahman dan masjid-masjid besar lainnya, seperti Masjid Indrapurwa dan Masjid Indrapuri sebagai lambang supremasi kekuatan politik negeri Islam.

Lokasi Kuta Di Anjong secara konteks arkeologisnya sangat unik, karena bangunan ini terkesan jauh dari pemukiman. Hal tersebut berdasarkan bukti belum atau tidak ditemukan tanda-tanda adanya pemukiman kuno di sekitar tempat ini. Tanda adanya pemukiman kuno di Aceh yang mudah untuk diamati yaitu makam-makam kuno dan temuan permukaan berbagai jenis benda.

Sementara di Benteng Kuta Indrapatra, tanda-tanda pemukiman kuno dapat diamati berada di timur sisi luar perbentengan berupa makam-makam kuno dan temuan permukaan sebagai adanya pemukiman kuno. Namun hal tersebut tidaklah suatu yang janggal dengan alasan letak bangunan ini berada paling barat dari sederetan perbentengan di kawasan Ladong dan Krueng Raya dengan pemukiman yang cukup padat di sekeliling perbentengannya.[]

Gambar rekonstruksi bangunan masjid tradisional Aceh semi permanen mengikuti model bentuk masjid beratap piramid bersusun dua, seperti Masjid Tuha Ulee Kareng.
Gambar rekonstruksi bangunan masjid tradisional Aceh semi permanen mengikuti model bentuk masjid beratap piramid bersusun dua, seperti Masjid Tuha Ulee Kareng.

 

peta ladong
Peta geologi Ladong dan Kroeng Raya, Aceh Besar (sumber E. Edwards McKinnon, 2010)
Peta Ladong
Peta Ladong

 

* Penulis adalah Deddy Satria, arkeolog yang tinggal di Banda Aceh. Selama ini bekerja sebagai peneliti arkeologi di Aceh sejak 2001

Leave a Reply