Home Histori Asal Mula Pergerakan PUSA di Aceh

Asal Mula Pergerakan PUSA di Aceh

295
0

BANDA ACEH – Agama itu harus berhubungan langsung dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Agama itu bukan untuk musibah dan gagah-gagahan, bukan untuk jago-jagoan, bukan untuk hebat-hebatan.

“Tapi bagaimana agama itu bisa ditransformasi dari kitab suci lewat orang-orang arif bijaksana kepada pengikut, sehingga agama itu bisa dipahami dengan baik, dan bisa diamalkan dengan baik,” ujar Guru Besar UIN Ar Raniry Banda Aceh, Prof Yusni Sabi, dalam diskusi bersama elemen sipil di 3 in 1 Coffee, Banda Aceh, Sabtu, 18 April 2015.

Pernyataan Prof Yusni Sabi ini menjadi pembuka dalam diskusi bertajuk Teungku Daud Beureueh dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Hadir dalam kegiatan ini seperti Pengurus Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) Thayeb Loh Angen, Ketua Umum Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) Muhajir Ibnu Marzuki, Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid dan budayawan Aceh Nab Bahany As serta beberapa wartawan di Banda Aceh.

“PUSA merupakan persatuan ulama modernis pertama di Aceh , dan jangan-jangan juga pertama di Indonesia,” katanya.

Menurutnya kehadiran PUSA juga bisa dikoneksikan dengan pembaharuan yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan di Jawa. Saat itu, para ulama di Indonesia ingin mengubah pemikiran-pemikiran yang masih bersandar pada takhayul menjadi agama murni. “Tapi gerakan pertama yang dilakukan itu bukan melalui politik, tapi melalui dagang. Ini dibuktikan dengan hadirnya SDI (Serikat Dagang Islam) pada 1905,” katanya.

Di sinilah, kata Prof Yusni, peran para ulama kembali menyadarkan bahwa agama itu hakikatnya tidak semata-mata memegang kekuasaan atau memegang jabatan. Namun juga harus memperkuat ekonomi masyarakat kelas bawah.

“Ketika itu, orang-orang muslim pedagang batik di Pulau Jawa itu dikalahkan oleh orang-orang China. Dari sinilah kemudian timbul kesadaran untuk membentuk Serikat Dagang Islam,” ujar Prof Yusni.

Saat itu, kata Prof Yusni, ada tiga kekuatan dagang yang ada di nusantara seperti Eropa, pribumi dan Timur asing. Menurutnya yang masuk dalam kategori timur asing ini adalah orang timur yang bukan pribumi seperti orang China. “Saat itu diatur tiga produk hukum untuk Eropa, pribumi, dan timur asing.”

“Hukum saat itu berjalan, namun tidak memihak kepada kita (pribumi) dan hukum memihak kepada penguasa (Belanda),” ujarnya.

Hal inilah yang kemudian membuat beberapa aktivis Islam seperti Ayah Hamid yang berada di luar Aceh, terpicu untuk melawan karena memikirkan masyarakat. Sehingga saat itu Ayah Hamid merantau ke Timur Tengah dan membaca majalah Al ‘Uwatul Usfa yang dikarang Muhammad Abdul.

Majalah ini, kata Prof Yusni, kemudian diselundupkan ke Aceh, Jawa, dan daerah lainnya di nusantara serta Afghanistan untuk mencerdaskan dan memperluas masyarakat muslim. “Intinya majalah ini menyadarkan bahwa muslim di Timur Tengah telah maju, sementara kita di sini sudah terlewat maju,” katanya.

Sebagian isi majalah ini, kata Prof Yusni, kemudian ditulis ulang dalam majalah berbahasa Arab yang tidak bisa dibaca oleh Belanda.

Setelah itu, pengetahuan-pengetahuan tentang Islam ini terus berkembang termasuk di Aceh. “Pada 1939 akhirnya dibuatlah kongres PUSA yang diinisiasi oleh Teuku Djohansyah yang dikenal sebagai Ampon Syik Peusangan Meunasah Meucap di Matang Glumpang Dua. Dia merupakan ulee balang moderat yang disegani oleh Belanda. Namun pada pelaksanaannya, Ampon Syiek yang semula merencanakan kongres ini sakit. Dan terpilihlah Teungku Daud Beureueh sebagai Ketua PUSA,” katanya.[]