Guru dan Murid Seharusnya Tak Berteman di Jejaring Sosial

Satu dari sepuluh pelanggaran mengenai hubungan asmara antara guru dan murid berasal dari pertemanan jejaring sosial Facebook dan Twitter. Guardian melaporkan, di Inggris sebanyak 43 dari 336 kasus dilaporkan ke General Teaching Consul of England (GTC) dan dianggap sebagai “perilaku profesional yang tidak dapat diterima”.

Hasil penelusuran menyebutkan awalnya e-mail dan forum di dunia maya digunakan para guru untuk berkomunikasi dengan murid-muridnya. Kemudian berkembang lewat jejaring sosial Facebook dan Twitter. Akibatnya, 14 guru diberhentikan atas pelanggaran tersebut, sedangkan 18 lainnya diberi peringatan.

Beberapa sekolah melarang guru "berteman" dengan muridnya melalui jejaring sosial. Namun karyawan dan staf sekolah tetap diperbolehkan "berteman".

Paul Heathcote dari GTC mengatakan tidak semua penggunaan jejaring sosial memiliki dampak buruk. “Seringkali hubungan pertemanan lewat Facebook dan Twitter memberikan kontribusi yang positif bagi guru dan murid,” ujarnya. Heathcote mengingatkan penggunaan harus relevan dan jika ada pelanggaran pertemanan di jejaring sosial mesti segera ditindak.

Lee Jagal, guru asal Leeds, dilaporkan dan diskors selama 12 bulan atas tindakan tak pantas terhadap muridnya. Laporan berasal dari seorang ibu dari siswa berusia 16 tahun yang kedapatan saling berkirim komentar yang bermuatan seks. Komentar ditujukan untuk sebuah foto yang menampilkan murid-murid Lee.

Konsultan keamanan bagi dunia maya, Karl Hopwood, memberikan saran bagi sekolah-sekolah. “Sebaiknya sekolah memberikan kebijakan yang jelas, antara hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Jangan hanya membebani siswanya dengan buku-buku tebal yang membosankan,” kata Hopwood.| sumber: tempo.co

 

  • Uncategorized

Leave a Reply