Home Budaya Gampông lam Klèk-Klok

Gampông lam Klèk-Klok

107
0

Terpencil, kata yang cukup familiar. Mengetahui makna kata tersebut pun juga tak sulit. Mendengar katanya saja, yang terbayang dalam benak kita, terpencil adalah tersendiri, terasing, jauh dari yang lain. Jadi, desa terpencil misalnya, berarti desa yang terasing, jauh dari yang lain, tak ada lampu penerang selain teplok. Perlu berpeluh-peluh untuk mencapai desa itu. Pokoknya susah dijangkau.

Kalau bahasa Indonesia punya kata terpencil, bahasa Aceh juga punya padanannya. Namun, padanan dalam bahasa Aceh jauh lebih kompleks daripada terpencil-nya bahasa Indonesia.

Tak seperti bahasa Indonesia, versi terpencil dalam bahasa Aceh bertingkat-tingkat atau disebut bergradasi dalam istilah kebahasaan. Setidaknya, ada tiga gradasi terpencil bagi orang Aceh, yaitu klèk, klèk-klok, dan lungkik (dalam dialek tertentu disebut ungkik).

Klèk, klèk-klok, dan lungkik dalam penggunaannya sering diikuti kata lam sebagai penanda keterangan tempat sehingga menjadi lam klèk, lam klèk-klok, dan lam lungkik.

Untuk menyebut terpencil, umumnya orang Aceh hanya menggunakan kata lam klèk. Jadi, gampông lam klèk adalah gampông terasing, jauh dari yang lain. Sulit menjangkau gampông lam klèk ini. Penggunaan kata ini dalam kali­mat, misalnya “Kamoe hana meuphôm masalah komputer. Maklumlah, tinggai lam klèk.

Tak cukup menyebut lam klèk, jika gampông itu ‘sangat terpencil’, umumnya orang Aceh menyebutnya lam klèk-klôk. Tingkatan lam klèk-klok lebih tinggi daripada lam klèk. Jadi, gampông lam klèk-klok jauh lebih sulit dijangkau tinimbang gampông lam klèk.

Bukan hanya itu, untuk mendeskripsikan betapa klèk-klok-nya gampông, kata tersebut diikuti oleh kata keudéh sehingga menjadi keudéh lam klèk-klok. Dalam kali­mat, kata itu digunakan seperti berikut ini: “Jiôh that tinggai ayahwa kah. Keudèh lam klèk-klok hana tatuho saho.”

Setelah lam klèk dan lam klèk-klok (terpencil dan sangat terpencil), ada pula kata lam lungkik. Ini tingkatan teratas untuk terpencil atau ‘amat sangat terpencil sekali’. Jadi, menjangkau gampông lam lungkik ‘amat sangat sulit sekali’ tinimbang gampông lam klèk, apalagi lam klèk-klok. Apabila Anda mendengar orang bertutur, “Kamoe tinggai lam lungkik jéh,” itu artinya kamoe tinggai di gampông yang amat sangat sulit sekali dijangkau.

Selain lam lungkik, ada pula kata lam lungkèk (ungkèk). Namun, itu hanya perbedaan variasi bunyi. Tak ada perbedaan arti yang mencolok antara kedua kata itu.

Kecuali lungkik, kata klèk dan klèk-klok dapat pula digunakan untuk jalan atau lorong yang berliku-liku. Untuk ini acapkali klèk dan klèk-klok dilekatkan imbuhan meu- sehingga menjadi meuklèk, meuklèk-klok.

Khusus untuk meuklèk, kata ini sering disebut dalam bentuk pengulangan sehingga menjadi meuklèk-klèk. Penggunaan kata tersebut dalam kali­mat, misalnya “Jih jiôh that tinggai lam lorong nyan, meuklèk-klok that jalan.” Dalam kali­mat lain, “Cukôp payah tajak u rumoh kah. Jalan that meuklèk-klèk.”[]