Home Budaya Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

Adat Seumeulung, Tradisi Penabalan Raja Daya Sejak Abad 15

165
0

BANDA ACEH – Sejumlah raja di Aceh hari ini berkumpul di tradisi Seumeulung, penabalan raja Meureuhom Daya, di Aceh Jaya, Sabtu, 26 September 2015. Raja-raja yang hadir di antaranya Raja Teunom, Raja Rigah, dan Kuala Batee serta pewaris Sultan Mahmudsyah dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Selain para raja, turut serta anggota Majelis Zikrullah pimpinan Ustadz Samunzir ke lokasi, tim Peusaba, Aceh Lamuri Foundation, dan SILA. Hadir juga dalam kegiatan ini Teungku Abdurrahman Kaoy dari Majelis Adat Aceh dan sejumlah tamu lainnya.

“Sangat luar biasa adat Seumeulung di Nanggroe Daya,” ujar Koordinator Alif, Mawardi Usman, kepada portalsatu.com.

Dia mengatakan adat Seumeulung ini paling lama bertahan sejak 1480 hingga 2015. Menurutnya, Seumulung dilaksanakan pertama kali di masa Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah Ibnu Sultan Inayat Syah yang adalah Raja Darul Kamal.

“Jadi adat Seumuleung ini bermakna menyuap nasi bagi raja yang dinobatkan. Adat ini dimulai setelah Portugis mencoba mengadu domba kerajaan-kerajaan di Aceh karena kepentingan perdagangan di pesisir barat Aceh,” kata pria yang konsen pada sejarah dan budaya Aceh ini.

Saat itu, kata dia, Raja Darul Kamal Sultan Salatin Alaudin sebagai sultan yang mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam mendengar rencana Portugis ini. Dia kemudian bergerak ke Nanggroe Daya untuk mengusir Portugis dan kemudian menabalkan raja di daerah tersebut sebagai perwakilan kerajaan Aceh.

“Sultan Salatin-lah yang kemudian dikenal dengan sebutan Po Teumeurhom. Adat penabalan ini kemudian dilakukan selama setahun sekali sesudah masa Sultan Salatin hingga sekarang. Jadi prosesi ini berjalan hingga saat ini, bahkan saat Aceh masih dilanda konflik tidak mempengaruhi adat Seumuleung,” katanya.

“Pada awalnya, adat Seumuleung dilaksanakan bak uroe phon Idul Adha nibak seupot uroe (pada petang hari pertama Idul Adha). Hal ini tetap dilakukan hingga sekarang, tapi bergeser seremonialnya jeut keu uroe ke lhee Idul Adha (menjadi hari ke tiga Idul Adha). Pertimbangannya karena banyak tamu jauh yang tidak bisa berhadir di hari pertama Idul Adha lantaran mengikuti salat Id. Makanya seremoninya digeser menjadi hari ke tiga,” katanya lagi.

Dia mengatakan, adat Seumeulung kali ini merupakan penabalan terhadap raja penerus Daya. “Sultan Daya sekarang adalah Sultan Alaiddin Riayat Syah ke 13 yaitu Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah,” ujarnya.[]