Home Headline Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

Ini Sebab Tradisi Meugang Begitu Melekat di Aceh

151
0

BANDA ACEH – Dosen FKIP Sejarah Universitas Syiah Kuala, Teuku Abdullah atau TA Sakti, mengatakan tradisi meugang di Aceh begitu kental dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Ini karena tradisi ini sudah diwariskan secara turun temurun.

“Sejak masa raja-raja terdahulu. Oleh karena itu sulit untuk dihilangkan,” kata TA Sakti kepada portalsatu.com, Selasa 22 September 2015.

Kata TA Sakti, pada masa raja-raja terdahulu, termasuk Sultan Iskandar Muda, kerajaan membuat aturan khusus soal meugang. Dimana, pihak kerajaan mendata seluruh fakir miskin dan janda untuk diberikan uang, daging serta pakaian di satu hari jelang lebaran.

“Ini berlaku ratusan tahun. Makanya kemudian berkembang menjadi tradisi. Seolah-olah membeli daging dan membawa pulang ke rumah adalah kewajiban. Seorang pria Aceh yang tak membawa pulang daging meugang akan merasa hilang marwahnya,” ujar TA Sakti.

Usai masa kerajaan, kata TA Sakti, minat masyarakat membeli daging saat meugang tetap tinggi.

“Masyarakat meuripee (patungan-red) membeli daging. Yang tidak punya uang akan membayar usai panen padi. Yang pasti, meugang tetap berlangsung,” kata TA Sakti.

Kata TA Sakti, demikian juga dengan saat ini. Animo masyarakat membeli daging meugang tetap tinggi.

“Jadi adalah hal yang wajah jika harga daging meugang tinggi di Aceh. Bagi laki-laki Aceh, membawa pulang daging meugang ke rumah adalah marwah, walaupun harus mengutang,” katanya. [] (mal)