Home Histori Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

Arkeolog: Banda Aceh Sudah Ramai Sejak 1000 Tahun Lalu

112
0

BANDA ACEH – Kawasan Ujung Pancu hingga Krueng Raya, Aceh Besar, sudah dipadati oleh pendatang sejak 1000 tahun lalu. Hal tersebut dapat diukur dari penemuan keramik Cina yang sudah tua di kawasan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Arkeolog Aceh lulusan Universitas Gajah Mada (UGM), Deddy Satria, saat diskusi bersama yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa, 8 September 2015 sore.

“Dari keramik cina tua yang sudah ribuan tahun inilah dapat kita prediksikan bahwa Banda Aceh diperkirakan sudah ramai sejak 1000 tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengatakan telah ditemukan jalur kapal Timur Tengah dan Cina yang melancong ke Banda Aceh. Hal ini juga terdapat tulisan yang terpahat pada nisan.

“Terdapat salah satu nisan yang terpahat bertuliskan tahun 1555 M. Namun sayangnya tidak tercantumkan lagi nama karena sudah hilang dan yang seperti ini layak untuk ditangani,” kata Deddy.

Dia kemudian mencontohkan kawasan Lampulo. Menurutnya sejak 800 tahun lalu sudah ada Cina muslim yang tinggal di sana. Di kawasan tersebut juga terdapat peninggalan belanga tanah, orang Eropa seperti Vietnam dan Thailand saat berdagang ke Aceh.

“Sekarang 60 titik lokasi pengamatan benda sejarah tersebut terdapat di Lampulo. Setengahnya terdapat keramik dan kaca rumah penduduk di lokasi makam tersebut,” ujarnya.

Kasus lain juga terdapat di Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Lamno. Dari aspek arkeologi, kata dia, ada target terdekat yang harus dicapai yaitu makam yang terdata dalam daftar emergency. Menurut Deddy, ini harus segera ditelusuri secepatnya karena takut tertimbun dengan pembangunan.

Ia juga mencontohkan di Indrapuri, masih terdapat tokoh-tokoh dari Thailand pada abad ke-16, Ayu Thayya yang hijrah dari Thailand ke Aceh. Selain itu juga ada makam Khalifah Abasiyah, tokoh dari Persia, India, dan Cina muslim yang belum terpublikasi.

“Informasi dari batu nisan sangat penting untuk diselamatkan. Kalau bisa membuat gedung ataupun meseum nisan karena dengan jumlahnya yang jutaan. India punya Taj Mahal, sementara kita di Aceh memiliki nisan,” ujarnya.[](bna)