Di Aceh Terdapat 712 Objek Cagar Budaya

BANDA ACEH – Kepala Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, T. Zulkarnaini, menjelaskan cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan seperti bangunan cagar budaya, atau kawasan cagar budaya yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Hal itu disampaikan Zulkarnaini dalam Kajian Inspiratif Portal Satu atau KIPaS yang dibuat di kantor redaksi portalsatu.com siang tadi, Jumat, 8 Mei 2015.

“Cagar budaya itu memiliki kriteria sendiri misalnya berusia 50 tahun atau lebih atau memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa sebagai sebuah identitas,” katanya.

Contoh benda yang termasuk dalam benda cagar budaya seperti masjid, candi atau makam. Tiga hal ini berdasarkan sifatnya termasuk dalam kategori sakral. Ada juga yang bersifat profan seperti tugu, rumah tinggal, monumen atau istana.

Dalam ilmu arkeologi, kata Zulkarnaini, benda cagar budaya dikenal dalam tiga unsur yaitu artefak, atau benda bergerak yang bisa dipindahkan. Lalu fitur seperti benda-benda tetap yang tidak bisa dipindahkan dan ekofak tinggalan binatang.

“Penyelamatan benda cagar budaya ini menjadi penting selain untuk kepentingan ilmu pengetahuan sejarah juga untuk kepentingan publik dan nilai-nilai estetika, hukum, kelangkaan dan faktor ekonomis,” katanya.

Di Aceh katanya, menurut data bidang PPSK Disbudpar tahun 2015 ini, ada sekitar 712 objek cagar budaya berupa makam, mesjid kuno, benteng, rumah tinggal, tugu atau monumen, dayah hingga alat rumah tangga. Juga dalam bentuk mata uang, keramik, dan bangunan benda-benda bersejarah lainnya.[] (ihn)

Foto ilustrasi nisan kuno di Aceh. Dokumen foto Mapesa

Leave a Reply