Home Histori Bukan Kartini, Inilah Para Pahlawan Perempuan dari Aceh

Bukan Kartini, Inilah Para Pahlawan Perempuan dari Aceh

416
0

INDONESIA hari ini memperingati Hari Kartini. Seorang perempuan yang dinobatkan sebagai pahlawan karena dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita. Hal ini jelas berbeda dengan Aceh yang memiliki pahlawan sendiri di kalangan kaum hawa.

Aceh memiliki segudang pahlawan perempuan yang sangat disegani kawan dan lawan. Sebut saja di antaranya adalah Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meuligoe, Pocut Meurah Biheu, Pocut Baren dan Teungku Fakinah. Selain itu, Aceh juga memiliki negarawan wanita yang memiliki peranannya di masa kerajaan dulu. Mereka adalah Ratu Nahrasiyah, Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Sri Ratu Kamalat Zainatuddin Syah atau kerap dikenal Ratu Kamalat.

Berikut sedikit ulasan tentang para pahlawan wanita asal Aceh:

1. Ratu Nahrisyah

Ratu Nahrisyah memimpin Kerajaan Samudera Pasai pada tahun1416-1428 M. Ia dikenal sebagai seorang yang arif dan bijaksana. Nahrisyah mangkat pada tanggal 17 Zulhijjah 831 H atau 1428 M.

Beberapa referensi menyebutkan Kerajaan Nakur pernah menyerang Pase pada 1470 M. Dalam pertempuran tersebut, suami Nahrisyah tewas. Ia pun kemudian bersumpah di hadapan rakyatnya.

“Siapapun yang dapat membunuh Raja Nakur, saya bersedia untuk menikah dengannya dan memerintah kerajaan ini bersama suami saya tersebut.”

Seorang pejabat Panglima Laot kerajaan bernama Salahuddin, bersedia mengemban tugas tersebut. Salahuddin berhasil membunuh raja Nakur pada tahun 1409. Sri Ratu kemudian menepati janjinya menikah dengan pembunuh Raja Nakur.

Dua tahun setelah pernikahannya, Sri Ratu mengutus Salahuddin untuk mengirim hadiah kepada Kaisar Cina, Cheng Tsu, pada 1411 M. Namun ia dibunuh oleh anak tirinya, putra Sri Ratu dari suami pertama, saat kembali ke kerajaan Samudera Pasai seperti ditulis dalam buku China ‘Ying Yal Cheng Chu’.

Kunjungan Salahuddin ke Cina mendapat balasan. Laksamana Cheng Ho diutus untuk memberikan hadiah lonceng besar Cakra Donya dari sang Kaisar pada 1415 M.

Sri Ratu Nahrisyah kemudian mangkat pada Senin, 17 Zulhijjah, 831 H, bertepatan 27 September 1428 M. Kerajaan Samudra Pase disatukan dengan Aceh Raya Darussalam oleh Sulthan Ali Mughayatsyah, tahun 1530 M.

Di makamnya bisa dilihat ayat-ayat Suci Al-Quran bertuliskan kaligrafi yang indah. Makam ini terletak di Kabupaten Aceh Utara. Nahrisyah memegang pucuk pimpinan tahun 1416-1428 M.

Ratu Nahrisyah dikenal arif dan bijak, memerintah dengan sifat keibuan dan penuh kasih sayang. Harkat dan martabat perempuan begitu mulia sehingga banyak yang menjadi penyiar agama pada masa pemerintahannya. Nahrisyah mangkat pada tanggal 17 Zulhijjah 831 H atau 1428 M.

Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera ± 18 km sebelah timur Kota Lhokseumawe, tidak jauh dari Makam Malikussaleh.

Surat Yasin dengan kaligrafi yang indah terpahat dengan lengkap pada nisannya. Disamping itu tercantum pula ayat Kursi, Surat Ali Imran ayat 18 19, Surat Al-Baqarah ayat 285 286 dan terpahat sebuah penjelasan dalam aksara Arab yang artinya: “Inilah makam yang suci, Ratu yang mulia almarhumah Nahrisyah yang digelar dari bangsa chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, mangkat pada hari Senin 17 Zulhijjah 831 H”.

Ratu Nahrisyah yang memerintah tahun 1420-1428 M adalah anak dari Malikuzzahir atau cucu dari Sultan Malikussaleh. Makamnya terbuat dari batu pualam yang terindah pahatannya di Pulau Sumatera. Mangkat pada hari Senin 17 Zulhijjah 831 H atau 27 September 1428 H.

Lokasi makam ini terletak di Desa Kuta Krueng Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara 18 Km arah timur Kota Lhokseumawe, dalam komplek makam ini terdapat 38 batu pusara.

2. Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Syah

“Bahwa adalah bagi baginda itu beberapa sifat kepujian dan perangai yang kebajikan lagi takut akan Allah dan senantiasa sembahyang lima waktu dan membaca kitabullah dan menyuruh orang berbuat kebajikan dan melarang orang berbuat kejahatan seperti yang diturunkan Allah kepada nabi kita Muhammad s.a.w. Dan terlalu sangat adil perihal memeriksai dan menghukumkan segala hamba Allah. Maka daripada berkat daulat dan sa’adat duli yang maha mulia itu jadi banyaklah segala hamba Allah yang salah dan sembahyang menuntut ilmu. Syahdan ialah yang sangat tawadhu’nya akan Allah subhanahu Wata’ala. Maka dianugerahi Allah akan dia lama menjunjung Khalifahnya dan pada masanyalah orang mendapat beberapa galian emas itu dan ialah yang mangeraskan syariat Nabi kita Muhammad s.a.w.”

Demikian Bustanussalatin menukilkan kisah Sultan pertama Aceh Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin yang menggantikan posisi Iskandar Tsani pada 1641. Bustanussalatin merupakan salah satu karya besar yang ditulis Nuruddin Ar Raniri, salah satu ulama besar Kerajaan Aceh Darussalam.

Ratu Tajul Alam Safiatuddin adalah putri kandung tertua Sultan Iskandar Muda yang lahir pada tahun 1612. Ia dinikahkan dengan Sultan Mughal, salah satu anak angkat Sultan Iskandar Muda yang kemudian bergelar Sultan Iskandar Tsani.

Berdasarkan catatan Bustanussalatin, diketahui Ratu Tajul Alam memerintah Kerajaan Aceh Darussalam hingga 34 tahun lamanya. Masa pemerintahannya diwarnai dengan berbagai masalah, salah satunya adalah gesekan perdagangan di Selat Malaka dengan Belanda yang telah menguasai Mataram dan Betawi. Di masanya memerintah juga banyak wilayah Aceh yang jatuh ke tangan Belanda seperti Minangkabau.

Namun di balik hal itu, masa kepemimpinan Tajul Alam yang terbilang lama bagi seorang perempuan tersebut juga banyak diwarnai dengan kemajuan demokrasi pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam. Berdasarkan catatan H. Mohammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, diketahui pengaruh perempuan di kalangan eksekutif dan legislatif kian besar di masa Tajul Alam menjadi sultanah.

Seperti diketahui, Kerajaan Aceh telah memiliki suatu badan mahkamah atau badan resmi yang merupakan badan musyawarah seperti DPR jauh sebelum Sultanah Tajul Alam Safiatuddin memerintah. Namun di masanya memerintah, Tajul Alam memperbesar keterlibatan wanita dan menambah jumlah anggota di Balai Majelis Mahkamah Rakyat.

Di masa Tajul Alam Safiatuddin juga ditemukan hasil bumi berupa emas di wilayah Kerajaan Aceh Darussalam. Temuan ini memperbesar pengaruh Aceh di perdagangan Selat Malaka dan semakin membuat Belanda ingin menancapkan kukunya.

Banyak yang ingin mengkudeta kedudukan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin dari tahta kerajaannya. Namun hal tersebut tidak berhasil dilakukan karena adanya dukungan dari dua ulama besar yang berpengaruh seperti Nuruddin Ar Raniri dan Syekh Abdurrauf As Singkili. Satu-satunya bahaya yang mengganggu kedaulatan Kerajaan Aceh Darussalam saat itu datang dari Belanda yang telah berhasil memonopoli perdagangan perak Kerajaan Kedah.

Kendati mendapat tekanan dari bangsa perenggi (sebutan untuk orang-orang bule di masa Kerajaan Aceh Darussalam), namun kekuasaan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin tetap berdiri hingga akhir hayatnya. Bahkan propaganda Belanda menciptakan kekisruhan politik dalam negeri Aceh juga berhasil ditepis Sultanah Tajul Alam dengan semakin mempererat persatuan dan kesatuan pembesar kerajaan.

Belanda di bawah kompeni dagang Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) akhirnya mengirimkan puluhan kapal perang untuk memblokade laut Kerajaan Aceh Darussalam. Tujuan utamanya adalah memonopoli perdagangan di Selat Malaka.

Apa yang dilakukan Belanda sama sekali tidak berhasil melemahkan Kerajaan Aceh Darussalam. Hingga akhirnya Ratu Tajul Alam Safiatuddin mangkat pada 23 Oktober 1675 dan digantikan Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah.

3. Sri Sultan Nurul-Alam Naqiatuddin Syah

Sultanah Naqiatuddin adalah puteri Malik Radiat Syah. Saat ia memerintah, ada perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi.

Maksud dari pemerintahan macam ini agar birokrasi tersentralisasi dengan menyerahkan urusan pemerintahan dalam kenegarian-kenegarian yang terbagi Tiga Sagi itu. Namun, setiap Sagi tidak berarti melakukan pemerintahan sendiri-sendiri. Untuk situasi sekarang, sistim pemerintahan Kerajaan Aceh dulu sama dengan otonomi daerah.

Sultanah juga menyempurnakan Adat Meukuta Alam yang dulu dirancang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal lain yang dilakuakan oleh Sultanah adalah mengeluarkan mata uang emas. Masa pemerintahannya singkat dan tidak ada prestasi besar yang dicapainya. Bebarapa peristiwa besar dialami masa pemerintahannya yaitu terbakarnya Masjid Raya Baiturrahman dan Istana yang banyak menyimpan kekayaan emas dan perhiasan.

4. Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah

Naqiatuddin Syah meninggal, digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Menurut orang Inggris yang mengunjunginya tahun 1684, usianya ketika itu sekitar 40 tahun. Ia digambarkan sebagai orang bertubuh tegap dan suaranya lantang.

Pada masa pemeritahannya, Aceh mendapatkan kunjungan dari Inggris yang hendak membangun sebuah benteng pertahanan guna melindungi kepentingan dagangnya. Ratu menolaknya dengan mengatakan, Inggris boleh berdagang, tetapi tidak dizinkan mempunyai benteng sendiri. Ratu mengetahui maksud dari benteng yang dipersenjatai itu.

Tamu lainnya adalah kedatangan utusan dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El. Hajj Yusuf E. Qodri yang diutus oleh Raja Syarif Barakat yang datang tahun 1683. Dari utusan tersebut Ratu menerima sejumlah hadiah. Sekembali ke Mekkah, utusan melaporkan kepada Raja Syarif betapa baik dan sempurnanya pemerintahan Ratu Kerajaan Aceh yang rakyatnya taat memeluk Islam. Sama halnya dengan dua ratu sebelumnya, Zakiatuddin Syah mengeluarkan mata uang sendiri. Ratu meninggal 3 Oktober 1688 lalu digantikan oleh Kamalat Zainatuddin Syah.

5. Ratu Kamalat Zainatuddin Syah

Silsilah ratu ini tidak banyak diketahui. Ada dua versi tentang asal usulnya. Perkiraan pertama ia anak angkat Ratu Sultanah Safiatuddin Syah dan lain pihak mengatakan ia adik Ratu Zakiatuddin Syah. Yang jelas, Ratu Zakiatuddin Syah berasal dari keluarga-keluarga Sultan Aceh juga.

Pada masa Kamalat Syah bertahta, para pembesar kerajaan terpecah dalam dua pendirian. Golongan orang kaya bersatu dengan golongan agama menginginkan kaum pria kembali menjadi Sultan. Kelompok yang tetap menginginkan wanita menjadi raja adalah Panglima Sagi.

Perbedaan pendapat itu sebetulnya bukan sesuatu yang baru dan pernah menimbulkan kontak senjata. Namun, kemudian kedudukan Kamalat Syah tidak dapat lagi dipertahankan setelah para ulama meminta pendapat dari Qadhi Malikul Adil dari Mekkah. Dalam surat balasannya, Malikul Adil menyatakan bahwa kedudukan wanita sebagai raja bertentangan dengan syariat Islam. Ia turun tahta pada bulan Oktober 1699.

Pada masa pemerintahannya, ia mendapatkan kunjugan dari Persatuan Dagang Perancis dan serikat dagang Inggris East Indian Company. Pada masanya pula, Aceh memiliki mata uang emas.

6. Laksamana Malahayati atau “Keumalahayati”

Malahayati merupakan figur yang banyak muncul dalam cacatan penulis asing dan bangsa Indonesia sendiri. Malahayati menjadi Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil (1589-1604). Ia mendapat kepercayaan menjadi orang nomor satu dalam militer dari sultan karena keberhasilannya memimpin pasukan wanita. Ia berasal dari keturunan sultan. Ayahnya, Mahmud Syah, seorang laksamana. Kakeknya dari garis ayahnya, juga seorang laksamana bernama Muhammad Said Syah, putra Sultan Salahuddin Syah yang memerintah tahun 1530-1539. Sultan Salahhuddin sendiri putera Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Dilihat dari asal keturunannya, darah meliter berasal dari kakeknya.

Pembentukan pasukan wanita yang semuanya janda yang disebut Armada Inong Bale itu merupakan ide Malahayati. Maksud dari pembentukan pasukan wanita tersebut, agar para janda tersebut dapat menuntut balas kematian suaminya. Pasukan ini mempunyai benteng pertahahanan. Sisa–sisa pangkalan Bale Inong masih ada di Teluk Kreung Raya.

John Davis, seorang berkebangsaan Inggris, nahkoda kapal Belanda yang mengunjungi Kerajaan Aceh pada masa Malahayati menjadi laksamana, melaporkan, Kerajaan Aceh pada masa itu mempunyai perlengkapan armada laut terdiri dari 100 buah kapal perang, diantaranya ada yang berkapasitas 400-500 penumpang. Ketika itu Kerajaan Aceh memiliki angkatan perang yang kuat. Selain memiliki armada laut, di darat ada pasukan gajah.

Kapal-kapal tersebut bahkan juga ditempatkan di berbagai tempat kekuasaan Aceh. Kekuatan Keumalahayati mendapat ujian ketika terjadi kontak senjata antara Aceh dengan pihak Belanda. Pada tanggal 21 Juni 1599, dua kapal Belanda yang dipimpin dua bersaudara Coernelis de Houtman dan Federick de Houtman berlabuh dengan tenang di Aceh. Karena mendapat hasutan dari Portugis, Laksamana Malahayati menyerang kedua kapal tersebut.

Dalam penyerangan itu, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh. Sedangkan Federick de Houtman ditawan dan dijebloskan ke tahanan Kerajaan Aceh. Sesuatu yang menggegerkan bangsa Eropa dan terutama Belanda – sekaligus menunjukkan kewibawaan Laksamana Keumalahayati ketika Mahkamah Amstredam menjatuhkan hukuman denda kepada van Caerden sebesar 50.000 gulden yang harus dibayarkan kepada Aceh.

Uang sejumlah itu benar-benar dibayarkan kepada yang berhak. Bayar denda tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh menggunakan dua kapal menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas muatan lada lalu pergi meninggalkan Aceh. Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksama adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdoelhamid, Sri Muhammad dan Mir Hasan ke Belanda. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari sebuah kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Belanda. Banyak cacatan orang asing tentang Malahayati. Kehebatannya memimpin sebuah angkatan perang ketika itu diakui oleh negara Eropa, Arab, China dan India.

Cut Nyak Dhien7. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, wilayah VI Mukim dengan ibukotanya Peukan Bada sekitar tahun 1850. Kampung ini termasuk wilayah VI Mukim dengan ibu kotanya Paukan Bada. Wilayah VI Mukim terletak di pantai utara bagian barat Aceh Besar. Di bagian utara wilayah ini berbatasan dengan laut dengan Ulee Lheue sebagai pelabuhannya.

Antara Tanjung dan Ulee Lheue terdapat sebuah danau yang tenang, dan dapat dipakai untuk berlabuh perahu dan kapal. Di bagian timur wilayah ini, yaitu yang berbatasan dengan Meuraksa terdapat Kampung Bitai dan Lamjamu. Di bagian selatan dan barat daerah ini dipagari oleh Pegunungan Ngalau Ngarai Beradeun. Di bagian pantainya terdapat Kampung Lamtengoh, tempat kelahiran penyair Aceh terkenal Dulkarim (Abdul Karim).

Di Kampung Lampagar terdapat makam Sultan Sulaiman dan Lamteh yang dihancurkan oleh serangan Belanda dalam tahun 1875. Di bagian selatan Peukan Bada, di samping Cut Cako terdapat Ngalau Ngarai Beradin, sebuah tempat yang strategis dan menjadi tempat bertahan pejuang Aceh dan kemudian Kampung Lampisang tempat Cut Nyak Din dan Teuku membangun rumah tangga setelah kembali dari pengungsian. Ayah Cut Nyak Dhien bernama Nanta Muda Seutia, berasal dari turunan Makhdum Sati, seorang perantau dari daerah Sumatra Barat.

Ia adalah cikal-bakal yang membangun wilayah VI Mukim menjadi lebih terkenal dan makmur. Ibunya seorang turunan bangsawan yang terpandang dari Kampung Lampagar. Karena istrinya inilah maka nama Nanta Muda Seutia makin terkenal dan dihormati oleh rakyat VI Mukim. Sebelum Nanta menjadi uleebalang, wilayah VI Mukim dipimpin oleh Uleebalang Teuku Nek dan pusat kedudukannya berada di Meuraksa.

Ia menjalankan pemerintahan wilayah VI Mukim kurang adil dan kurang bijaksana. Rakyat sangat tertekan dan menderita oleh tindakan pemerasan yang dilakukan oleh Teuku Nek. Karena praktek yang merugikan ini, ia tidak disenangi oleh rakyat VI Mukim. Pada abad ke-I 7 kekuasaan Aceh telah meluas sampai ke Sumatra Barat. Daerah ini sangat penting artinya bagi Aceh baik dalam bidang politik maupun dalam bidang ekonomi. Dalam bidang politik berarti Aceh telah menanamkan kekuasaannya dan daerah ini merupakan “vazal”.

Sedangkan dalam bidang ekonomi daerah ini merupakan penghasil lada yang sangat penting dalam pasaran dunia dan dengan menguasai daerah tersebut berarti dapat menarik keuntungan yang banyak bagi Aceh. Karena perkembangan ini Ratu Tajjul Alam mengangkat Uleebalang Panglima Nanta untuk mengatur dan mengawasi daerah vazal ini. Salah seorang keturunannya, ialah Makhdun Sati. Dalam tubuh Makhdun Sati mengalir darah Aceh dan darah Minangkabau.

Cut Nyak Dhien tidak lama menikmati masa remaja karena dalam usia yang sangat muda telah dikawinkan oleh orang tuanya. Perkawinan ini sesungguhnya tidak terlepas dari cita-cita orang tuanya untuk meneruskan kedudukan mereka sebagai penguasa di wilayah VI Mukim. Tetapi berkat bimbingan orang tua dan atas kebijaksanaan suaminya, Teuku Cik Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien tumbuh menjadi manusia dewasa dan dapat mengikuti irama rumah tangga yang dibina bersama suaminya.

Dalam rumah tangga ia menjadi seorang istri yang bijaksana, sabar dan dapat mendorong suami untuk maju dengan sumbangan pikiran yang diberikannya. Ia mampu tampil tenang dan rela berpisah dengan suaminya selama kurang lebih dua setengah tahun ketika tentara Belanda melancarkan serangan ke wilayah VI Mukim.

Ia bersama anaknya yang masih bayi dan orang tuanya turut serta bersama rakyat meninggalkan kampung untuk menghindari kejaran musuh. Semua yang dialaminya dalam pengungsian menambah ketabahan dan kekokohan hatinya untuk menghadapi segala cobaan. Semangatnya makin tertempa dan mulailah tumbuh suatu benih perlawanan yang terus mekar dalam dadanya terhadap kolonialisme Belanda.

Kehadiran Teuku Umar di sampingnya makin membawa pengharapan setelah suaminya, Teuku Chik Ibrahim Lamnga gugur. Sejak menikah dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien terus berada di sisinya memimpin serangan terhadap Belanda. Saat Teuku Umar tersesat dan mengkhianati perjuangan rakyat Aceh, Cut Nyak Dhien pula yang menyadarkan Ampon tersebut untuk kembali mengibarkan panji Kerajaan Aceh. Hingga akhirnya Teuku Umar meninggal di Ujong Kala, Meulaboh, 11 Februari 1899 malam.

Tongkat komando lantas beralih ke tangan Cut Nyak Dhien yang bersumpah mengusir Belanda dari Tanoh Rencong. Cut Nyak Dhien terus menerus mendorong dan membangkitkannya. Sehingga semangat juang pengikutnya tetap tinggi biarpun tertekan dalam berbagai penderitaan. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa pengikut setianya Cut Nyak Dhien secara bulat mengucapkan sumpah setia. “Langkahi dahulu mayat kami sebelum menangkap Cut Nyak Dhien.”

Operasi-operasi yang dilakukan oleh serdadu Belanda di Wilayah daerah Aceh Barat dan sekitarnya sangat gencar karena itu 1901 Cut Nyak Dhien bersama pengawal setianya bergerak melalui daerah Beutong menuju daerah Gayo (Aceh Tengah) dan kemudian menetap di kampung Celala. Kampung tersebut terletak 30 km di sebelah barat daya kota Takengon. Kehadiran Cut Nyak Dhien beserta pasukannya mendapat sambutan yang simpati dari rakyat Gayo (Aceh Tengah) yang ditandai dengan rasa suka relanya rakyat menyediakan semua keperluan dan menjamin keamanan Cut Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien bertolak kembali ke daerah Aceh Barat dan ia bersama pengikut lama menetap di Beutong Ateuh, daerah ini terletak di perbatasan Aceh Tengah dan Aceh Barat pada 1902. Cut Nyak Dhien kembali ke wilayah Aceh Barat karena dalam pada 1902 Van Daalen yang ambisius itu mengerahkan kekuatan tempurnya ke daerah Gayo (Aceh Tengah) dengan tujuan untuk menyapu bersih perjuangan rakyat Gayo.

Sejak itulah rakyat Gayo dianggap telah takluk di bawah kekuasaan pemerintah Belanda yang ditandai dibangunnya sarana dan prasarana pemerintahan. Namun ruang gerak Cut Nyak Dhien dan pasukannya terus menyempit. Belanda yang geram dengan perlawanan Cut Nyak dan pasukannya terus memburu anak Nanta Setia tersebut hingga ke pelosok daerah. Selain itu, bantuan masyarakat untuk kaum pejuang pun kian sulit akibat blokade yang dilakukan Belanda terhadap Cut Nyak Dhien. Usia Cut Nyak Dhien pun tak lagi muda, matanya sudah mulai rabun dan diserang penyakit encok.

Melihat kondisi ini, salah satu kaki tangan Cut Nyak Dhien yang dikenal setia, Pang Laot, menaruh iba kepadanya. Ia lantas melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda. Mendapat informasi tersebut membuat Belanda senang. Mereka kemudian menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Lhee Sagou. Serangan ini membuat pasukan Cut Nyak yang tersisa terkejut dan bertempur hingga darah penghabisan. Dhien yang sudah uzur dan tidak mampu melihat berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh.

Sayangnya, aksi Dhien berhasil dihentikan Belanda. Ia ditangkap, sementara anaknya Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya. Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di ibukota provinsi. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Setelah sembut, Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Belanda merasa ketakutan karena kehadiran Cut Nyak akan menciptakan semangat perlawanan dari rakyat.

Cut Nyak juga kerap berhubungan dengan pejuang-pejuang Aceh yang belum menyerah. Ia lantas dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian Bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai “Ibu Perbu”.

Cut Nyak Dhien meninggal di pengasingan karena usianya yang sudah tua pada 6 November 1908. Makam “Ibu Perbu” baru ditemukan pada tahun 1959, berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. “Ibu Perbu” diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

8. Cut Meutia

“…Dengan gelora berahi seorang wanita yang hangat dan penuh gairah, ia melangkah ke atas ranjang peraduan pengantin, kehangatan dan kegairahan yang lebih berkobar dibandingkan dengan wanita-wanita di mana pun. Dan dengan gelora nafsu seperti itu pulalah ia melangkah ke medan pertempuran untuk bertarung. Ia tidak merasa takut mendampingi suaminya dan mengiringi pasukan-pasukan melakukan pertempuran di mana-mana. Ia keluar-masuk hutan belantara dengan menelan serba aneka kesulitan, kepahitan dan penderitaan. Sementara itu, pasukan-pasukan marsose mengintainya ke mana ia pergi…” tulis Zentgraaf dalam bukunya berjudul Atjeh ‘melukis’ sosok Cut Meutia.

Cut Meutia merupakan putri Teuku Ben Daud yang lahir di tahun 1880, tepat setelah tiga tahun pecah perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda. Dia merupakan keturunan Tok Bineh Blang, seorang bangsawan yang juga ulama dan mempunyai hubungan erat dengan Istana Darud Dunia.

Lukisan Zentgraaf terhadap Cut Meutia berdasarkan fakta yang terjadi. Sebagai seorang perempuan, Cut Meutia setelah bercerai dengan Teuku Syamsyarif kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad. Sebagai suami istri, pasangan ini hidup romantis terlebih di awal-awal pernikahannya yang dilukis Zentgraaf sebagai masa ‘bulan madu’.

Bulan madu Cut Meutia bersama suami keduanya dimeriahkan genderang perang dan dentuman meriam yang memuntahkan peluru. Bersama suaminya, Cut Meutia berperang di berbagai medan di kawasan Aceh Utara. Ada dua tahapan perang yang dialami Cut Meutia, yaitu perang frontal dan perang gerilya di hutan-hutan Pasai.

Perjalanan bulan madu Cut Meutia dengan Teuku Cut Muhammad berakhir setelah suami yang dicintainya itu tertawan. Teuku Cut Muhammad juga dijatuhi hukuman mati dengan ditembak selusin peluru oleh marsose. Sesuai wasiat mendiang suami, Cut Meutia kemudian dinikahi Pang Nanggroe. Pria ini merupakan seorang pahlawan yang selama ini menjadi wakil panglima Teuku Cut Muhammad.

