Gerombolan Gajah Rusakkan Kebun Warga Peunaron

SEGEROMBOLAN gajah merusak kebun kakao, sawit, termasuk padi milik petani di sejumlah gampong dalam Kecamatan Ranto Peureulak, Penaron, dan Serba Jadi, bahkan gubuk dikebun juga ikut dirubuhkan hewan berbadan tambun ini. Aksi gajah pada malam hari yang mengobrak-abrik tanaman sudah sangat meresahkan warga.

Petani Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Zakaria kemarin kepada Serambi memperlihatkan kebun kakao dan gubuk miliknya di kebun itu yang sudah roboh dirusakkan gerombolan gajah yang diperkirakan terjadi, Selasa (28/10) malam.

“Lihat semua tanaman sawit, kakao, bahkan gubuk telah dirubuhkan gajah liar tadi malam. Tidak ada lagi harapan kami petani ini, kami terancam miskin dan gagal menyekolahkan anak-anak. Harapan satu-satunya yang kami andalkan dari hasil pertanian ini, tapi semuanya sudah musnah,” kata Zakaria.

Menurut Zakaria setiap malam kawasan perkebunan di Gampong Seumanah Jaya diobrak-abrik gerombolan gajah. Semua tanaman, seperti sawit, kelapa, kakao, padi ditumbangi hewan ini kemudian dimakan. Padahal sebagian tanaman itu ikut dijaga pemiliknya pada malam hari, namun hewan ini tak menggubrisnya.  

Zakaria memperkirakan gerombolan gajah itu datang dari perkebunan salah satu perusahaan yang kini sudah menjadi hutan, sehingga gajah bersarang di perkebunan tersebut. Lahan perkebunan itu berbatasan langsung dengan perkebunan warga yang kini menjadi sasaran gerombolan gajah. Hal sama diakui oleh beberapa warga lainnya.

Camat Ranto Peureulak, Syamsul SH mengakui persoalan gangguan gajah itu sangat mengganggu peningkatan perekonomian masyarakat. Karena itu, ia berharap masyarakat bersabar. Pasalnya, membutuhkan anggaran yang banyak untuk pembangunan tempat penangkaran dan pelatihan gajah. Begitu pun, kata Camat pihaknya sedang menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan tempat penangkaran dan pelatihan gajah di Gampong Kuala Panggoh, Kecamatan Serba Jadi.

“Nantinya tempat ini juga bisa menjadi taman wisata sehingga menjadi sumber serta menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli daerah (PAD) Aceh Timur,” kata Camat ketika dikonfirmasi Serambi kemarin. Sedangkan untuk penanganan dalam waktu sekarang ini, Camat berharap semua pihak, terutama Pemkab Aceh Timur dan BPN memberi perhatian serius terhadap Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan perkebunan yang kini lokasi itu menjadi sarang gajah sehingga mengganggu perkebunan warga lainnya yang berbatasan dengan perkebunan perusahaan tersebut. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply