Geuchik Cot Kupok : Polisi Temukan Sekarung Peluru di Kandang Ayam Rumah Teungku Agam

Geuchik Cot Kupok : Polisi Temukan Sekarung Peluru di Kandang Ayam Rumah Teungku Agam

 LHOKSUKON – Tarmizi, Geusyik Cot Kupok, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara kepada portalsatu.com, Minggu 12 April 2015 menyebutkan, tadi malam, Sabtu 11 April 2015 sekitar pukul 23.00 WIB, pihak Polres Lhokseumawe datang untuk melakukan penggeledahan rumah Muhammad Abidin alias Teungku Agam bin Muhammad Hanafiah.

Dikatakan, sebelum penggeledahan dilakukan, pihak kepolisian tersebut terlebih dahulu menunjukan surat perintah penggeledahan dari Polres Lhokseumawe. Mereka (polisi-red) datang menggunakan mobil Inova. Tiga personel turun ke dalam rumah, sedangkan beberapa lainnya tetap di dalam mobil.

“Polisi datang sesaat setelah saya komunikasi dengan portalsatu.com semalam. Saat polisi tiba, saya sedang menghadiri sebuah acara. Saya dipanggil warga untuk pulang ke desa karena dikatakan ada polisi yang menunggu,” ujarnya.

Ditambahkan, saat penggeledahan dilakukan, polisi menemukan sebuah karung berisi peluru yang ditanam di dalam tanah. Karung itu disembunyikan di kandang ayam belakang rumah Teungku Agam. Di atas tanah tempat peluru ditanam ditaruh karung dedak (pakan) ternak.

“Saya lihat pelurunya panjang-panjang, tidak tahu jenis apa. Saya juga tidak tahu jumlah persisnya, yang jelas lumayan banyak. Saat polisi datang, istri Teungku Agam pergi dari rumah karena takut. Setelah polisi pulang ia baru kembali ke rumah, itu pun seperti orang linglung dan ketakutan,” kata geusyik.

Saat kembali ke rumah, Islamiah, istri Teungku Agam sempat merepet, dia katakan, andai tahu bahwa seperti ini pekerjaan suaminya, sudah pasti dulu ia tidak mau menikah dengannya (Teungku Agam-red).

“Saya tidak menyangka karena sehari-hari dia tidak pernah komunikasi dengan masyarakat. Lagi pula dia pendatang, jadi kami tidak begitu peduli dengan urusannya,” katanya lagi.

Selain itu, polisi juga sempat menemukan baju kaos loreng dan baju kaos hitam lengan panjang di dalam rumah Teungku Agam.

“Sekarang kami paham mengapa dia tidak bermasyarakat, ternyata ini sebabnya. Kami harap permasalahan ini tidak mencoreng nama desa kami. Karena dia memang pendatang dan kami memang tidak tahu apa pekerjaannya. Ini pun tidak ada sangkut paut dengan warga lainnya,” kata Tarmizi. [] (mal)

Leave a Reply