Perkawinan antara Cut Meutia dengan Pang Naggroe mendatangkan malapetaka bagi Belanda. Pasalnya pasangan ini begitu ahli dan cakap memimpin peperangan.

“…siasat peperangan Pang Nanggroe dan Cut Meutia merupakan seni yang luar biasa tingginya, hanya dapat tumbuh pada seseorang yang dilahirkan untuk menjadi pemimpin perang seperti itu. Dengan bantuan istrinya yang fanatik dan pendendam serta didampingi Putra Rajawali (Teuku Raja Sabi_Putra Cut Meutia dengan Teuku Syamsyarif), Pang Nanggroe merupakan lawan Belanda yang perkasa. Kemahirannya luar biasa…” tulis Zentgraaf seperti dikutip Ali Hasjmy, penulis sejarah Aceh.

26 September 1910 sebuah pertempuran seru terjadi antara Belanda dengan pejuang Aceh. Dalam pertempuran itu, Pang Nanggroe syahid dan Cut Meutia bertindak sebagai Panglima Sukey (resimen). Paska kematian Pang Nanggroe, gerakan perlawanan Cut Meutia dan pejuang Aceh semakin parah. Setiap malam tangsi-tangsi Belanda diserbu dan menjelang pagi pasukan ini mundur ke dalam hutan. Markasnya selalu berpindah-pindah tempat.

Perang gerilya yang dilancarkan Cut Meutia berakhir pada 22 Oktober 1910 akibat adanya mata-mata yang memberitahukan lokasi markas kepada Belanda. Pasukan marsose dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap menyerbu benteng pertahanan Cut Meutia. Pertempuran ini berlangsung selama tiga hari.

Pasukan marsose yang dipimpin W.J. Mosselman terus mendesak pasukan Cut Meutia. Mereka memuntahkan peluru ke arah pasukan perlawanan Aceh dan berhasil mengenai kepala Cut Meutia. Singa betina ini menghela nafas terakhir menjelang matahari terbit, 25 Oktober 1910. Tepat sebulan setelah syahid Pang Nanggroe.

Setelah Indonesia merdeka, Cut Meutia diangkat sebagai salah satu pahlawan dari Aceh. Mengenang jasa-jasanya terhadap perjuangan Belanda, banyak jalan-jalan di Indonesia memakai nama Cut Meutia. Selain itu, salah satu rumah sakit di Aceh Utara ikut memakai nama srikandi Aceh ini.

9. Pocut Baren

Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barat Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita, sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun 1910.

Ia memimpin pasukannya di belahan barat bersamaan dengan Cut Nyak Dien ketika masih aktif dalam perjuangan. Ia telah mempersiapkan dirinya – bila kelak ditinggalkan oleh suaminya dan sudah tahu apa harus diperbuat nantinya. Ketika suaminya tertembak Belanda, tidak membuat Pocut Baren mundur. Semangatnya malah semakin menggebu.

Suatu penyerangan besar-besar dibawah pimpinan Letnan Hoogers, meluluhkan benteng pertahanan Pocut Baren. Kaki Pocut Baren tertembak dan dibawa ke Meulaboh. Selama ditawan di Meulaboh, luka tembaknya tidak kunjung membaik. Kemudian Pocut Baren dibawa ke Kutaraja untuk dilakukan pengobatan lebih intensif. Namun, dokter memutuskan kakinya diamputasi. Selama dalam tawanan, Pocut Baren diperlakukan dengan baik. Sebagai penghargaan atas dirinya, Belanda menghadiahkan sebuah kaki palsu untuknya – yang didatangkan khusus dari Belanda. Ia wafat tahun 1933. Meninggalkan rakyatnya yang sangat mencintainya.

10. Pocut Meurah Intan

Pocut Meurah Intan seorang puteri bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Pocut Meurah menikah dengan Tuanku Abdul Majid, salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh. Ia seorang pejabat bea cukai pelabuhan yang gigih menantang kehadiran Belanda. Dari pernikahannya dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah mendapat tiga anak laki-laki.

Belanda mencatat, bahwa Pocut Meurah salah satu figur dari Kesultanan Aceh yang paling anti Belanda. Dalam laporan kolonial (Koloniaal Verslag) tahun 1905, sampai tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalah Pocut Meurah Intan.

Semangat anti Belanda yang teguh itulah yang diwariskannya pada puteranya sehingga mereka bersama-sama dengan pejuang Aceh lainnya menentang Belanda. Ia bercerai dengan suaminya karena Tuanku Abdul Majid menyerahkan diri kepada Belanda. Lalu ia mengajak anak-anaknya terus berperang. Dua diantara anaknya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, kemudian menjadi terkenal sebagai pemimpin pergerakan.

Intensitas patroli Belanda yang semakin meningkat, membuat Pocut Meuran Intan bersama kedua putranya tertangkap marsose. Namun, sebelum tertangkap, ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak lawan. Valtman, pemimpin pasukan Belanda yang berpengalaman di Aceh dan baik hati, menyebutnya sebagai heldhaftig (gagah berani).

“Kalau begitu, biarlah aku mati,” ucap Pocut Meuran Intan.

Lalu ia mencabut rencongya menyerbu brigade tempur Belanda. Ia mengalami luka parah. Terbaring di tanah digenangi darah dan lumpur. Veltman mengira ia tewas lalu meninggalkannya. Kata Valtman, biar dia meninggal di tangan bangsanya sendiri. Pocut Meuran Intan ternyata masih hidup. Ia diselamatkan. Veltman kemudian mengirim dokter untuk merawat luka-lukanya. Namun, Pocut Meuran menolak dokter Belanda itu.

Ia sembuh, tetapi kondisi tubuhnya tidak lagi sekuat sebelumnya. Kemudian, bersama putranya, Pocut Meurah Tuanku Budiman dimasukkan ke penjara. Sementara putranya yang lain, Tuanku Nurdin tetap melanjutkan perjuangan sampai kemudian ditahan oleh Belanda. Pocut Meurah Intan yang pincang dengan kedua putranya 6 Mei 1905 kemudian diasingkan ke Blora, Jawa. Pada 19 Septembar 1937 Pocut Meurah Intan meninggal.

11. Teungku Fakinah

Tengku Fakinah merupakan seorang ulama besar dan pendidik Islam di Aceh Besar. Sebelum peperangan pecah antara Aceh dengan Belanda, dia telah membangun dayah di Lamdiran.

Suaminya merupakan seorang perwira muda yang juga ulama di Aceh. Mereka berkenalan di tempat pendidikan militer. Namanya Tengku Ahmad. Sebelum perang pecah, suami isteri ini mengajar di pusat pendidikan Islam Dayah Lampucok yang dibangun oleh ayah Fakinah.

Pada saat Belanda memulai agresinya terhadap Aceh pada tahun 1873, suami Fakinah, perwira muda Teungku Ahmad ikut bertempur di medan perang Pantai Cermin (Ulee Lheue) di tempat Belanda mendarat. Dalam pertempuran itu, Teungku Ahmad syahid.

Setelah suaminya syahid, Fakinah mengadakan kampanye perang di tengah-tengah kaum wanita. Atas izin Sultan, kemudian Fakinah membentuk pasukan dalam tingkat sukey (resimen) yang diberi nama Sukey Fakinah. Sukey ini terdiri dari empat balang (batalion) dan diisi oleh seluruh pejuang wanita. Dia sendiri menjabat sebagai Panglima Sukey Fakinah.

Di antara empat balang yang menjadi kelengkapan Sukey Fakinah, ada satu balang (batalion) yang seluruh prajuritnya terdiri dari wanita. Sementara balang-balang lain ada pula kawan (kompi) atau sabat (regu) yang komandan dan prajuritnya wanita.

Keempat balang yang berada di bawah pimpinan Fakinah yaitu; Balang Kuta Cotweu, Balang Kuta Lamsayun, Balang Kuta Cotbakgarot, Balang Kuta Bakbale.

Teungku Fakinah dengan sukey-nya ikut bertempur di medan perang dalam wilayah Aceh Rayek. Setelah 10 tahun perang Aceh berlangsung, dia ikut bergerilya bersama Sultan Muhammad Daud, Tuanku Hasyim Bangta Muda, Teungku Muhammad Saman Tiro, dan tokoh lainnya di pedalaman Aceh.

Tengku Fakinah meninggal di tahun 3 Oktober 1933 dalam keadaan renta. Dia dimakamkan di dalam Maqbarah Lamdiran.

Sosok kepahlawanan Teungku Fakinah tidak lekang dimakan usia. Salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Geucheu Iniem, Banda Aceh memakai namanya menjadi Rumah Sakit Teungku Fakinah. Selain itu, nama besar Teungku Fakinah juga dipakai sebagai nama lembaga pendidikan Akademi Keperawatan Yayasan Tengku Fakinah yang didirikan pada tahun 1991.[] Dari Berbagai Sumber