Gayo Longsor, Meulaboh Banjir

HUJAN deras sejak Rabu (29/10) malam hingga Kamis kemarin menyebabkan tanah labil sehingga sejumlah ruas jalan di Dataran Tinggi Gayo, tepatnya di Kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah, tertimbun tanah longsor. Sementara itu, ratusan murid SD dan SMP di Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, kemarin tak bisa belajar karena sekolah mereka direndam banjir setinggi 50 centimeter.

Longsor di Gayo hingga tadi malam mencapai 14 titik di sepanjang ruas jalan Takengon-Bireuen, dalam kawasan Kampung Merie Satu, Kecamatan Weh Pesam, Bener Meriah yang terjadi sejak Rabu malam.

Bukan cuma ruas jalan nasional Takengon-Bireuen itu yang dilanda longsor, tapi juga sejumlah ruas jalan menuju beberapa kecamatan maupun kampung di Kabupaten Aceh Tengah. Bahkan sebagiannya terputus dan tak bisa dilalui kendaraan, sehingga mengganggu aktivitas warga.

Di antara 14 titik longsoran tersebut, enam titik terbilang cukup parah, sehingga kendaraan yang melintas harus antre beberapa saat. Awalnya hanya di 12 titik terjadi longsor. Tapi karena tadi malam hujan masih mengguyur, sehingga longsor bertambah dua titik lagi di Kecamatan Wih Pesam. Salah satu titik panjangnya sekitar 10 meter dengan ketinggian material longsor di badan jalan mencapai empat meter.

Dilaporkan juga, sebuah sepeda motor tertimbun di lokasi longsor terbaru tadi malam, namun pengendaranya sempat menyelamatkan diri. Sepeda motornya pun sudah berhasil dievakuasi dari lokasi bencana.

Siangnya, tiga unit alat berat dari PPK 5 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Aceh, sudah diturunkan untuk membersihkan tumpukan material yang menimbun ruas jalan Takengon-Bireuen tersebut.

Sejak pukul 23.00 Rabu malam hingga pukul 05.30 WIB Kamis pagi sejumlah staf PPK 5 bekerja mengeruk material longsor di sepanjang ruas jalan itu. Tapi kemarin pagi sekitar pukul 09.00 WIB, terjadi lagi longsor, sehingga pekerjaan harus dilanjutkan. “Bila tidak dikerjakan, orang nggak bisa lewat,” kata Misbah, staf PPK 5 yang dijumpai Serambi di lokasi kejadian.

Menurutnya, enam titik di sepanjang jalan nasional Bireuen-Takengon yang menghubungkan Takengon dengan Kabupaten Bener Meriah itu longsornya tergolong paling parah, sehingga akses jalan sempat terputus beberapa jam. “Tapi untuk saat ini, jalan sudah bisa dilalui, hanya tinggal pembersihan saja. Mungkin dalam beberapa hari ke depan sudah bisa diselesaikan. Yang paling penting, tidak lagi mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.

Longsoran di sepanjang ruas jalan Takengon-Bireuen itu, kata Misbah, terjadi lantaran guyuran hujan sejak beberapa hari terakhir masih terus berlangsung di daerah itu. Bahkan, akibat tanah longsor, satu rumah warga yang berada di sisi jalan kawasan Kampung Merie Satu, milik Nur Laila, rusak bagian depannya dihantam tanah longsor. “Cuma tidak ada korban jiwa. Pas saat kejadian hanya seorang saja yang tinggal di rumah itu,” ungkap Misbah.

Amatan Serambi, sepanjang ruas jalan Takengon-Bireuen, khususnya dari Takengon menuju Bener Meriah, merupakan kawasan rawan tanah longsor pada musim hujan. Hal itu disebabkan struktur tanah tebing di pinggir jalan, masih sangat labil.

Selama proses pengerukan material longsor berlangsung, ratusan kendaraan antrean dari arah Takengon menuju Bener Meriah, demikian pula sebaliknya.    

Terlihat di lokasi, selain sejumlah alat berat serta dumptruck diterjunkan ke titik longsor, sejumlah personel Polres Bener Meriah dan anggota Kodim 0106/Aceh Tengah-Bener Meriah ikut membantu proses pengerukan.

Pihak keamanan ini ikut membantu mengatur kendaraan yang melintas di jalur tersebut. Bahkan, Dandim 0106/Aceh Tengah-Bener Meriah, Letkol Inf Lalu Habiburrahim serta Wakapolres Bener Meriah, Kompol Basri ikut terjun ke lokasi kejadian.  

Sementara itu, ratusan murid SD Negeri Alue Meuganda, Gampong Baro KB dan pelajar SMP Negeri 3 Woyla Timur, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, sepanjang Kamis kemarin tak bisa sekolah seperti biasanya karena ruang kelas mereka terendam banjir setinggi 50 centimeter.

Banjir yang terjadi akibat luapan Krueng Bhee itu juga menyebabkan aktivitas masyarakat di sejumlah desa dalam Kecamatan Woyla Timur juga ikut terganggu. Pasalnya, luapan air yang merendam badan jalan dan permukiman warga menyebabkan sepeda motor yang sehari-hari digunakan warga tak bisa difungsikan karena tingginya luapan air.

“Banjir yang terjadi ini akibat guyuran hujan yang terus terjadi sejak beberapa hari terakhir. Musibah seperti ini sudah sering dirasakan masyarakat,” kata M Nasir, mantan mukim Krueng Bhee, Kecamatan Woyla Timur yang menghubungi Serambi via telepon, Kamis siang.

Menurutnya, banjir yang melanda dua desa itu juga menyebabkan masyarakat tak bisa turun ke sawah akibat luapan air sungai turut merendam tanaman di perkebunan warga.

M Nasir mengakui, meski puluhgan rumah warga dan lembaga pendidikan di wilayah ini sudah terendam air, namun masyarakat belum mengungsi karena masih menunggu perkembangan selanjutnya. Namun, ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan guna mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda wilayah pedalaman tersebut. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply