Helikopter untuk Bencana Aceh

Beberapa daerah di Aceh berpotensi bencana. Penanggulangannya perlu cepat, tetapi terkendala medan darat yang rumit. Perlu sarana transportasi udara. +++++++++++

Berkemeja biru, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, menatap serius Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem. Mereka sedang membicarakan masalah penanggulangan bencana Aceh, di Kantor BNPB Graha 55, Tanah Abang, Jakarta, Rabu pekan lalu.

Pertemuan berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 11.30 WIB. Hadir juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Jarwansyah, Anggota Komisi VIII DPR RI Sayed Fuad Zakaria, Sestama BNPB Fatul, Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Bambang S., dan Kepala Perwakilan Aceh di Jakarta T. Edi Syahputra.

Mualem melaporkan secara umum kejadian bencana di berbagai kabupaten kota di Aceh berdasarkan jenis, waktu, lokasi, jumlah korban jiwa, kerusakan infrastruktur hingga sarana produksi pertanian milik masyarakat.

Laporan itu dihitung mulai Januari hingga awal Desember 2012. Bencana yang dilaporkan seperti gempa bumi, kebakaran, banjir genangan, banjir, banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor. “Ada empat belas orang meninggal dunia di Aceh akibat bencana alam,” ujar Mualem kepada Syamsul Maarif.

Salah satu bencana yang dilaporkan adalah ancaman longsor dari Bukit Badak Uken, Desa Dabun Gelang, Gayo Lues. Sejak bulan lalu, bukit itu telah mengeluarkan suara gemuruh.

Berdasarkan penelusuran The Atjeh Times, Kamis dua pekan lalu, tanah di bukit itu mulai retak. Retakan terlihat di beberapa tempat: di lereng, di jalan setapak menanjak yang biasa dilalui petani ke kebun, hingga dekat sungai lereng sebelahnya. Sebagian tanah di sudut lereng sudah amblas.

Akar-akar pohon yang dilalui retakan kini mencuat setelah turunnya sisi sebagian permukaan tanah.
Gemuruh Bukit Badak Uken menyebabkan 614 warga mengungsi. Aktivitas mereka lumpuh total. Tak ada lagi warga yang pergi ke kebun karena khawatir akan kondisi bukit. Siswa Sekolah Dasar Negeri 7 Dabun Gelang juga diliburkan. Sekolah ini berada sekitar 15 meter dari bukit.

Menurut keterangan Tsunami & Disaster Mitigation Research Center atau TDMRC Unsyiah, potensi bencana yang menimpa Badak Uken disebabkan oleh gerakan tanah rayapan. Artinya, gerakan tanah sangat lambat.

Dari hasil pemetaan Tim Survei dan Risk Map TDMRC, terindikasi perbukitan itu sudah tidak stabil lagi. Penyebab utama ketidakstabilan tersebut lantaran air hujan masuk ke dalam lereng sehingga jenuh air.

“Air yang masuk ikut menambah berat sehingga lereng turun secara perlahan-lahan,” kata salah satu anggota tim survei dari TDMRC Unsyiah, Ibnu Rusydi kepada The Atjeh Times melalui siaran persnya, Kamis dua pekan lalu.

***

Mengatasi bencana itu, BPBA terus mengupayakan penanganan cepat. Namun, hal ini tidak mudah tentunya. Apalagi sebagian besar wilayah rawan bencana di Aceh memiliki kondisi alam yang rumit jika ditempuh lewat darat. Seperti halnya saat Kepala BPBA Jarwansyah memantau banjir di Desa Pinding, Gayo Lues, pada Senin 26 November 2012.

Kala itu, dari Pinding, Jarwansyah dan rombongan bermaksud hendak menuju Lokop, Aceh Timur. Medan tempuh dari Pinding ke Lokop harus melewati empat sungai. Sayangnya, saat melintasi sungai kedua, yakni Celike, mobil yang ditumpangi Jarwansyah terseret arus. Akibatnya penumpang di dalam mobil kocar-kacir.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam insiden itu. Hanya saja, beberapa anggota rombongan terpaksa ditinggalkan untuk menunggu bantuan menarik mobil dinas yang terseret arus tersebut.

Sepertinya, Mualem tak ingin kejadian itu terulang lagi. Untuk mengantisipasinya, wakil gubernur menyampaikan kepada Kepala BNPB agar mengupayakan pengadaan helikopter untuk Aceh. Sarana transportasi udara ini dirasakan sangat penting untuk penanganan korban bencana alam.

“Aceh rawan bencana sehingga perlu usulan program fisik dan nonfisik untuk memperkuat peran dan fungsi BPBA,” ujar Mualem. Pemerintah Aceh, kata dia, berkomitmen membesarkan BPBA dan BPBD di seluruh kabupaten kota dengan memaksimalkan tugas dan fungsinya. “Baik fungsi komando, koordinasi, maupun fungsi pelaksana pada saat tanggap darurat."

Selain helikopter, Aceh juga membutuhkan tambahan kendaraan operasional rescue, mobil toilet, dan mobil dapur umum. Untuk mobil dapur umum, kata Jarwansyah, Aceh baru punya tiga unit yang ditempatkan di Aceh Barat, Singkil, dan Aceh Tamiang. Jumlah itu dinilai belum memadai mengingat Aceh punya 23 kabupaten kota.

Syamsul Maarif menyambut positif permintaan soal helikopter. Dia berharap, usulan itu mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat RI, khususnya Komisi VIII yang membidangi penanggulangan bencana.

Rencana itu sudah lama diusulkan. Bahkan, BNPB sudah merencanakan membeli delapan unit helikopter yang nantinya ditempatkan di delapan provinsi rawan bencana. Khusus untuk Aceh, masih banyak yang perlu dibantu dan ia memiliki perhatian terhadap Aceh. “Karena Aceh merupakan salah satu provinsi yang sangat rawan bencana,” kata Syamsul.

Namun, Syamsul Maarif juga mengatakan BNPB tidak akan membantu kalau BPBD di daerah tidak becus. BNPB juga meminta, setiap bantuan yang diberikan pertanggungjawabannya harus benar dan bagus.[] BOY NASHRUDDIN AGUS | MURDANI | SAHRIFIN

  • Uncategorized

Leave a Reply