Geotermal untuk Listrik Aceh

1.115 megawatt. Itulah potensi energi panas bumi yang terkandung di dalam perut bumi Aceh. Kandungan itu tersebar di 17 kawasan, di antaranya Sabang, Aceh Besar, Gayo Lues, Pidie, hingga Aceh Timur.

Potensi itu memang masih hitungan kasar, baru hitung-hitungan di atas kertas. Namun, langkah telah dimulai Pemerintah Aceh. Di Sabang, eksploitasi panas bumi di Jaboi dimulai 2013. Di kawasan itu, menurut data Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, terkandung cadangan energi panas bumi sebesar 50 megawatt. Jika berhasil diolah, energi panas bumi itu bisa diandalkan untuk menyuplai listrik di Sabang.

Selama ini, Sabang mengandalkan listrik dari pembangkit bertenaga diesel di Gampong Cot Abeuk, Kecamatan Sukajaya. Itu pun sering byar pet. Jika Jaboi berhasil, tinggal menyisir dua kawasan lagi di pulau itu yang juga memiliki potensi energi serupa: Iboih dan Pria Laot.

Aliran panas bumi, usai diolah secara umum, memang bermuara ke listrik. Tak hanya itu, geotermal juga dapat dimanfaatkan untuk pengeringan hasil pertanian, pemandian air panas, atau objek wisata, dan sebagainya.

Sementara di Aceh Besar, potensi kandungan terbesar ada di Seulawah Agam. Jumlahnya 165 megawatt. Saat ini, proses eksplorasi geotermal Seulawah masih dalam tahap pelelangan.

Menurut informasi, ada tiga perusahaan besar yang ikut tender: PT Pertamina, PT Chevron Pacific Indonesia, dan PT Toba Sejahtera Indonesia. Belum jelas kapan pengumuman pemenang tender itu dilakukan. Jika ini berhasil, setidaknya ada harapan kebutuhan listrik untuk Banda Aceh dan Aceh Besar bisa tercapai.

PLN Aceh selama ini mengambil hingga 70 persen pasokan listrik dari Sumatera Utara. Jumlah itu sekitar 76 megawatt dari total kebutuhan 300 megawatt. Andaikata seluruh potensi geotermal di Aceh dimanfaatkan, seperti diprediksi Dinas Pertambangan Aceh, pada 2017 Aceh bisa surplus listrik. Ketergantungan dari Medan bisa dipangkas total.

Walaupun stok dari Medan tak pernah kurang, harus diakui pembangkit listrik bertenaga diesel di Lueng Bata kini mulai kepayahan menampung beban kebutuhan listrik Aceh. Belum lagi kalau terjadi tumbang tower SUTET akibat pohon yang rebah. Kondisi ini beberapa kali terjadi dan berefek ke pemadaman bergilir.

Listrik juga menjadi faktor utama kemajuan ekonomi. Sektor industri di Banda Aceh bakal bergerak pelan jika listrik hidup-mati. Tentu tak elok melihat Banda Aceh, sebagai ibu kota provinsi, memiliki arus listrik yang terengah-engah.

Lalu, melihat besaran energi panas bumi yang terkandung, bukan omong kosong bila nantinya Aceh akan menjadi daerah kaya listrik sekaligus pemasok bagi daerah lain. Mungkin, inilah saatnya Aceh berhenti bergantung energi pada daerah lain.

Jika panas bumi itu diolah swasta, Pemerintah Aceh juga tak boleh serampangan menerima investor. Pengolahan panas bumi benar-benar harus bisa menjawab kebutuhan listrik di Aceh.

Satu sisi, pembangkit listrik tenaga diesel bukan lagi jawaban untuk menjawab kebutuhan listrik yang bertambah. Walaupun ini jenis pembangkit yang paling mudah dibangun, harga bahan bakar dunia dari hari ke hari malah melonjak. PLN pun kerap merugi ketika harus merogoh kocek terlalu dalam saat membeli BBM. Maka, ketika ada alternatif energi terbarukan seperti ini, mengapa harus tetap mengandalkan yang lama?[]

  • Uncategorized

Leave a Reply