Rupiah Anjlok, Petani Kopi Justru Raup Untung

TAKENGON – Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin mengatakan, kenaikan dolar saat ini membawa dampak positif bagi petani kopi wilayah tengah Aceh. Pasalnya, dengan kenaikan dolar maka harga kopi yang di ekspor pun semakin tinggi jika ditukar ke dalam rupiah.

“Beginilah kondisi ekonomi kita Indonesia. Dengan dolar naik, otomatis ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan. Tapi secara jujur kita tidak menginginkan rupiah terus anjlok, pasalnya banyak masyarakat Indonesia menjerit dengan kondisi itu,” kata Nasaruddin kepada wartawan saat ditemui di Hotel Bayu Hill usai pembukaan acara BKKBN, Kamis, 1 Oktober 2015.

Dia mengatakan harga kopi petani dibanderol di pasar international senilai 6,5 dolar per kilogram kopi. Jika dikalkulasikan nilai Rp 14 ribu per dolar, maka harga kopi menjadi Rp 91 ribu per kilogramnya.

Menurutnya dari hasil penjualan kopi itu petani kopi daerah Aceh Tengah telah berhasil mengumpulkan devisa Rp 2,5 hingga Rp 3 triliun per tahun. Angka ini jauh lebih besar dari APBK Aceh Tengah sehingga pembangunan wilayah tengah banyak dibantu oleh masyarakat.

Nasiruddin mengatakan kopi Arabika Gayo saat ini telah mendapat kuota ekspor sebanyak 30 ribu ton per tahun. Negara terbesar pemesan kopi Arabika adalah Amerika Serikat.

“Banyak sekali struktur dan insfrastruktur yang telah dibangun oleh masyarakat. Ini kita beri apresiasi untuk masyarakat Aceh Tengah,” ujarnya.

Selain kopi, katanya, Aceh Tengah juga mengekspor sayur mayur ke Malaysia, Sumatera Utara dan tentu juga dipergunakan bagi seluruh Aceh.

“Ekspor akan terus kita perluas agar petani sayur mayur juga lebih makmur,” katanya.[](bna)