Farid Wajdi: Sejahtera Pascadamai, Itu Milik Bersama!

REKTOR Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi MA, menegaskan bahwa kesejahteraan pasca perdamaian di Aceh tidak boleh dinikmati oleh segelintir orang, tidak boleh parsial, dan tidak boleh hanya untuk wilayah-wilayah tertentu saja.

"Membangun Aceh harus menyeluruh tidak boleh sepetak-sepetak, wilayah ini dan itu saja yang maju dari dulu, kesejahteraan di Aceh milik bersama dari Sabang sampai Simeulue," katanya yang dihubungi Serambinews.com Jumat (15/8/2014) malam di sela-sela memimpin rapat evaluasi internal penerimaan mahasiswa baru dan kesiapan testing penerimaan mahasiswa dari Malaysia yang akan belajar di kampus tersebut.

Farid Wajdi juga mengatakan, Memorandum of Understanding(MoU) yang ditandatangani di Helsinki 15 Agustus 2005 yang sudah memasuki usia 9 tahun seharusnya semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan sesama orang Aceh, bukannya menjadikan sesama Aceh saling bersilang pendapat dan bertengkar.

"Memang MoU telah menghentikan perang tetapi sebenarnya perdamaian bukan hanya antara para pihak, melainkan harus sesama orang Aceh. Ini yang lebih penting, sebab kenyataannya setelah damai orang Aceh malah terpecah-pecah, bertengkar sesama orang kampung sendiri, dan kita masih suka menyalahkan Jakarta. Jadi apa maunya kita kalau seperti ini?" katanya.

Orang nomor satu di UIN Ar-Raniry ini juga mengingatkan seluruh elemen masyarakat Aceh jangan sibuk dengan urusan simbol-simbol, seperti yang terjadi selama ini sibuk dengan bendera dan lambang Aceh, dan abai pada program kesejahteraan rakyat Aceh secara menyeluruh.

"Kita tidak boleh terus menerus menyalahkan Jakarta atas setiap permasalahan yang terjadi di Aceh. Kalau rakyat tidak sejahtera, itu kesalahan kita. Kewenangan saat ini justru ada di sini dan menjadi kewajiban pemimpin Aceh untuk mewujudkannya," tegas Farid Wajdi. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply