Gunung Merapi landai, warga tetap waspada

PASCA-gemuruh dan embusan asap tebal coklat kehitaman dari Gunung Merapi, Senin (22/7) sekitar pukul 04.15 WIB selama 34 menit, gunung itu landai. Tidak ada aktivitas yang signifikan yang mengharuskan peningkatan status dari aktif normal ke waspada.

"Statusnya masih aktif normal," kata Sri Sumarti, Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Selasa (23/7).

Dari berbagai parameter, pihak BPPTKG terus mengamati aktivitas Merapi 24 jam per hari tiada berhenti. Embusan asap sulfatara pada Senin lalu mencapai 1.000 meter. Yaitu berupa material vulkanik, mulai dari gas, pasir dan abu. Hujan abu terjadi di beberapa tempat tergantung angin yang membawanya.

Pasca-erupsi 2010, gunung yang berada di tiga empat kabupaten itu sudah mengembuskan lebih dari 100 kali embusan asap sulfatara. Ada yang tingginya hanya 100 meter hingga 1.000 meter.

Pada Senin, 22 Juli 2013, terjadi gempa vulkanik B (dangkal) sebanyak 7 kali, LHF (low-high frequence) terjadi sebanyak 3 kali, multiphase sebanyak 8 kali, gempa tektonik 1 kali dan tidak ada guguran. Selama satu hari itu terjadi embusan 12 kali, paling tinggi 1.000 meter.

Sedangkan hari Selasa pukul 00.00 WIB hingga 07.00 WIB hanya tercatat sekali gempa tektonik dan dua kali embusan. Untuk tinggi embusan tidak terpantau karena pandangan terhalang oleh awan yang menggelayut di atas gunung.

Menurut data BPPTKG Yogyakarta, selama periode 15-22 Juli 2013, tercatat ada suara gemuruh yang terdengar hingga radius 6-7 kilometer dari Gunung Merapi. Setelah ada embusan, hujan abu dan pasir mengarah ke sektor tenggara, selatan dan barat daya.

Selama satu minggu itu tercatat gempa vulkanik B sebanyak 10 kali, gempa multiphase 27 kali, LHF 87 kali, guguran 66 kali dan gempa tektonik sebanyak 7 kali. Dibandingkan minggu sebelumnya, hanya terjadi gempa vulkanik B 1 kali, multiphase 5 kali, guguran 15 kali dan tidak terjadi LHF. "Embusan yang terjadi karena aktivitas vulkanik permukaan," kata Sri.

Di sisi deformasi, kata dia, data pengukuran electronic distance measurement (EDM) di Gunung Merapi tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan. Data EDM di Selo, Boyolali menunjukkan perubahan +1 milimeter, pos Babadan, Magelang sebesar -4 milimeter, pos Jrakah sebesar -3 milimeter. Sedangkan EDM di pos Kaliurang, Sleman menunjukkan perubahan sebeaar +9milimeter.

Secara umum, perubahan jarak antara titik pengukuran EDM dan reflektor kurang dari 10 milimeter. Maka deformasi Merapi masih dalam batas normal. Hasil deformasi (penggembungan) ini tidak menunjukkan tidak adanya akumulasi tekanan cukup besar yang menimbulkan deformasi permukaan tubuh gunung. "Embusan asap yang terjadi disebabkan oleh akumulasi tekanan sesaat karena adanya pelepasab gas vulkanik," kata Sri.

Heri Suprapto, Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman yang ditemui menyatakan, masyarakat memantau informasi dari BPPTKG. Panduan utama dari balai itu. Pihaknya sudah mengumpulkan kepala dukuh dan warga dalam kesiapsiagaan kebencanaan. "Kalau ada embusan itu bagi warga lereng Merapi sudah biasa, tetapi kewaspadaan ditingkatkan," kata dia.

Sedangkan wisata lahar (lava tour) tetap dibuka seperti biasa. Namun diimbau bagi wisatawan dan para pengelola wisata untuk selalu memantau perkembangan aktivitas gunung. | sumber: tempo.co

  • Uncategorized

Leave a Reply