Kisah Snouck “Membeli” Habib

Pertemuan Habib Abdurrachman Az-zahir dengan Snouck Hourgronje di Mekkah adalah awal penelitian akademis berujung politik tentang Aceh. Banyak keterangan Habib tentang Aceh yang menjadi dasar bagi Snouck dalam menyusun Atjeh Verslag untuk memecah belah Aceh.

Christian Snouch Hurgronje lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Ia besar dalam lingkungan keluarga pendeta Protestan, karena itu pula sejak kecil Snouck sudah belajar teologi.

Tamat sekolah menengah pada tahun 1875, Snouck melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sinilah ia mendalami teologi dan sastra Arab. Ia berhasil tamat dalam kurun waktu lima tahun dengan predikat cum laude atas desertasinya tentang Makaansche Feest (Perayaan di Makkah-red).

Berbekal kemampuan bahasa Arab, Snouck melanjutkan pendidikan ke Makkah untuk mempelajari Islam pada tahun 1884. Di sana ia berhasil menarik hati para ulama setelah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Pada saat yang sama di Aceh terjadi perang besar-besaran dengan Belanda. Pada 13 Oktober 1887, setelah terjadi perang sengit, Mangkubumi merangkap Menteri Luar Negeri Kerajaan Aceh, Habib Abdurrachaman Az-zahir menyerah dengan syarat kepada Belanda.

Syaratnya, ia akan menetap di Mekkah dengan menerima uang tahunan atas tanggungan pemerintah Kolonial Belanda senilai 10.000 dollar Amerika. Bagi Belanda, menyerahnya Habib Abdurrahman merupakan sebuah kesuksesan besar. Pada 24 November 1887, Habib Abdurrahman dikirim ke Jeddah dengan menumpang kapal Hr Ms Cuaracao.

Pasukan Belanda pun euforia terhadap keberhasilan tersebut. Malah, Mayor Macleod, seorang opsir Belanda, memplesetkan lagu “Faldera dera” yang popular saat itu untuk menggambarkan kesuksesan tersebut. Bunyinya:

Nun di sana terapung istana samudra

Namanya Cuaracao

Habib yang berani akan dibawa

Ke Mekkah tujuan nyata

Kini ia berdendang riang faldera dera

Untuk gubernemen kita

Banyaknya sekian ribua dolar sebulan

Tidak cerdikkah saya?

Kisah membeli kebaikan musuh dengan suapan merupakan upaya yang gencar dilakukan Belanda menaklukkan para pemimpin Aceh kala itu. Termasuk menggaji kaum ulee balang sebagai kaki tangannya.

Meski Habib Abdurrahman sudah di Mekkah, Belanda terus melakukan hubungan korespondensi dengannya untuk mengetahui seluk beluk dan kelemahan masyarakat Aceh. Dari Mekkah, pada 3 Muharram 1302 atau Oktober 1884, Habib Abdurrahman mengirim surat kepada pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Isinya, sebuah usulan bentuk administrasi pemerintahan yang menurutnya akan diterima oleh rakyat Aceh.

Dalam surat itu Habib Abdurrahman mengusulkan agar Belanda membentuk administrasi pemerintahan yang baru di Aceh, yakni mengangkat seorang muslimin yang mempunyai pemikiran cemerlang, berasal dari keturunan ninggrat dan paham akan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan Aceh.

Masih menurut Habib Abdurrahman dalam surat tadi, orang tersebut harus diberi gelar raja atau sederajat, sebagai administrator yang bekerja untuk Belanda atas nama seluruh rakyat Aceh. Orang tersebut juga harus mampu menjadi penyeimbang antara hukum agama dengan hukum duniawi.

Menurut Habib, bila orang seperti itu diangkat sebagai pemimpin maka rakyat Aceh akan mengikutinya. Di akhir surat itu, Habib Abdurrahman membubuhkan tanda tangannya yang disertai stempel rijksbestuurder dari Pemerintah Aceh.

Tapi saran Habib tidak ditanggapi Gubernur Hindia Belanda. Karena kecewa, Habib kemudian menyerahkan dokumen atau naskah-naskah tentang Aceh kepada Snouck pada tahun 1886.

Naskah itu oleh Snouck kemudian diberikan kepada Ministerie van Kolonieen (Menteri Jajahan Belanda). Sebagai ilmuan Snouck juga menawarkan diri untuk melakukan penelitian di Aceh agar bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Aceh untuk menaklukkannya.

Snouck berhasil masuk ke Aceh dan menetap di Kutaraja Pada 9 Juli 1891. Ia menjadi orang kepercayaan Van Huetz, seorang jenderal yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Aceh (1904-1909). Setelah melakukan penelitian di Aceh, Snouck kemudian menulis Atjeh Verslag yang berisi laporan kepada Belanda tentan alasan perang Aceh.

Atjeh Verslag merupakan laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher.

Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah ulee balang tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah beroposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu singkat metode yang dipakai berhasil.

Selain itu Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera. Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh, Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.

Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang marsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras. Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasehat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam.

Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Dalam lingkup internal mereka, perubahan paradigma ini memunculkan konflik kepentingan yang lain yaitu tentang posisi penguasa di Aceh. Pendekatan tanpa kekerasan, otomatis pengurangan pasukan harus dilakukan. Sedangkan Van Heutsz merupakan orang yang sangat menantang itu. Ia bahkan mengusulkan status di Aceh tetap dipegang Gubernur Militer.

Namun segala taktik Snouck itu ternyata tidak sepenuhnya mampu meredam perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Malah sampai Snouck kembali ke Belanda sebagai Penasihat Menteri Urusan Koloni dan meninggal di sana pada 16 Juli 1936. Saat itu perang Aceh melawan Belanda masih berkecamuk.[](bna)

Leave a Reply