Harapan swasembada pangan nasional dari Aceh

GEDUNG Serbaguna Setda Aceh mendadak padat, Rabu 18 Februari lalu. Sebuah backdrop bertuliskan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Tanaman Pangan dan Hortikultura, terpasang rapi di hadapan ratusan peserta.

Mereka adalah perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura dari 23 kabupaten kota di Aceh. Ada juga yang mewakili provinsi serta Pemerintah Pusat. Suasana ramai terlihat sejak pukul 09.00 WIB.

Di sudut kiri, ada beberapa peserta yang tampak sibuk memeriksa berkas. Wajahnya tampak serius sambil membolak-balik buku kecil yang diberikan panitia.

Di sudut lain, ada juga beberapa perempuan muda yang sibuk berbincang-bincang. Sesekali mereka tertawa lepas tanpa kontrol.  Namun, keberadaan mereka tidak mengganggu para peserta lainnya untuk terus melanjutkan aktivitasnya.

Keadaan ini berubah drastis saat Dirjen Tanaman Pangan Republik Indonesia Udoro Kasih Anggoro, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh Hasbi Abdullah, serta Gubernur Aceh Zaini Abdullah, memasuki ruangan. Suasana seketika tenang dan hening.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Aceh, Razali Adami, mengatakan kegiatan ini bertujuan mencari solusi dalam mewujudkan swasembada pangan nasional dari Aceh.

Harapan ini, kata dia, tidaklah berlebihan. Pasalnya, Provinsi Aceh memiliki potensi sangat besar hampir di setiap sektor, seperti padi, kedelai, serta tanaman hortikultura lainnya. Hanya saja,  semua sektor tadi belum tertangani dengan baik dan benar.

“Atas dasar tersebut, kita bertemu hari ini. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari. Dalam kesempatan ini juga ada perwakilan dari Pemerintah Pusat sehingga bisa sama-sama mencari solusi terbaik untuk Aceh,” kata dia saat itu.

Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah, kata dia, Pemerintah Aceh menargetkan provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional. Pada 2017 nanti, Pemerintah Aceh menargetkan tiga juta ton produksi padi.

"Kita akan buat gebrakan dengan menanami padi pada seluruh lahan sawah di Aceh yang luasnya lebih kurang 360.000 hektare," kata Razali. Luas tanam yang sudah ada hingga saat ini, kata dia, sekitar 340 ribu hektare.

Produksi padi Aceh saat ini, menurut Razali, baru 4,6 ton per hektare. "Itu masih jauh di bawah produksi rata-rata nasional, yaitu 5,3 ton per hektare," ujar dia.

Sementara itu, Gubernur Zaini Abdullah, dalam sambutannya mengatakan banyak kendala yang menghambat pengembangan pertanian di Aceh. Beberapa persoalan yang terjadi, kata dia, seperti banyak alih fungsi lahan di Aceh, pengetahuan petani yang masih lemah, organisasi petani yang kurang berfungsi, serta penyuluhan yang kurang optimal.

"Ini harus segera kita benahi sehingga sektor pertanian bisa tergarap dengan baik," kata Doto Zaini. Sektor pertanian ini, ujar Doto Zaini lagi, merupakan satu dari 10 program prioritas Pemerintah Aceh untuk tahun ini.

"Oleh karena itu, kita sangat berharap hal ini segera diwujudkan," kata dia.

Gubernur Zaini menargetkan produksi padi di Aceh meningkat dari 1,6 juta ton pada tahun lalu, menjadi 2 juta ton pada 2013. "Peningkatan produksi padi sebesar 2 juta ton dengan sasaran luas tanam 437.693 hektare," kata Gubernur Zaini.

Untuk mencapai hal ini, kata Gubernur Zaini, selama 2013 Pemerintah Aceh akan mencetak sejumlah sawah baru di Aceh. Sawah-sawah ini nantinya akan difokuskan pada sejumlah kabupaten kota yang selama ini menjadi sentral produksi padi.

Namun, tidak tertutup kemungkinan sawah-sawah tersebut juga akan dicetak di kabupaten kota lainnya. “Sedangkan masalah dananya, tadi sudah kita bicarakan dengan Dirjen Tanaman Pangan Republik Indonesia, Udoro Kasih Anggoro. Mereka akan membantu dengan cara mentransfer langsung kepada petani yang bersangkutan, sedangkan Pemerintah Aceh hanya akan membantu penyuluhan,” katanya.

Tidak hanya mencetak ribuan hektare sawah baru, kata Gubernur Zaini, Pemerintah Aceh juga akan memperbaiki sistem irigasi petani. Irigasi yang ada di Aceh saat ini dinilai banyak yang sudah rusak sehingga mengakibatkan jadwal panen padi petani menjadi terganggu.

Dengan adanya perbaikan serta penambahan irigasi, nantinya produksi padi di Aceh dapat meningkat dua kali lipat dari yang sudah ada saat ini.

“Kita juga sedang memikirkan rencana tanam serentak. Namun, kebijakan ini perlu analisis yang lebih mendalam,” ujarnya.

Pemerintah Aceh juga mempertimbangkan adanya peraturan khusus di Aceh yang mengatur persoalan alih fungsi lahan pertanian yang marak terjadi saat ini. Pasalnya, alih fungsi lahan pertanian menjadi pertokoan akan mengakibatkan produksi pangan di Aceh menurun dan target tidak tercapai.
“Ini persoalan serius. Akan sia-sia kita mencetak ribuan sawah baru jika alih fungsi lahan justru terjadi lebih banyak,” katanya.

Selain itu, kata Doto Zaini, peningkatan target produksi jagung menjadi 156.243 ton dengan luas tanam 44.463 hektare, serta peningkatan target produksi kedelai hingga sebesar 95.950 ton dengan sasaran luas tanam sebesar 71.564 hektare."Oleh karena itu, butuh kerja keras dari semua pihak," kata dia.

Adapun strategi yang akan ditempuh untuk mencapai target ini, seperti peningkatan mutu intensifikasi, penyediaan benih bermutu, pemupukan berimbang, dan peningkatan area tanam melalui optimalisasi sumber daya lahan. "Saya kira target ini bisa kita capai," kata dia.

Untuk mewujudkan hal itu, Doto Zaini meminta para bupati dan wali kota yang ada di Aceh untuk menandatangani pakta integritas percepatan peningkatan produksi pangan. Sebagai simbolis, penandatanganan pakta integritas ini akan dilakukan oleh dirinya, Bupati Aceh Besar, Bupati Aceh Barat Daya, serta Wakil Bupati Aceh Tengah.

"Pencapaian target produksi tanaman pangan ini nantinya akan menjadi tolok ukur bagi kinerja para bupati dan wali kota di Aceh," kata Gubernur Zaini.

Menurut Doto Zaini, bupati dan wali kota di Aceh harus melakukan persiapan yang matang untuk membangun sinergi antarpihak di daerah masing-masing, khususnya yang berkaitan dengan sektor tanaman pangan.

***

DIRJEN  Tanaman Pangan Republik Indonesia, Udoro Kasih Anggoro,  mengatakan target swasembada pangan dari Provinsi Aceh bukanlah harapan yang mustahil. Pasalnya, daerah ini, kata dia, memiliki potensi yang belum tergarap secara optimal.

“Ini bukan mustahil. Saya telah mengelilingi Aceh dan melihat potensi ini sangat besar. Alangkah aneh jika kita tidak memanfaatkan potensi ini,” kata Udoro.

Menurutnya, untuk menciptakan Aceh sebagai lumbung pangan nasional, diperlukan kerja sama dari semua pihak. Komitmen ini penting sehingga target yang diharapkan bisa tercapai.

“Saya yakin komitmen yang ditunjukkan oleh Gubernur Aceh saat ini dapat menjawab tantangan ini,” kata Udoro Kasih Anggoro lagi.

Dalam presentasinya, Udoro juga mengatakan negara akan maju jika bisa mengatasi 3 hal: ketahanan pangan, infrastruktur, dan jaminan sosial.

“Tiga hal ini yang akan membawa sebuah negara berkembang menjadi negara maju,” ujar dia.
Terkait Provinsi Aceh yang belum masuk dalam sentra produksi pangan, Udoro mengatakan pada dasarnya ada kriteria-kriteria yang menentukan urutan lima besar.

“Aceh saat ini berada di peringkat 12, jika kita lakukan dengan sinergi dan potensi Aceh yang luar biasa, tentu menghasilkan produksi yang lebih baik,” katanya.

Menurut dia, kurangnya produksi pangan di Aceh lantaran ada banyak persoalan yang masih melilit daerah ujung barat Pulau Sumatera.

“Persoalan ini yang akan kita bahas. Namun, jika ada komitmen bersama antara bupati, camat, dan penyuluh, serta para petani, akan terjadi peningkatan (produksi tanaman pangan) yang luar biasa. Saya yakin itu bisa tercapai,” ujar dia lagi.

Mengenai usulan Provinsi Aceh dan Jambi yang akan dijadikan sentra produksi kedelai, kata Udoro, ini karena sejarah panjang Aceh sebagai kontributor besar untuk tanaman kedelai. Namun sayangnya, produksi kedelai di Aceh justru mengalami penurunan ketika konflik sedang bergejolak di Aceh.

“Kenapa sekarang produksi kedelai menjadi kecil? Itu berarti ada persoalan, di antaranya seperti harga tidak begitu menarik bagi petani. Cara berpikir petani itu sederhana, kalau kami untung pasti kami akan bercocok tanam. Begitu kan?” kata Udoru.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply