Empat prajurit Aljazair tewas dalam serangan bom

EMPAT prajurit Aljazair tewas dan tiga lain cedera ketika dua bom menghantam patroli mereka yang sedang lewat di daerah Tipaza, sebelah barat ibu kota negara itu, Aljir, kata media, Rabu, 17 Juli 2013.

Serangan Selasa itu tampaknya telah direncanakan sebelumnya dan waktunya bertepatan dengan kepulangan Presiden Abdelaziz Bouteflika dari Paris setelah hampir tiga bulan berada di rumah sakit di kota itu, lapor AFP.

Dalam insiden itu, bom-bom yang dipendam di bawah tanah meledak, menghantam patroli militer yang memasuki daerah hutan Damous dekat Tipaza, 70 kilometer dari Aljazair selama operasi rutin, kata laporan itu.

Serangan serupa di daerah tersebut pada April menewaskan tiga pengawal.

Aljazair mengalami penurunan kekerasan yang dituduhkan pada muslim garis keras bersenjata dalam beberapa tahun ini, namun kelompok-kelompok yang terkait dengan Al Qaida di Maghribi Islam beroperasi aktif di kawasan Kabylie, daerah-daerah dekat Aljir dan di wilayah selatan, biasanya sasaran serangannya pasukan keamanan.

Insiden paling mematikan terjadi pada Januari ketika 37 sandera asing dan Aljazair tewas selama bentrokan antara pasukan dan militan yang menguasai sebuah kompleks gas.

Krisis meletus ketika militan garis keras menyandera puluhan orang asing setelah serangan terhadap sebuah ladang gas di Aljazair timur.

Serangan itu dilakukan kelompok militan sebagai pembalasan atas serangan-serangan udara Prancis terhadap militan garis keras yang menguasai wilayah Mali utara.

Prancis, yang bekerja sama dengan militer Mali, pada 11 Januari meluncurkan operasi militer ketika militan mengancam maju ke ibu kota Mali, Bamako, setelah keraguan berbulan-bulan mengenai pasukan intervensi Afrika untuk membantu mengusir kelompok garis keras dari wilayah utara.

Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure.
Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer.

Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis, hingga diusir oleh pasukan intervensi Prancis dan Afrika.[] sumber : antaranews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply