Gagal Sejahtera, Salah Siapa?

Gagal Sejahtera, Salah Siapa?

KEMARIN belasan anggota KPA melakukan aksi duduk dipintu masuk meuligoe gubernur. Mereka kabarnya ingin menyampaikan sejumlah persoalan. Persoalan utama adalah kesejahteraan.

Karena mereka mantan GAM yang bergabung dalam KPA maka mereka bicara kesejahteraan mereka. Mereka seperti kehilangan urat malu. Melakukan hal tak lazim. Tapi ini harus dilihat bahwa mereka sudah frustasi. Sehingga memilih jalan yang sedikit melenceng.

Persoalan mereka tidak sejahtera memang bukan sepenuhnya tanggung jawab gubernur. Upaya sendiri amat menentukan. Selentingan kabar bahwa mereka yang kemarin unjukrasa adalah “ureueng ureung sot”. Namun bahwa 10 tahun damai mimpi sejahtera sepertinya makin jauh. Dalam kasus ini bukan unjuk rasa belasan mantan GAM itu.

Yang paling menghenyakkan kita adalah komentar Juru Bicara KPA Mukhlis Abee. Komentar ini amat mengejutkan. Pasalnya kita tahu bahwa pasangan pemerintah sekarang diusung PA alias KPA. Jadi bila dia berani bicara sekeras itu harus dilihat secara lebih dalam. Sepertinya mereka telah berbeda jalan. Jelas sekali kekecewaan mereka memuncak. Ini harus dilihat sebagai kekacauan politik.

Gubernur kehilangan dukungan. Kehilangan legalitas politik. Ini akan makin berat mencapai visi misi. Kenapa ini bisa terjadi. Salah siapa?

Kasus ini menjadi penerang bahwa sesuatu telah terjadi di rejim ini. Pernyataan Mukhlis Abee bentuk keputusasaan. Ini amat aneh karena antara KPA dengan gubernur bagian yang tidak terpisah. Gubernur adalah petinggi GAM, sementara KPA adalah mantan petempur GAM. Kenapa kekuasaan saat ini malah merusak hubungan keduanya.

Apa benar gubernur tidak lagi mendengar pendukungnya? Pernyataan Jubir KPA seperti dapat pembenaran bila menilik dari orang orang dekat gubernur saat ini. Sebagian tim asistensi dan staf khusus gubernur adalah lawan dalam Pilkada lalu. Sejumlah pentolan GAM terpental dari kursi empuk ini. Ini contoh bahwa KPA kehilangan otoritas atas pemerintah ini.

Kita tidak tahu mengapa ini terjadi. Kita tidak tahu siapa yang lari dari barisan. Sehingga ini semua terjadi. Semoga momentum ini mereka introspeksi diri. Rakyat sudah menitipkan kepercayaan kepada PA dan Zikir. Bila keduanya sudah tidak sinergis maka harapan kesejahteraan menjadi mimpi belaka.

Kejadian kemarin dan pernyataan Jubir KPA harus menjadi momentum untuk memperbaiki. Gubernur harus segera mengambil langkah langkah konkrit untuk memperbaiki keadaan.

Tugas pemerintah adalah menyediakan sarana pencapaian kesejahteraan. Anggaran yang ada harus lebih diprioritas kepada program yang bisa menciptakan lapangan kerja permanen. Karena sulit mencari swasta yang mau masuk ke Aceh maka tugas pemerintah lah menjadi investor.

Pemerintah harus keluar dari pola anggaran saat ini yang jelas tidak mendatangkan kesejahteraan. Seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi bila mantan kombatan “meupat breuh.”

Bukan memberi mereka makan tapi memberi mereka jalan. Gubernur punya banyak pembantu di luar SKPA. Ada staf ahli, ada tim asistensi dan staf khusus. Apakah selama ini mereka sudah bekerja membantu gubernur? Atau cuma cari legalitas?

Mereka digaji dengan uang rakyat untuk membantu gubernur. Bila semua persoalan harus diselesaikan sendiri oleh gubernur untuk apa juga mereka. Kasihan sekali gubernur harus menguras tenaga dan pikiran sampai harus memberi makan orang perorang.

Seharusnya gubernur hanya mengatur policy atau arah yang ingin di capai. Tugas pembantunya termasuk SKPA menejemahkan, menerapkan, mengevaluasi sampai tujuan tercapai.

Mereka harus tau dan sadar mereka ditempatkan dijabatan jabatan itu untuk menyelesaikan pekerjaan gubernur dalam bentuk operasional. Jadi kejadian kemarin bukti pemerintah ini sedang terserang “autisme” massal. Artinya semua sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Lupa lingkungan dan keadaan diluar pikirannya. Kejadian kemarin dan pernyataan Jubir KPA harus menjadi tamparan bagi segenap pembantu gubernur. Tamparan agar mereka bangun tidur dan sembuh dari autisme.

Kasus kemarin jangan dilihat secara parsial. Ini puncak gunung es. Pernyataan jubir KPA jangan ditanggapi sebagai pernyataan permusuhan. Tapi itu autokritik. Kita ingin para pembantu gubernur mulai hari ini menganalisa dan menyarakankan jalan keluar. Bukan malah menghasut permusuhan yang lebih lebar.

Karena menilik kebelakang di sekeliling gubernur banyak para pembusuk. Bisa jadi ini agenda yang sudah disusun dengan rapi menjauhkan gubernur dari konstituennya. Agar pada pemilu kedepan partai pendukungnya dibenci rakyat. Ini politik semua bisa terjadi. Ada banyak hal yang melenceng dari cita cita awal rejim ini. Ingat amanah rakyat. Ingat perjuangan. Mereka yang di sekeliling bukan kawan seiring sebelum menang jadi hati-hatilah.

Leave a Reply