Gubernur Zaini: Jangan Main-main dengan Proyek Kereta Api Aceh

Gubernur Aceh Zaini Abdullah meninjau Stasiun Kereta Api di Desa Ulee Madon, Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Sabtu, 8 Februari 2014.  Ia meminta Pemerintah Pusat jangan main-main dengan proyek kereta api Aceh-Sumatera Utara.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Gubernur Zaini Abdullah mendarat di Bandara Malikussaleh, Muara Batu, Aceh Utara, sekitar pukul 14.00 WIB. Gubernur Zaini didampingi Kepala Bappeda Aceh Abubakar Karim, Kepala Dinas Perhubungan Aceh Sayed Rasul dan sejumlah pejabat lainnya, disambut Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib atau Cek Mad dan Sekda Lhokseumawe Dasni Yuzar.

Dari Bandara Malikussaleh, Gubernur Zaini menuju Stasiun Kereta Api Bungkah untuk mendengar presentasi tim dari Kementerian Perhubungan dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tentang rencana pembangunan lanjutan rel kereta api Aceh-Sumatera Utara.

Direktur Keselamatan Perkeretaapian Kemenhub Hermanto Dewiatmoko menjelaskan, jalur kereta api Aceh bagian dari proyek kereta api Trans Sumatera. Dari Aceh sampai Besitang lebih kurang 480-an kilometer dengan perkiraan kebutuhan dana mencapai Rp23 triliun.

“Sebagian sudah selesai, dan sudah kami sediakan kereta satu set, tahun lalu mulai dioperasikan oleh PT KAI menggunakan subsidi perintis,” katanya.

Pembangunan rel kereta api di Aceh, kata Hermanto, selama ini terkendala lahan lantaran sebagian jalur lama sudah ditempati masyarakat. Karena itu Kemenhub meminta dukungan Gubernur Aceh, Bupati dan Walikota untuk penyediaan lahan baru dari Pemerintah Daerah.

“Nantinya akan dibuat MoU dengan Pemerintah Aceh,” ujar Hermanto didampingi Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Hanggoro Budi Wiryawan.

Seusai mendengar presentasi tersebut, Kepala Bappeda Aceh Abubakar Karim mengatakan selama ini Pemerintah Pusat tidak pernah berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh terkait pembangunan proyek kereta api.

“Kami tidak tahu berapa besar dana (APBN) yang dialokasikan, berapa yang sudah dikerjakan. Ke depan harus konkrit kapan proyek ini selesai, jadi tidak cukup dengan pertemuan hari ini, perlu duduk lagi dengan kami di Banda Aceh sehingga MoU kita lakukan setelah kita bahas detil,” katanya.

Sementara Gubernur Zaini Abdullah meminta Pemerintah Pusat serius membangun proyek kereta api Aceh-Sumatera Utara. “Kalau namanya percepatan harus betul-betul percepatan. Bukan hanya tertulis di kertas, tapi di lapangan tidak demikian,” ujar Zaini.

Ia menilai pembangunan rel kereta api Bireuen-Lhokseumawe telah memakan waktu sangat lama. Dikerjakan sejak tahun 2008 hingga saat ini belum tuntas semuanya.

“Kalau Pemerintah Pusat ingin membangun kereta api di Aceh, jangan main-main, harus fokus. Kita lihat rel kereta api berada di tengah pemukiman masyarakat. Jadi dari segi manfaat dibandingkan jumlah dana yang dihabiskan juga harus kita pikirkan. Kita harus duduk lagi dengan Menhub sebelum membikin MoU ini,” ujar Gubernur Zaini.

Dicegat wartawan seusai pertemuan tersebut, Guberur Zaini mengatakan, Jalur yang sudah dibangun ini bisa membahayakan masyarakat karena rel kereta api berada di tengah pemukiman penduduk”.

Ia menilai proyek kereta api yang sudah dikerjakan terkesan mubazir lantaran terlatar. “Kita ingin yang baik dan bermanfaat, jangan ada pemborosan anggaran,” kata Zaini Abdullah lagi.

Rombongan Gubernur Zaini kemudian menumpang kereta api dari Stasiun Bungkah ke Stasiun Krueng Geukuh. Dari Krueng Geukuh rombongan kembali ke Banda Aceh.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply