Home Budaya Bangai ‘Alaihissalam

Bangai ‘Alaihissalam

49
0

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu atau sulit memahami sesuatu dengan cepat disebut bangai dalam bahasa Aceh. Dalam pandangan orang Aceh, bangai banyak ragamnya. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa kemam­puan seseorang dalam memahami sesuatu atau pengetahuan seseorang terhadap sesuatu amatlah berbeda. Jadi, jika seseorang diketahui se­bagai orang yang bodoh, sangat bodoh, atau amat sangat bodoh sekali, orang Aceh tidak puas hanya dengan menyebut bangai saja.

Bagi orang Aceh, orang yang “agak” lama memahami sesuatu dengan cepat disebut se­bagai orang yang bangai trôk u gu. Bangai jenis ini dapat dikatakan se­bagai bangai yang tidak terlalu parah. Hal ini karena si bangai masih dapat memahami sesuatu walau membutuhkan waktu yang “agak” lama.

Karena bangai trôk u gu meru­pakan bangai yang tidak terlalu parah, ada jenis bangai lain yang lebih parah, yaitu bangai trôk u pucôk. Jenis bangai yang kedua ini setingkat lebih tinggi daripada jenis bangai  sebelumnya. Artinya, jika seseorang disebut bangai trôk u pucôk, orang itu lebih bangai daripada  si bangai trôk u gu. Dikatakan demikian karena pucôk lebih tinggi daripada gu dan dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkan si pucôk. Analoginya, orang yang bangai trôk u gu hanya membutuhkan waktu yang “agak” lama untuk memahami sesuatu, sedangkan orang yang bangai trôk u pucôk membutuhkan waktu yang “agak lebih” lama memahami sesuatu.

Namun demikian, bangai trôk u pucôk bukanlah akhir dari tingkatan parahnya bangai seseorang. Masih ada jenis bangai yang lebih parah daripada bangai trôk u pucôk. Sebagian orang Aceh menyebut bangai ini dengan nama bangai ‘alaihissalam. Menurut penuturan masyarakat, bangai jenis ini meru­pakan bangai yang menempati posisi paling puncak. Tidak ada lagi jenis bangai setelah bangai ini. Orang dengan jenis bangai ini disebut se­bagai orang yang paling bangai. Jenis bangai ini tidak ada tandingannya. Bangai-nya laksana bangai kloe priet. Jika sesuatu disampaikan pada orang yang memiliki jenis bangai ini, ia membutuhkan waktu yang “teramat, tersangat, terpaling” lama untuk memahaminya.[]