Hipster Hijabis, Bawa Aura Modis Bagi Busana Muslim di Barat

Pergerakan hipster hijabis adalah buah dari munculnya kaum perempuan muda Muslim. Pergerakan itu kemudian tumbuh organik, disuburkan lewat media sosial.

Summer Albacha memulainya lewat akun Instagramnya yang diberi nama Hipster Hijabis pada 2012. Ketika itu remaja dari St Louis, Missouri, ini baru berumur 16 tahun. Ia kini punya 23 ribu orang menjadi followernya di Instagram.

Melihat jumlah follower-nya, label mode asal New York Mimu Maxi, mengirimkan Summer salah satu rok maxi mereka untuk dipakai. Kolaborasi itu menimbulkan keramaian. Mimu Maxi dijalankan oleh dua perempuan Yahudi ortodoks. Beberapa pelanggan Yahudi label tersebut menyesalkan tindakan Mimu Maxi yang menampilkan perempuan Muslim berhijab sebagai model busananya.

Summer mengatakan, hal tersebut menegaskan perjuangan universal yang dialami perempuan dalam berbagai agama dan latar belakang untuk menemukan busana modis yang sesuai.

Tantangan untuk mengembangkan busana Muslim yang modis juga datang dari komunitas Muslim. Perempuan yang berhijab, seperti dikutip dari AP, Kamis (8/10), yang berpakaian mencolok kadang merasa berbeda bila disandingkan dengan perempuan yang mengatakan busana sebaiknya menutupi kecantikan perempuan dan membuatnya kasat mata di hadapan orang lain.

''Orang tidak mudah berubah dan orang cenderung menyukai hal yang sama,'' kata blogger mode Mari Al-Sadek. Akibatnya, kata dia, muncul stigma kalau perempuan berhijab tampil gaya.

Bong Guerero, pendiri dan CEO Fashion Forward, sebuah platform di Dubai bagi desainer lokal untuk menampilkan koleksinya, mengatakan ledakan gaya hijab yang modis telah memberi perspektif baru.

''Karena mengenakan hijab dulu digambarkan sebagai kuno dan berkonotasi sebagai pendiam, menambahkan tampilan yang hipster membuatnya jadi berwarna dan menarik,'' katanya. | sumber : republika

  • Uncategorized

Leave a Reply