Grace Ingrid, Marcom Baru Hotel Hermes: Aceh Tak Seperti yang Diberitakan

DI tengah besarnya keinginan masyarakat untuk berkarir di Ibu kota, bahkan luar negeri, wanita berparas cantik ini justru meninggalkan pekerjaannya di Jakarta untuk berkiprah di Bumi Iskandar Muda. Dia adalah Grace Ingrid Hairyansyah, Marketing Communication (Marcom) Hermes Palace Hotel, hotel terbesar di Aceh.

Karir Ingrid di Hermes Palace terbilang baru. Ia belum genap sepekan bertugas sebagai Marcom baru Hermes. “Tapi saya langsung merasa kerasan di sini,” katanya saat bincang-bincang dengan The Atjeh Post, Sabtu 2 Juni 2012. Ingrid juga menyadari bila Aceh memiliki kekhususan di penegakan syariat Islam. “Saya pahami, ini kekhususan Aceh dan tentu harus dihormati,” kata Ingrid.

Lahir di Makassar, 9 Oktober 1977 silam, ini adalah kali pertama Ingrid ke Aceh. Sebelumnya, wanita yang masih berstatus lajang ini berdomisili di Pancoran Barat, Jakarta Selatan dan bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif PT Hamu Invst. Corp di Jakarta sejak 2010. Jauh sebelum itu, Ingrid juga sempat berkarir di sejumlah maskapai nasional dan Internasional.

Awal karirnya dimulai dari sebagai Cabin Crew PT Sempati Air pada 1997. Untuk mendapatkan pekerjaan itu, Ingrid harus bersaing dengan 600 orang, sebab Simpati Air kala itu hanya membutuhkan 22 karyawan. Tapi di sini, karir Ingrid tak berlangsung lama.

Dia kemudian hijrah ke PT AWAIR International pada 1999. Di perusahaan milik mantan Persiden Indonesia Abdurahman Wahid atau Gus Dur ini, Ingrid bekerja sebagai Flight Attendant hingga 2002.

Tiga tahun di sana, Ingrid akhirnya kembali memutuskan untuk menerima tawaran baru untuk profesi yang sama. Hanya saja, kali ini datangnya dari maskapai Internasional, Qatar Airways. Peluang ini tak disia-siakan. Ingrid bertahan di sana hingga 2004 lalu.

Belakangan ia ikut mengelola hotel milik salah satu komisaris Group Jawa Pos. Meski telah malang melintang di level nasional dan internasional, tak membuat wanita lulusan Universitas Sahid, Jakarta ini menafikan peluang yang ada di Aceh.

Bagi dia, kesempatan itu datangnya hanya sekali, maka itu harus dimanfaatkan. Apalagi, Ingrid menilai Aceh tak seperti yang selama ini diberitakan. Informasi yang berkembang memang cenderung mengambil sisi keamanan Aceh sehingga tercitra kurang kondusif. Tapi Ingrid meanggap berita itu terlalu dibesar-besarkan. “Berdirinya hotel bintang empat seperti Hermes Palace merupakan bukti pemerintah setempat menyambut baik bisnis ini,” katanya.

Ingrid juga patut bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukungnya untuk berkarir hingga keluar negeri. Dukungan ini pula yang didapatnya saat memutuskan untuk berkiprah di Bumi Serambi Mekkah. “Alhamdulillah, keluarga selalu mendukung yang terbaik menurut aku,” kata Inggrid yang mengaku mengikat hubungan dengan seorang pria ini. []

  • Uncategorized

Leave a Reply