Gas sisa Exxon untuk dapur rakyat

WAJAH Suaidi Yahya berhias senyum. Wali Kota Lhokseumawe ini  tampak bahagia. “Ada kabar baik untuk masyarakat kita, Lhokseumawe akan jadi kota gas. Kali ini benar-benar kota gas, gas bumi mengalir ke rumah warga,” kata Suaidi.

Kabar hangat itu, kata Suaidi, hasil pertemuan dirinya dengan pejabat Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Senin pekan lalu. “Tahap pertama untuk 4.000 rumah tangga, kita prioritaskan rumah-rumah warga di Kecamatan Muara Satu dan Muara Dua karena dekat dengan sumur gas maupun pipa gas ExxonMobil,” kata Suaidi kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Proses pembangunan jaringan distribusi gas (Jargas) ke rumah warga, kata Suaidi Yahya, akan dimulai tahun ini. Kata dia, Pemerintah Pusat siap  menggelontorkan dana sekitar Rp60 miliar untuk infrastruktur tersebut.

“Kita hanya diminta mencari lahan untuk lokasi semacam terminal gas mini, biaya ganti rugi ditanggung Pemerintah Pusat. Dari terminal mini yang tersambung dengan jaringan transmisi gas ExxonMobil itu, nantinya akan didistribusikan gas ke rumah-rumah warga,” kata Suaidi.

Manfaat dari program tersebut, Suaidi melanjutkan, masyarakat menghemat biaya 30 hingga 50 persen dibandingkan pemakaian gas tabung. Sebab, harga gas bumi yang disuplai ke kompor warga disubsidi oleh pemerintah.

Distribusi gas itu, kata Sekretaris Daerah Lhokseumawe Dasni Yuzar, akan dikelola Pemerintah Lhokseumawe melalui Perusahaan Daerah Pembangunan Lhokseumawe (PDPL). Selain rumah tangga, kata Dasni, gas itu juga menguntungkan masyarakat yang mengembangkan industri kecil.

“Jaringan gas didanai oleh pemerintah karena infrastrukturnya mahal dan harga gas diatur oleh BPH Migas,” kata Ibrahim Hasyim, anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Begitulah konsep kota gas. Ketika Lhokseumawe masa silam dikenal sebagai kota gas lantaran Aceh Utara sebagai daerah penghasil gas bumi terbesar, kata Suaidi, tak lama lagi giliran rakyat akan menikmati gas tersebut walau hanya èk minyeuk (sisa dalam jumlah sangat kecil).

***

Selepas mengikuti pertemuan di Jakarta, Senin pekan lalu, Wali Kota Suaidi, Sekda Dasni Yuzar, dan Direktur Utama PDPL Abubakar A. Latif, diajak oleh pejabat Kementerian ESDM ke Bekasi melihat distribusi gas untuk rumah tangga.

“Kita dibawa ke rumah warga yang sudah tersambung jaringan gas. Di sana diperlihatkan cara pemakaian, Pak Wali (Suaidi Yahya) sempat mencoba menghidupkan kompor yang dialiri gas itu,” kata Dasni Yuzar, Jumat pekan lalu.

Sebelum melihat langsung pemakaian gas di dapur rumah warga Bekasi, Dasni sempat khawatir dengan rencana program Jargas yang akan dibangun di Lhokseumawe. “Awalnya yang kita bayangkan, kalau gas dialiri ke rumah-rumah warga sebagai kota gas, jika terjadi kebocoran akan meledak seisi kota. Siapa yang tidak takut ya kan,” kata Dasni terkekeh.

Ketakutan berubah menjadi tertarik ketika Dasni memperoleh penjelasan dari tenaga teknis sekaligus melihat sistem operasi Jargas. “Sangat safety, cara kerjanya hampir sama seperti pemakaian listrik. Kalau di suatu tempat ada kebocoran, petugas teknis langsung turun tangan, persis seperti listrik padam karena gangguan, ada petugas yang menangani,” katanya.

Lantaran program itu dinilai menguntungkan, Suaidi mengutus Dasni memperkuat lobi dengan Jakarta. Dalam pertemuan lanjutan di Kementerian ESDM, Jumat pekan lalu, dibahas alokasi gas dari ExxonMobil.

Namun, pertemuan itu belum menghasilkan keputusan. Sebab, kata Dasni, pada saat bersamaan perwakilan ExxonMobil sedang fokus membahas alokasi gas untuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). “Pertemuan akan dilanjutkan minggu pertama Maret 2013,” kata Dasni.

Yang jelas, kata Dasni, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Umi Asngadah ketika memimpin pertemuan itu memberi lampu hijau agar Exxon menyiapkan gas 0,5 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Day/Juta Standar Metrik Kaki Kubik per Hari) untuk kebutuhan rumah tangga di Lhokseumawe.

Public and Government Affairs ExxonMobil Jeffrey Haribowo mengatakan belum memperoleh informasi terkait hal itu. “Saya akan kabarkan setelah mengecek informasi ini ke manajemen,” kata Jeffrey lewat telepon selular, Jumat sore pekan lalu.

“Exxon wajib mendukung program ini untuk kepentingan masyarakat. Kalau bukan sekarang, kapan lagi masyarakat lingkungan kebagian manfaat dari gas Exxon. Lagi pula kebutuhan gas untuk rumah tangga tidak banyak,” kata  Syahrul Amani, anggota DPRK Lhokseumawe.

***

Kementerian ESDM merilis pernyataan bahwa pembangunan jaringan distribusi gas untuk rumah tangga merupakan salah satu program prioritas nasional untuk diversifikasi energi, pengurangan subsidi, penyediaan energi bersih dan murah. Ini juga program komplementer konversi minyak tanah ke LPG untuk percepatan pengurangan penggunaan minyak bumi. Pemanfaatan gas bumi guna mengurangi pemanfaatan minyak bumi berdampak langsung terhadap besaran subsidi.

Program Jargas ini sudah berjalan sejak 2009. Berdasarkan roadmap menurut Kementerian ESDM, hingga 2014 akan dibangun Jargas untuk rumah tangga di 22 kota yang dekat dengan sumber gas bumi dan memiliki jaringan transmisi gas bumi, salah satunya Lhokseumawe.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Umi Asngadah mengatakan, sejak 2009 hingga 2012, pemerintah telah membangun Jargas untuk 57 ribu rumah tangga di 13 kota.

***

Ibu rumah tangga di  Gampong Blang Panyang, Muara Satu, Lhokseumawe Yanti, mendukung rencana pemerintah mengaliri gas ke dapur warga. “Tapi harus tepat sasaran, utamakan masyarakat kecil dulu,” kata perempuan 31 tahun ini yang rumahnya tidak jauh dari kompleks Kilang LNG Arun.
Kata Yanti, selama ini Lhokseumawe hanya sebatas nama kota gas. Yanti menanti bukti gas mengalir ke dapur rumahnya.[] IRMAN I.P. | ZULFIKAR HUSEIN

  • Uncategorized

Leave a Reply